“Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang, serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. “ (QS. Fushshilat: 37)
PALU, KAIDAH.ID – Masyarakat Indonesia akan kembali menyaksikan fenomena gerhana bulan merah atau super blood moon pada Rabu 26 Mei 2021. Dalam syariat Islam, jumhur ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah mu’akkadah (sangat penting).
Shalat gerhana dalam Islam disebut dengan Shalat Khusuf. Shalat itu menjadi penting, karena merupakan tanda-tanda kebesar Allah, agar manusia dapat merenungkan kekuasaan Allah.
Allah telah mengatur peredaran matahari dan bulan itu. Dalam Al Qura Surah Ar Rahman ayat 5, Allah berfirman yang artinya: Matahari dan Bulan (beredar) menurut perhitungan.
Shalat Gerhana Bulan, bukan berarti kita menyembah bulan, tetapi yang disembah adalah Allah yang menciptakan bulan. “Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang, serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. “ (QS. Fushshilat: 37)
Shalat gerhana bulan itu dilaksanakan saat mulai terjadinya gerhana bulan hingga terbit kembali secara utuh. Bacaan dan tata cara Shalat Gerhana, ada di halaman berikut.
Berikut bacaan niat Shalat Gerhana Bulan: Jika menjadi imam, niatnya adalah: Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ. Dan jika shalat sendiri, niatnya adalah : Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.
Cara Shalat Gerhana Bulan sesuai kesepakatan ulama, sebanyak dua raka’at. Namun tata caranya masih ada perbedaan pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa Shalat Gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud.
Ulama yang lain berpendapat, Shalat Gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Urutan yang lengkap, silakan lihat di halaman selanjutnya.
Dari dua pendapat itu, mayoritas ulama lebih sepakat pada pendapat yang kedua. Singkatnya, tata cara Shalat Gerhana ini sama seperti shalat biasa dan bacaannya pun sama, dengan urutan berikut:
- Berniat di dalam hati;
- Takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa;
- Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih). Rasulullah bersabda yang diriwayatkan oleh Aisyah: “Nabi Saw. menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika salat gerhana.”(HR. ukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)
- Ruku’ yang lama
- Bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”
- Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama;
- Ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang tidak lama seperti ruku sebelumnya
- Bangkit dari ruku’ (i’tidal);
- Sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’
- Duduk di antara dua sujud
- Sujud kembali
- Bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama, hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
- Tasyahud
- Salam.
Setelah itu imam menyampaikan khutbah (jika shalat jamaah) yang berisi anjuran untuk memuji kebesaran Allah, berdzikir, berdoa, beristighfar dan bersedekah. (ochan)

Tinggalkan Balasan