Sabtu, 13 Juli 2024

Pilkada Serentak 2024: Identifikasi Pradini Serba Serbi Gimik yang Menyertainya (1)

M. Tavip | Foto: kaidah.id

M. Tavip Abdul Karim
Pakar Hukum Tata Negara Untad Palu

TIDAK jadi soal dari mana sumber-berasal getar ini, yang pasti getar ini bermetamorfosa menjadi gelombang menghasilkan beragam frekuensi, yang satu sama lainnya tidak saja sekadar terkoneksi, tapi juga beresonansi.

Inilah yang tengah terjadi di putaran sentrifugal arena pemilu serentak, tanpa kecuali di Sulawesi Tengah.

Dalam lingkar gerak berputar sentrifugal, tidak semua orang kuat menjalaninya. Minimal merasa pusing, mual, atau yang agak lebih parah, yaitu mengalami peristiwa muntah-muntah, pingsan dan tak sadarkan diri (hilang kesadaran, kecerdasan terhenti seketika pula).

Pemilu (kepala daerah serentak) secara anatomic, tersusun dalam titik-titik yang terkoneksi antara pemilih dan bakal calon akan yang dipilih. Hanya itu saja. Tetapi karena kepentingannya yang lebih kompleks, maka arena kontestasi itu harus ada tersedia (terfasilitasi) penyelenggaranya.

Inilah sistem inti dari konstruksi pemilu (termasuk pilkada serentak), Pemilih, pasangan bakal calon yang akan dipilih (acapkali berasal dari partai politik) dan penyelenggara pemilihan.

Di luar lingkaran sistem inti itu, dalam realitas ditemukan auxiliary instrument, yakni pengamat.

Hukum kekekalan abadi dalam pemilu, adalah terciptanya spaning dalam lingkaran memutar yang sentrifugal (dan bukan gerak lingkaran sentripetal), sehingga sistem inti dari piranti konstruksi pemilu hingga pada auxiliary instrumenpun, secara alami ikut terimbas mengalami pusing, mual, muntah-muntah, pingsan hingga tak sadarkan diri, lalu mengalami serangan henti cerdas.

Dalam identifikasi pradini serba-serbi gimik yang menyertai pilkada serentak 2024, saya tidak lagi bicara soal penyelenggaranya, karena salah satu penopang sub sistem penyelenggara, melalui ketua merangkap anggota telah membawa pada titik puncak kesempurnaan, yang mengonfirmasi bahwa serangan henti cerdas efektif telah bekerja dan menerpa, melalui diktum putusan DKPP.

Pindaian saya dalam tulisan bergerbong ini, tertuju pada “pemilih”, atau lebih teknis spesifik pada “pendukung”, atau setidaknya tidaknya juga memindai pengamat sebagai pendukung yang seringkali disebut sebagai tim penyukses.

Gerbong ini berhenti bergerak sejenak, karena energi pada lokomotif perlu langkah top up. (*)

Editor: Ruslan Sangadji