Selebrasi itu bukan cuma pesta. Itu bukti kalau kerja tim bisa mengalahkan segalanya. Argentina 2022 tidak punya 11 superstar. Mereka punya 1 pemimpin dan 10 pejuang yang percaya.
PELUIT panjang berbunyi. Lusail Stadium meledak. Di tengah lautan jersey biru-putih, Lionel Messi diangkat tinggi-tinggi oleh rekan-rekannya. 18 Desember 2022, bukan sekadar tanggal juara. Itu hari ketika Argentina dan dunia sepak bola akhirnya melihat sang raja menuntaskan misinya.
Final Drama yang Tak Akan Terlupakan.
Argentina vs Prancis. 3-3 sampai babak tambahan. Adu penalti yang bikin jantung copot.
Tapi saat bola terakhir Montiel masuk, semua lari ke satu titik: Messi.
Tidak ada selebrasi individu. Tidak ada ego. Yang ada hanya satu tim yang mengangkat kaptennya, menangis, tertawa, dan berteriak “campeón” bersama-sama. Momen itu viral dalam hitungan detik dan jadi foto paling ikonik sepanjang sejarah Piala Dunia.
Lebih dari Sekadar Trofi
Bagi Argentina, ini gelar Piala Dunia ketiga. Tapi bagi Messi, ini adalah penutup sempurna dari perjalanan 5 Piala Dunia.
Setelah kalah di final 2014, dicibir, bahkan sempat pensiun dari timnas, akhirnya dia berdiri di puncak. Diarak oleh Dibu, De Paul, Otamendi, dan semua “saudara” di tim itu.
Scaloni bilang: “Kami bermain untuk Messi, tapi juga untuk 45 juta orang Argentina.” Dan malam itu, 45 juta orang merasa diangkat juga bersama Messi.
Warisan yang Ditinggalkan
Selebrasi itu bukan cuma pesta. Itu bukti kalau kerja tim bisa mengalahkan segalanya. Argentina 2022 tidak punya 11 superstar. Mereka punya 1 pemimpin dan 10 pejuang yang percaya.
Sampai hari ini, video Messi diangkat teman-temannya masih bikin merinding kalau diputar ulang. Karena kita semua tahu rasanya: menunggu, jatuh, lalu akhirnya menang.
36 tahun. 5 final. 1 Messi.
Dan satu gambar yang akan diceritakan ke anak cucu: seorang raja, diangkat oleh kerajaannya.
Penulis: Tommy R. Arief
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan