PAGI ITU, matahari baru saja menyentuh bibir laut Pulau Sombori. Airnya sebening kaca, menyingkap hamparan karang berwarna ungu, jingga, dan biru muda di bawah permukaan. Di saat yang sama sekelompok warga tampak sibuk menurunkan kerangka logam berbentuk kubah ke dasar perairan. Di atasnya, tersusun rapi potongan karang muda yang siap tumbuh menjadi kehidupan baru.

Mereka bukan ilmuwan laut dari universitas ternama. Mereka adalah masyarakat Pulau Sombori, Desa Mbokita — para penjaga laut yang kini menjadi kader konservasi.

Sejak beberapa bulan terakhir, mereka dilatih oleh tim Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bersama Coral Triangle Center (CTC). Misinya sederhana tapi mendalam: mengembalikan napas bagi terumbu karang yang rusak.

Dari Laut Rusak ke Laut Harapan

“Dulu kami hanya tahu laut untuk menangkap ikan,” tutur Ikram, salah satu kader konservasi muda dari Sombori, sambil menatap laut yang tenang. “Sekarang kami tahu, laut juga perlu dijaga agar bisa terus memberi kehidupan.”

Ikram dan sembilan rekannya, menjadi generasi pertama penjaga laut Sombori. Mereka mengikuti pelatihan konservasi, mulai dari cara melakukan transplantasi karang, pengenalan jenis biota laut, hingga teknik monitoring ekosistem bawah laut.

Tak hanya itu, 15 warga lainnya dilatih menjadi pemandu wisata — menggandeng potensi ekowisata yang tumbuh di kawasan menakjubkan ini.

Masyarakat Pulau Sombori, Desa Mbokita — para penjaga laut yang kini menjadi kader konservasi. Sejak beberapa bulan terakhir, mereka dilatih oleh tim Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bersama Coral Triangle Center (CTC). Misinya sederhana tapi mendalam: mengembalikan napas bagi terumbu karang yang rusak | Foto: Humas IMIP

“Kami ingin masyarakat bisa mandiri, tidak hanya bergantung pada hasil tangkap,” kata Adrian Sakti, Penanggung Jawab Rehabilitasi Terumbu Karang dari Departemen CSR PT IMIP.

“Dengan menjadi pemandu wisata, mereka bisa ikut menjaga lingkungan sambil meningkatkan ekonomi keluarga,” tambahnya.

Bagi IMIP, rehabilitasi ini bukan proyek jangka pendek. Ia adalah komitmen ekologis untuk menjaga keseimbangan antara industri dan alam.

Setelah tahap edukasi dan pelatihan, IMIP dan masyarakat melanjutkan dengan penanaman terumbu karang di beberapa titik potensial. Monitoring dilakukan rutin: setiap pekan oleh kader lokal, dan setiap bulan oleh tim IMIP.

Menanam Kehidupan, Menjaga Warisan

Pulau Sombori dikenal sebagai “permata tersembunyi” Sulawesi Tengah. Tebing-tebing karstnya menjulang di atas laut biru, menyerupai miniatur Raja Ampat.

Namun di balik keindahan itu, ancaman mengintai: pemutihan karang, pencemaran, dan praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

Karena itulah, IMIP memilih Sombori sebagai pusat restorasi. Di sini, karang-karang baru ditanam sebagai simbol harapan.

“Kami tidak ingin alam yang indah ini rusak hanya karena faktor ekonomi semata,” lanjut Adrian. “Perbaikan lingkungan adalah fokus utama kami. Alam memberi, maka kita pun wajib menjaga.”

Terumbu karang sejatinya adalah hutan hujan bawah laut — rumah bagi ribuan biota laut. Ia melindungi pantai dari abrasi, menjadi tempat ikan bertelur, dan bahkan menyerap karbon dari atmosfer.

Upaya IMIP bersama CTC memperkuat peran Pulau Sombori sebagai kawasan konservasi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Sinergi untuk Laut yang Lebih Hidup

Bagi Marthen Welly, Marine Conservation Advisor dari CTC, sinergi dengan IMIP adalah contoh konkret bagaimana industri bisa berdampingan dengan pelestarian alam.

“Kerja sama ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam memperbaiki ekosistem laut,” katanya. “Kalau lautnya sehat, wisatawan akan datang. Ekonomi tumbuh, tapi alam tetap lestari.”

Bukti nyata, terlihat dari bantuan IMIP berupa perahu patroli konservasi yang kini menjadi multifungsi: selain menjaga kawasan laut, kapal itu juga difungsikan sebagai perpustakaan terapung dan pusat pemberdayaan UMKM bagi warga Desa Mbokita.

Di geladaknya, anak-anak membaca buku tentang biota laut, sementara nelayan berdiskusi tentang usaha rumahan berbasis hasil laut.

Dari Laut Kita Belajar

Sore hari di Sombori, warna langit berubah jingga keemasan. Ikram kembali menyelam ke dasar laut, memeriksa karang-karang muda yang mulai menempel di substrat logam. Di sekitarnya, ikan-ikan kecil berenang seolah memberi salam.

“Setiap kali melihat karang tumbuh, rasanya seperti melihat kehidupan baru,” ujarnya pelan. “Kami sadar, laut ini bukan milik kami saja, tapi warisan untuk anak cucu.”

Di tengah deru industri dan geliat ekonomi Morowali, kisah kecil dari Sombori ini menjadi pengingat, bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan alam.

Justru dari laut, manusia belajar tentang keseimbangan, tentang memberi dan menerima, tentang merawat dan menghargai kehidupan. Karena menjaga laut, sejatinya adalah menjaga diri kita sendiri.

