MOROWALI, KAIDAH.ID – Sektor industri pengolahan di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), terus menjadi penopang perekonomian daerah, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap fiskal nasional. Aktivitas industri di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), menjadi motor utama peningkatan ekspor dan pertumbuhan ekonomi regional.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulteng, Andi Irman, menjelaskan, hilirisasi mineral berbasis nikel, telah mendorong perubahan struktur ekonomi daerah, dari berbasis bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Dari sisi perdagangan luar negeri, Sulteng mencatatkan kinerja yang solid dengan dominasi ekspor produk hasil hilirisasi industri. Nilai ekspor tinggi terutama berasal dari kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara, sebagai pusat produksi logam berbasis nikel untuk pasar global,” jelasnya.
Sepanjang 2025, nilai ekspor Sulteng mencapai USD 22,32 miliar atau tumbuh 5,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 21,22 miliar. Sementara itu, impor tercatat sebesar USD 11,31 miliar, yang didominasi bahan baku dan barang modal untuk mendukung ekspansi industri.
Aktivitas ekspor terbesar berasal dari Pelabuhan Bahodopi dan Morowali, dengan nilai gabungan USD 18,08 miliar atau sekitar 81 persen dari total ekspor daerah. Dari sisi komoditas, ekspor didominasi produk besi dan baja sebesar 61,31 persen serta nikel sebesar 16,59 persen.

Meski harga nikel global di London Metal Exchange mengalami tren penurunan sejak 2022, kinerja ekspor Sulawesi Tengah tetap menunjukkan daya tahan yang kuat.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah menilai prospek perdagangan luar negeri daerah masih positif dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan global, khususnya dari Tiongkok, menjadi faktor utama pendorong kinerja ekspor.
Tim ekonom Bank Indonesia menyebut, komoditas unggulan seperti baja tahan karat (stainless steel) dan mixed hydroxide precipitate (MHP), sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik, akan terus menjadi andalan ekspor daerah.
Di sisi lain, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat, impor bahan baku industri mencapai USD 8,82 miliar, atau 79 persen dari total impor. Sementara impor barang modal, meningkat 14,4 persen menjadi USD 2,33 miliar untuk mendukung operasional 52 perusahaan di kawasan IMIP.
Kontribusi Kabupaten Morowali terhadap perekonomian regional juga sangat signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Morowali menyumbang 47,6 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah.
Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Morowali mencapai 10,81 persen, menjadikannya yang kedua tertinggi di provinsi tersebut. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah tercatat sebesar 8,47 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 5,11 persen.
Bank Indonesia Sulawesi Tengah optimistis, kinerja ekonomi daerah akan tetap kuat. “Prospek ekonomi Sulawesi Tengah ke depan, diperkirakan tetap tumbuh tinggi, didukung oleh kinerja ekspor dan investasi yang solid,” tulis laporan BI.
Hingga Desember 2025, total investasi di kawasan IMIP mencapai USD 41,48 miliar atau setara Rp696,91 triliun, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2022 sebesar USD 29,6 miliar.
Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, menyatakan peningkatan investasi tersebut berjalan, seiring dengan pertumbuhan aktivitas industri. “Pertumbuhan investasi ini sejalan dengan peningkatan aktivitas industri dan penyerapan tenaga kerja di kawasan IMIP,” katanya. (*)
(Ruslan Sangadji)


Tinggalkan Balasan