PALU, KAIDAH.ID – Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS) bersama sejumlah petani dari Kabupaten Morowali Utara dan Kabupaten Banggai, menggelar  aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng). Para petani itu merupakan korban perampasan lahan dan kriminalisasi PT Agro Nusa Abadi, PT Kurnia Luwuk Sejati, PT Sawindo Cemerlang.

Sedangkan FRAS adalah gabungan beberapa lembaga,  di antaranya Walhi Sulteng, Jatam Sulteng, KPA Sulteng, YMP, AMAN Sulteng, BRWA Sulteng dan, PBHR Sulteng.

Dalam aksi tersebut, Fras dan para korban perampasan lahan mendesak pihak perusahaan mengembalikan lahan mereka, dan stop kriminalisasi terhadap petani.

Para petani yang datang dari Morowali Utara dan Banggai itu, rela menempuh jarak ratusan kilometer untuk bertemu dengan Gubernur Sulteng, untuk menagih janji penyelesaian kasus  agraria yang sudah belasan tahun terjadi di dua Kabupaten tersebut.

Pada September sebelumnya, FRAS mendampingi perwakilan petani bertemu dengan Gubernur Sulteng menyampaikan masalah konflik lahan yang mereka alami, dan  Gubernur berjanji akan segera memanggil pihak perusahaan serta menyelesaikan kasus yang menjadi permasalahan mereka.

“Namun hingga berjalannya waktu, petani yang dikorbankan belum mendapatkan kabar penyelesaian, justru ada lagi petani yang ditersangkakan,” kata Koordinator FRAS Sulteng, Eva Bande.

Kasus yang sudah berlarut-larut dan persoalan ekonomi membuat para petani menuntut, agar pemerintah segera menyelesaikan masalah konflik lahan yang melibatkan perusahaan perkebunan skala besar ini.

“Tuntutan dari petani tidak begitu rumit, mereka hanya menuntut agar lahan mereka dikembalikan oleh perusahaan. Kehidupan petani hanya bersumber dari lahan. Apabila sumber-sumber produksi petani dihilangkan, sudah pasti krisis pangan akan menghantui kita semua,” kata Eva Bande.

Aksi yang dilakukan oleh FRAS bersama dengan petani Morowali Utara dan Banggai pada 21 Oktober 2021 itu,  adalah agenda untuk memperjelas sudah sejauh mana Gubernur Sulteng memproses pengaduan petani sebelumnya.

“Petani hanya ingin bertemu Gubernur yang mereka pilih pada Pilkada sebelumnya, mereka hanya ingin mendapatkan kepastian dari pengaduan mereka,” ujar Eva.

Namun, FRAS menyesalkan sikap  Gubernur Sulteng yang terkesan berlebihan saat menerima massa aksi. Sikap seperti itu sepatutnya diperlihatkan Gubernur di depan konstituennya. Para massa aksi melakukan dialog secara baik dan tidak ada sedikitpun ‘gerakan tambahan’ dari massa aksi untuk memicu keributan.

Terlepas dari persoalan itu, FRAS bersama dengan petani Morowali Utara dan Banggai tetap akan mengawal proses penyelesaian kasus ini. Melalui Asisten 1 dan Tenaga Ahli Gubernur menyampaikan bersumpah akan segera menyelesaikan kasus perampasan lahan dan kriminalisasi.

“Dalam beberapa minggu ke depan kami akan menunggu Gubernur bekerja untuk menyelesaikan masalah ini,” tegas Eva Bande.

Tersulut Emosi

Sebelumnya, pada aksi tersebut Gubernur Sulteng Rusdy Mastura tersulut emosi dan nyaris terjadi baku hantam dengan pengunjuk rasa. Aksi itu tersebar luas di media sosial dan sejumlah WhatsApp Group.

Dalam video yang berdurasi 34 detik itu, Gubernur terlihat emosi dan beradu mulut dengan pengunjuk rasa.

“Lihat mata saya. Saya tidak pernah takut dengan siapa-siapa ee. Kasih tunjuk berani sama saya?,” teriak Gubernur di hadapan pengunjuk rasa.

Karena tersulut emosi itu, Gubernur langsung di bawa ke mobilnya dan langsung pergi meninggalkan para pengunjuk rasa.

Gubernur tampak emosi, karena ada bahasa yang dianggap tidak sopan yang ditujukan kepada Gubernur Sulteng.

Meski begitu, Gubernur Rusdy Mastura itu sosok yang berhati baik. Apa yang sudah terjadi di hari ini, beberapa saat kemudian sudah kembali baik dan biasa-baisa saja, seperti gaya orang tua terhadap anaknya. *