“Semua sejarah pemerintahan hancur bukan karena kekuatannya lemah, tapi karena penerapan nilai-nilai spiritual ditinggalkan. Jika ingin rakyat sejahtera, nilai spiritual harus mewujud dalam keseharian,” jelasnya.
Anwar Hafid juga mendorong seluruh umat beragama, agar aktif menghidupkan rumah ibadah masing-masing sebagai pusat pembinaan moral dan penguatan toleransi.
“Berani Berkah ini bersifat umum. Kalau orang terbiasa berjamaah dan mendengar ceramah ustadz, pendeta, atau mangku setiap hari, mereka tidak akan mudah dipengaruhi hal-hal negatif. Saya kira toleransi di Indonesia ini sudah final, tinggal bagaimana kita menguatkannya melalui nilai spiritual,” ujarnya.
Nopi Kerukunan itu dihadiri perwakilan berbagai organisasi dan majelis agama, di antaranya Nahdlatul Ulama, Majelis Ulama Indonesia, Muhammadiyah, Gereja Kristen Sulawesi Tengah, Persatuan Hindu Dharma Indonesia, Alkhairaat, hingga perwakilan gereja dan komunitas lintas agama lainnya.
Para peserta juga sepakat, kolaborasi antara kepemimpinan religius dan gerakan moderasi beragama, menjadi fondasi penting menuju terwujudnya Sulteng Nambaso. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan