Kamis, 13 Juni 2024

Film Lafran dan Air Mata Penonton di Palu

Film Lafran | Foto: ochan/kaidah

FILM LAFRAN. Seribuan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan masyarakat umum, memenuhi ruang tunggu Cinema XXI Palu Grand Mall Palu, pada Selasa, 4 Juni 2024 sore.

Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Rusdy Mastura dan sejumlah pejabat lainnya juga terlihat berbaur dengan para kader organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di Indonesia itu.

Ribuan orang itu berkumpul, karena menunggu dibuka pintunya studio XXI untuk menonton film biopik tentang perjuangan Lafran Pane, sang pendiri HMI.

Palu menjadi kota ke Sembilan special screening Film Lafran. Maka tidaklah heran, jika hari itu Cinema XXI Palu menjadi “milik HMI”, karena enam studio secara serentak memutar film tersebut.

Koordinator Presidium Majelis Nasional (MN) Korps Alumni HMI (KAHMI) Ahmad Doli Kurnia Tandjung yang hadir dalam special screening itu, mengajak semua pihak, khususnya kader HMI, agar menyukseskan film LAFRAN yang diproduksi oleh keluarga besar HMI, KAHMI.

“Film ini menggambarkan tentang proses lahirnya HMI,” kata Ketua Komisi II DPR itu.

Menurut Ahmad Doli Kurnia, jika tidak ada Lafran Pane (alm), mungkin tidak ada pertemuan seperti ini.

“Mungkin kita tidak pernah ketemu, tidak pernah kenal satu sama lain sebagai keluarga besar HMI dan KAHMI. Kita ada di sini, karena jasa almarhum Lafran Pane yang mendirikan HMI,” kata Ahmad Doli Kurnia.

Ketua Umum Majelis Wilayah KAHMI Sulteng, Andi Mulhanan Tombolotutu mengaku terharu, setelah menonton Film Lafran. Berkali-kali dia meneteskan air matanya.

“Tak bisa dihitung berapa kali saya menitikkan air mata. Saya berkali-kali menangis saat menonton Lafran. Saya mengimbau seluruh kader HMI agar menonton film itu,” katanya.

Menurutnya, Film Lafran ini dapat memberikan inspirasi kepada generasi muda, tentang bagaimana perjuangan ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an.

“Maka saya mengimbau generasi muda dan kader HMI, wajib menonton Film Lafran,” ucapnya.

Bukan hanya Mulhanan, ribuan kader HMI juga merasakan hal yang sama. Mereka terpaksa mengelap air mata dalam diam. Mereka larut dalam tayangan perjuangan Lafran Pane, yang ditayangkan di layar lebar XXI tersebut.

Ada yang mengaku menangis pada adegan Lafran Pane menyerahkan kepemimpin HMI kepada Achmad Tirtosudiro, dan Lafran sebagai pendiri hanya menjabat sebagai sekretaris.

Ada juga yang mengaku terharu dan meneteskan air mata, saat Lafran Pane hadir pada Kongres HMI. Panitia tidak mengenal Sang Pendiri HMI itu. Ia dipersilakan di luar dan tidak bisa masuk. Beruntung, ada panitia lainnya yang keluar dan mengenal Lafran sehingga dipersilakan masuk ke arena kongres.

Pengurus MW KAHMI Sulteng, Akhyar Mahmud mengatakan, ia akan nonton Kembali film Lafran, yang akan tayang secara resmi pada 20 Juni mendatang.

“Saya pasti nonton lagi. Apalagi kemarin saya tidak fokus menonton, karena harus keluar masuk mengurus acara pelantikan Pengurus MW KAHMI,” katanya.

Setelah menonton Lafran, Bendahara Umum MW KAHMI Sulteng Sudirman Zuhdi mengaku bangga menjadi kader HMI.

“Saya bangga berHMI. Militansi saya semakin bertambah setelah menonton Film Lafran,” katanya.

HMI lahir di Yogyakarta pada 5 Februari 1947. Lahirnya HMI diprakarsai oleh beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) yang saat ini menjadi Universitas Islam Indonesia. HMI tak bisa dilepaskan dari sosok Lafran Pane.

Saat mendirikan HMI, Lafran masih berusia 25 tahun dan dikenal sebagai mahasiswa yang kritis. Kala itu Lafran tercatat sebagai mahasiswa tingkat I (semester I) Fakultas Hukum Sekolah Tinggi Islam.

Ayahnya, Sutan Pengurabaan Pane adalah jurnalis, sastrawan, dan pendiri Muhamadiyah di Sipirok. Lafran Pane tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim yang terpelajar. Ia pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Ibtidaiyah, Wusta dan sekolah Muhammadiyah.

Lafran juga pernah hidup berpetualang di sepanjang jalanan Kota Medan dan bertahan hidup dengan menjual karcis bioskop hingga es lilin. Lafran mendirikan HMI bersama 14 orang mahasiswa STI lainnya tanpa campur tangan pihak luar.

Ia menggelar rapat tanpa undangan saat jam kuliah Tafsir di salah satu ruangan kuliah STI di Jalan Setyodiningratan 30 (sekarang Jalan Senopati) Yogyakarta. Lafran Pane masuk dalam ruangan dan langsung memimpin rapat.

“Hari ini adalah pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena persiapan yang diperlukan sudah beres. “Yang mau menerima HMI sajalah yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang, toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan,” kata Lafran saat itu. (*)

Editor: Ruslan Sangadji