Dari Bandara Haluoleo, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Lafeu di Kabupaten Bungku Pesisir. Jalur darat ini menantang: berliku di antara perbukitan dan hutan tropis selama enam jam. Namun setiap tikungan menghadirkan pemandangan baru — lembah hijau, ladang kelapa, dan semerbak laut asin yang semakin terasa di udara.

Sesampainya di pelabuhan, perjalanan masih harus diteruskan melalui laut. Satu jam berlayar dengan perahu nelayan membawa Anda pada pemandangan yang akan membuat siapa pun terdiam. Batu-batu karst menjulang dari laut, tebing-tebing tinggi tertutup pepohonan, dan air laut bergradasi dari hijau zamrud ke biru safir.

Bagi yang ingin datang dengan kapal cepat dari Kendari, perjalanan bisa ditempuh dalam empat hingga lima jam, cukup waktu untuk membiarkan semesta menyiapkan kejutan indahnya.

Raja Ampat di Sulawesi Tengah

Begitu menjejakkan kaki di Sombori, Anda seolah memasuki dunia lain. Gugusan pulau karangnya menyerupai lukisan — tenang, simetris, dan nyaris terlalu indah untuk nyata. Tak heran bila banyak yang menyebutnya sebagai “Raja Ampat-nya Sulawesi Tengah.”

Namun bagi masyarakat setempat, keindahan ini lebih dari sekadar panorama. Ia adalah rumah, sumber kehidupan, dan bagian dari identitas mereka.

Puncak Tebing Khayangan menjadi ikon yang wajib dikunjungi. Untuk mencapai puncak ini, wisatawan harus mendaki tebing batu granit dan karang yang curam. Tidak ada tanah datar, hanya dinding karang tajam dan pijakan kecil yang menuntut keberanian.

Namun begitu tiba di atas, semua rasa lelah sirna — di depan mata terbentang pemandangan yang sulit dilupakan: gugusan pulau kecil terapung di air sebening kaca, diwarnai semburat hijau dan biru laut yang berpadu sempurna.

Begitu berdiri di atas Puncak Khayangan, rasanya seperti berdiri di atap dunia. Tempat ini bukan hanya indah, tapi juga membuat hati tenang.

Menjelajahi Akuarium Raksasa

Bagi pecinta laut, Sombori adalah surga bawah air yang sesungguhnya. Di Pulau Dua Laut, terdapat spot menyelam yang dikenal sebagai Aquarium Point — dinamai demikian karena perairannya benar-benar menyerupai akuarium alami.

Dari permukaan saja, ikan-ikan kecil sudah tampak menari di antara karang warna-warni. Saat menyelam lebih dalam, Anda akan melihat koloni terumbu karang yang masih sehat, sponge berwarna ungu dan oranye, serta gerombolan ikan badut berlindung di balik anemon laut. Di tempat inilah, kehidupan bawah laut Sombori menampakkan wajah aslinya: tenang, jernih, dan memesona.

Jika ingin suasana lebih santai, Pulau Kokomenawarkan pantai berpasir putih yang sepi. Pohon kelapa melambai-lambai, dan suara ombak kecil berpadu dengan nyanyian burung laut. Airnya begitu jernih hingga dasar pasir terlihat jelas, lengkap dengan ikan-ikan mungil yang berlarian di sela bayangan perahu.

Bertemu Para Pelaut Bajo

Namun keindahan Sombori tidak hanya milik alamnya. Ada jiwa yang hidup di sini — Suku Bajo (Bajau) atau sering disebut Gipsi Laut Indonesia. Mereka hidup berpindah-pindah di atas laut, dengan rumah panggung berdiri di atas tiang-tiang kayu di perairan dangkal.

Anak-anak Bajo sudah pandai berenang bahkan sebelum mereka bisa berjalan. Dengan sepotong kaca di tangan sebagai kacamata sederhana, mereka menyelam mencari ikan atau kerang. Tak jarang wisatawan diajak menyelam bersama, belajar bagaimana mereka bertahan hidup di laut yang menjadi rumah sekaligus sahabat.

Laut bagi orang Bajo bukan sekadar tempat mencari makan, Laut adalah darah dan napas mereka.

Mimpi Baru dari Timur

Kini, kawasan konservasi perairan Sombori mulai dikenal luas. PT IMIP, pemerintah daerah bersama berbagai lembaga lingkungan bekerja menjaga keseimbangannya, agar keindahan ini tidak hanya jadi cerita masa lalu.

Dengan segala potensi dan pesonanya, Sombori digadang-gadang menjadi destinasi unggulan berikutnya setelah Raja Ampat. Namun di balik promosi dan potret pariwisata, tersimpan pesan penting: menjaga Sombori bukan hanya tugas pemerintah atau perusahaan, tapi tanggung jawab setiap pengunjung yang menjejakkan kaki di atas pasirnya.

Karena di tempat ini, keindahan bukan sekadar untuk dinikmati, tapi juga untuk dijaga — agar “sepotong surga yang jatuh di samudra Morowali” tetap hidup dan bernafas untuk generasi berikutnya. (*)

(Ruslan Sangadji)