Sombori: Sepotong Surga yang Jatuh di Samudra Morowali

Pulau Sombori, surga tersembunyi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang disebut banyak orang sebagai “Sepotong Surga yang Jatuh di Samudra Bumi Morowali.”

Sombori bukanlah destinasi yang mudah dijangkau. Dari udara, ia terlihat seperti sekumpulan zamrud di atas permadani biru laut Teluk Tolo. Untuk mencapainya, wisatawan bisa memulai perjalanan dari Kendari, Sulawesi Tenggara, gerbang terdekat menuju pulau ini.

Dari Bandara Haluoleo, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Lafeu di Kabupaten Bungku Pesisir. Jalur darat ini menantang: berliku di antara perbukitan dan hutan tropis selama enam jam. Namun setiap tikungan menghadirkan pemandangan baru — lembah hijau, ladang kelapa, dan semerbak laut asin yang semakin terasa di udara.

Sesampainya di pelabuhan, perjalanan masih harus diteruskan melalui laut. Satu jam berlayar dengan perahu nelayan membawa Anda pada pemandangan yang akan membuat siapa pun terdiam. Batu-batu karst menjulang dari laut, tebing-tebing tinggi tertutup pepohonan, dan air laut bergradasi dari hijau zamrud ke biru safir.

Bagi yang ingin datang dengan kapal cepat dari Kendari, perjalanan bisa ditempuh dalam empat hingga lima jam, cukup waktu untuk membiarkan semesta menyiapkan kejutan indahnya.

Raja Ampat di Sulawesi Tengah

Begitu menjejakkan kaki di Sombori, Anda seolah memasuki dunia lain. Gugusan pulau karangnya menyerupai lukisan — tenang, simetris, dan nyaris terlalu indah untuk nyata. Tak heran bila banyak yang menyebutnya sebagai “Raja Ampat-nya Sulawesi Tengah.”

Namun bagi masyarakat setempat, keindahan ini lebih dari sekadar panorama. Ia adalah rumah, sumber kehidupan, dan bagian dari identitas mereka.

Puncak Tebing Khayangan menjadi ikon yang wajib dikunjungi. Untuk mencapai puncak ini, wisatawan harus mendaki tebing batu granit dan karang yang curam. Tidak ada tanah datar, hanya dinding karang tajam dan pijakan kecil yang menuntut keberanian.

Namun begitu tiba di atas, semua rasa lelah sirna — di depan mata terbentang pemandangan yang sulit dilupakan: gugusan pulau kecil terapung di air sebening kaca, diwarnai semburat hijau dan biru laut yang berpadu sempurna.

Begitu berdiri di atas Puncak Khayangan, rasanya seperti berdiri di atap dunia. Tempat ini bukan hanya indah, tapi juga membuat hati tenang.

Menjelajahi Akuarium Raksasa

Bagi pecinta laut, Sombori adalah surga bawah air yang sesungguhnya. Di Pulau Dua Laut, terdapat spot menyelam yang dikenal sebagai Aquarium Point — dinamai demikian karena perairannya benar-benar menyerupai akuarium alami.

Dari permukaan saja, ikan-ikan kecil sudah tampak menari di antara karang warna-warni. Saat menyelam lebih dalam, Anda akan melihat koloni terumbu karang yang masih sehat, sponge berwarna ungu dan oranye, serta gerombolan ikan badut berlindung di balik anemon laut. Di tempat inilah, kehidupan bawah laut Sombori menampakkan wajah aslinya: tenang, jernih, dan memesona.

Jika ingin suasana lebih santai, Pulau Kokomenawarkan pantai berpasir putih yang sepi. Pohon kelapa melambai-lambai, dan suara ombak kecil berpadu dengan nyanyian burung laut. Airnya begitu jernih hingga dasar pasir terlihat jelas, lengkap dengan ikan-ikan mungil yang berlarian di sela bayangan perahu.

Bertemu Para Pelaut Bajo

Namun keindahan Sombori tidak hanya milik alamnya. Ada jiwa yang hidup di sini — Suku Bajo (Bajau) atau sering disebut Gipsi Laut Indonesia. Mereka hidup berpindah-pindah di atas laut, dengan rumah panggung berdiri di atas tiang-tiang kayu di perairan dangkal.

Anak-anak Bajo sudah pandai berenang bahkan sebelum mereka bisa berjalan. Dengan sepotong kaca di tangan sebagai kacamata sederhana, mereka menyelam mencari ikan atau kerang. Tak jarang wisatawan diajak menyelam bersama, belajar bagaimana mereka bertahan hidup di laut yang menjadi rumah sekaligus sahabat.

Laut bagi orang Bajo bukan sekadar tempat mencari makan, Laut adalah darah dan napas mereka.

Mimpi Baru dari Timur

Kini, kawasan konservasi perairan Sombori mulai dikenal luas. PT IMIP, pemerintah daerah bersama berbagai lembaga lingkungan bekerja menjaga keseimbangannya, agar keindahan ini tidak hanya jadi cerita masa lalu.

Dengan segala potensi dan pesonanya, Sombori digadang-gadang menjadi destinasi unggulan berikutnya setelah Raja Ampat. Namun di balik promosi dan potret pariwisata, tersimpan pesan penting: menjaga Sombori bukan hanya tugas pemerintah atau perusahaan, tapi tanggung jawab setiap pengunjung yang menjejakkan kaki di atas pasirnya.

Karena di tempat ini, keindahan bukan sekadar untuk dinikmati, tapi juga untuk dijaga — agar “sepotong surga yang jatuh di samudra Morowali” tetap hidup dan bernafas untuk generasi berikutnya. (*)

(Ruslan Sangadji)