Minggu, 14 Juli 2024

Maroso Ada Manimpu Ngata. Dokter Nirwansyah: Adat Lindu, Harta yang Tak Ternilai

ADAT LINDU - Dokter Nirwansyah Parampasi menjadi salah seorang pembicara dalam Workshop Penguatan Kelembagaan Adat Lindu | Foto: ist

SIGI, KAIDAH.ID – Generasi muda di Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), menggelar Workshop Penguatan Kapasitas Lembaga Adat  se Wilayah Lindu. Acara yang berlangsung pada 4-6 November 2021 di Desa Anca itu, menghadirknan 70 peserta dari Desa Puro, Langko, Tomado, Anca dan Olu di kecamatan itu.

Koordinator workshop, Sujarno mengatakan, pihaknya menggelar workshop itu, karena meliht kecenderungan pelaksanaan adat yang berbeda-beda antara satu desa dengan desa lainnya di wilayah keadatan Lindu.

“Padahal, semua orang mengenal adat Lindu itu hanya satu, tapi masing-masing desa-desa cenderung berbeda-beda. Nah, workshop ini dimaksudkan untuk menyatukan persepsi tentang Adat Lindu itu,” kata Sujarno, Selasa, 9 November 2021.

Menurut Sujarno, Adat Lindu harus terus terpelihara agar setiap kampung tetap menjadi kuat dari pengaruh budaya luar yang masuk ke wilayah Lindu.

Maroso ada manimpu ngata, ketika adat itu kuat maka kampung itu akan terpelihara” kata Sujarno.

Ketua Panitia Workshop Penguatan Kapasitas Lembaga Adat Lindu, Adolf Bastian Tentenabi menjelaskan, workshop ini dilaksanakan, karena adanya keresahan anak muda Lindu, yang sudah semakin jauh dari aturan adat.  

Itu terjadi, katanya, karena banyak anak muda yang sudah bersosialisasi dengan komunitas di perkotaan sehingga tidak paham dengan aturan adat Lindu.

“Karena keidakpahaman itulah sehingga membuat anak muda lupa akan aturan adat Lindu. Workshop ini bermaksud memberikan pemahaman kembali kepada anak muda Lindu, agar tidak meninggalkan adat istiadat kita,” jelas Adolf.

Dia bilang, jika generasi muda Lindu tidak diberikan pemahaman tentang aturan adat, lama kelamaan adat Lindu akan terus tergerus dimakan zaman sehingga wilayah Lindu yang identik dengan masyarakat adat akan sirna dengan sendirinya.

“Kalau kita tidak paham dan abai terhadap adat Lindu, yakinlah kita tidak akan bisa memelihara adat itu dengan baik. Kalau kita paham maka aturan adat Lindu ini akan terus terpelihara dan terus lestari sepanjang zaman,” ucap Adolf Bastian.