Dari total angkatan kerja Morowali pada 2025, sebanyak 17.688 orang merupakan warga Morowali yang bekerja di kawasan IMIP. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari total angkatan kerja Morowali

MOROWALI, KAIDAH.ID – Kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus menjadi salah satu penggerak utama ekonomi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Salah satu dampaknya terlihat dari penyerapan tenaga kerja.

Data HR Departemen PT IMIP mencatat, hingga akhir Agustus 2026, jumlah pekerja di kawasan IMIP mencapai 98.266 orang. Mayoritas pekerja berasal dari Pulau Sulawesi. Jumlahnya mencapai 90.405 orang atau 92 persen dari total tenaga kerja.

Dari jumlah itu, sebanyak 31.445 orang atau 32 persen merupakan warga Sulawesi Tengah. Sementara pekerja asal Kabupaten Morowali mencapai 17.688 orang atau 18 persen. Khusus warga Kecamatan Bahodopi, jumlahnya mencapai 10.809 orang atau 11 persen. Adapun pekerja yang berasal dari luar Pulau Sulawesi tercatat 7.861 orang atau 8 persen.

Para pekerja didominasi Lulusan SMA/SMK, yang tercatat sebanyak 63.382 pekerja atau 64,5 persen. Mereka mendapat pembekalan dan pelatihan langsung setelah bergabung sebagai karyawan IMIP. Sementara itu, pekerja lulusan sarjana (S1) mencapai 28.301 orang atau 28,8 persen. Sebanyak 4,6 persen lainnya merupakan lulusan diploma.

Head of Media PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan perusahaan terus melakukan transformasi untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja.

Menurutnya, IMIP tidak hanya mengejar peningkatan kapasitas produksi. Perusahaan juga berupaya membuka ruang bagi masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan untuk berkembang.

“IMIP tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang berbagai jenjang pendidikan untuk bertumbuh dan berkarya. Komitmen kami meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat,” kata Dedy, Rabu, 2 September 2026.

Pengangguran Morowali Menurun

Dampak penyerapan tenaga kerja juga terlihat dari angka pengangguran di Morowali. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Morowali, Gladius Alfonsus, merilis kondisi ketenagakerjaan Morowali berdasarkan Sakernas Agustus 2025.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Morowali tercatat 2,81 persen. Angka ini turun 0,34 persen poin dibandingkan Februari 2024 yang mencapai 3,15 persen. Pada Agustus 2025, jumlah angkatan kerja Morowali mencapai 85.039 orang. Sebanyak 82.653 orang di antaranya sudah bekerja. Sedangkan jumlah pengangguran tercatat 2.386 orang.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan lima tahun sebelumnya. Pada 2020, jumlah angkatan kerja Morowali tercatat 57.727 orang. Sebanyak 54.721 orang sudah bekerja. Sementara pengangguran masih mencapai 3.006 orang. Pada 2025, jumlah pengangguran turun menjadi 2.386 orang.

17.688 Warga Morowali Bekerja di IMIP

Dari total angkatan kerja Morowali pada 2025, sebanyak 17.688 orang merupakan warga Morowali yang bekerja di kawasan IMIP. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari total angkatan kerja Morowali.

Kehadiran kawasan industri nikel terintegrasi itu, telah memberikan ruang yang besar bagi masyarakat untuk memperoleh pekerjaan. IMIP juga diarahkan untuk ikut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Morowali dan Sulawesi Tengah.

“Sudah tertuang dalam visi, misi dan nilai perusahaan, bagaimana IMIP memfasilitasi perkembangan usaha masyarakat lokal dan memberi kontribusi nyata bagi daerah,” tegas Dedy.

Penyerapan Terus Meningkat

Penyerapan tenaga kerja di kawasan IMIP terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

  • Pada 2020, jumlah pekerja tercatat 35.592 orang.
  • Pada 2021, jumlahnya naik menjadi 51.542 orang.
  • Pada 2022, jumlah pekerja mencapai 68.466 orang.
  • Pada 2023 meningkat menjadi 74.350 orang.
  • Pada 2024, jumlah pekerja telah mencapai sekitar 83.000 orang.
  • Pada Agustus 2026, angkanya kembali melonjak menjadi 98.266 orang.

Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya investasi dan aktivitas industri di kawasan IMIP. Menurut Dedy Kurniawan, peningkatan jumlah pekerja juga menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat untuk bekerja di kawasan industri tersebut.

“Ini menunjukkan animo masyarakat untuk bekerja di IMIP semakin meningkat,” tandasnya. (*)

(Ruslan Sangadji)