PALU, KAIDAH.ID – Ngata Toro, sebuah perkampungan, yang bersinggungan langsung dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Ngata artinya desa, sedang Toro adalah nama desanya.
Masyarakat Toro,lebih senang memakai istilah Ngata ketimbang desa. Serupa dengan Negeri bagi masyarakat Ambon.
Ngata Toro itu berada di dalam wilayah administrasi Kecamatan Kulawi, di Kabupaten Sigi. Jarak tempuh dari Kota Palu — Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah — hanya sekitar 3 jam melalui perjalanan darat.
Ngata Toro, topografinya berbentuk lembah dan hutan yang mengelilinginya. Masyarakat di sini, kebanyakan menanam padi organik di halaman rumahnya.
Di Ngata Toro, ada sebuah Lobo yang berdiri bangga. Lobo adalah rumah adat masyarakat Toro. Di Lobo ini, masyarakat Ngata Toro berkumpul, jika menghelat Libu Bohe, yang berarti musyarawah adat besar.
Hutan, adalah benteng raksasa bagi masyarakat Ngata Toro. Rumah ibadah seperti gereja dan mesjid, ikut menjadi pemandangan yang harmoni bagi yang datang ke sana.
Harmoni dalam keberagamaman, sangat nyata di Ngata Toro. Orang Islam dan Kristen hidup berdampingan, tanpa sekat dan masalah. Sampai-sampai, dalam satu rumah pun, tinggal bersama keluarga yang beda agama. Tak masalah.
AKSES DAN FASILITAS KESEHATAN
Di Ngata Toro, ada puskesmas pembantu, yang menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan di situ.
Petugas kesehatannya, hanya satu orang. Namanya Ny. Maryam, yang harus bekerja melayani sekitar 3.000 warga. Memang, tak mungkin ribuan orang itu sakit bersamaan, tetapi dengan satu petugas dan fasilitas yang jauh dari harapan, sangatlah berat.
Belum lagi, fasilitas atau alat kesehatan di puskesmas pembantu itu. Sangat jauh dari layak. Oksigen misalnya. Kita bisa membayangkan, satu puskesmas, hanya memiliki satu tabung oksigen.
Komunitas Roa Jaga Roa di Palu prihatin. Kenyataan itu menyayat hati. Mereka tak tinggal diam.
Menerima informasi mengenai kekurangan fasilitas kesehatan, di bawah komando Nudin Lasahido, berangkatlah relawan Roa Jaga Roa, Rahman Odi dan Muhammad Sharfin ke Ngata Toro.
Tiga orang relawan itu berangkat, mengantar satu unit konsentrator oksigen. Alat itu, merupakan bantuan kepada komunitas Roa Jaga Roa, ketika pandemi Covid-19 melanda.
Para pekerja kemanusiaan itu, menyerahkan konsentrator oksigen atau alat bantu napas tersebut, kepada Tina Nu Ngata Toro, Rukmini Toheke. Selanjutnya, ia meneruskannya kepada petugas kesehatan di puskesmas pembantu.

“Puskesmas pembantu hanya punya satu tabung oksigen, sedangkan mereka harus melayani sekitar 3000-an warganya,” kata Odi Rahman, relawan Roa Jaga Roa.
Odi tidak bisa membayangkan, jika satu tabung oksigen kehabisan isinya, sedangkan pada saat yang sama, ada pasien yang membutuhkan.
Maka, petugasnya harus menempuh perjalanan sejauh sekitar 90 kilometer, ke Palu mengisi oksigen tersebut. Belum lagi jika musim hujan, perjalanan akan sangat sulit.
Jalanan yang banyak berlobang, jurang di sisi kanan jika ke Palu, licin dan banyak hambatan lainnya. Pasien bisa kehabisan napas, karena menunggu oksigen.
Maryam, bidan desa, satu-satunya tenaga medis di Ngata Toro, berterima kasih kepada Roa Jaga Roa. Ia mengaku akan sangat terbantu dengan bantuan konsentrat oksigen tersebut.
“Terima kasih. Kami sangat berterima kasih. Alat ini sangat membantu, karena alat ini, bisa menjadi alternatif pengganti tabung oksigen saat dalam keadaan darurat,” kata Maryam.
Apalagi, tambahnya, lebih mudah mengooperasikan konstrator oksigen. Itu keunggalan alat bantu napas tersebut.
“Biaya pemakaiannya jauh lebih murah, karena hanya listrik dan air. Kami tidak perlu lagi ke kota, untuk mengisi ulang tabung oksigen yang sudah kosong,” imbuhnya.
Maryam dengan cerdas menjelaskan lagi mengenai keunggulan alat itu. Hanya mengambil udara, dan menyaring nitrogen melalui saringan. Kemudian melepaskan nitrogen kembali ke udara, dan memastikan pemakainya menghirup udara yang mengandung oksigen murni.
“Terima kasih,” ucapnya.
TENTANG ROA JAGA ROA
Komunitas Roa Jaga Roa itu terbentuk, ketika Covid-19 melanda dunia. Sekumpulan anak muda di Palu, yang biasa berkumpul di kompleks Nebula, Jalan Rajawali 28 Palu, bersepakat membentuk komunitas itu, untuk saling membantu kawan.
Awalnya, hanya untuk menjaga para jurnalis dan keluarganya, yang terinfeksi virus Corona. Tetapi seiring perjalanan waktu, komunitas itu bekerja untuk masyarakat Palu dan sekitarnya yang terjangkit Covid-19.
Karena itulah, mereka memberi nama Roa Jaga Roa. Berasal dari gabungan Bahasa Kaili— asli etnis Lembah Palu — dan Bahasa Indonesia.
Roa berarti teman. Maka Roa Jaga Roa berarti teman jaga teman.
Warga yang mendapat perawatan di rumah, menjadi fokus kerja Roa Jaga Roa. Komunitas ini membantu obat-obatan, vitamin, makanan jadi hingga sembako.
Semua bantuan itu berasal dari warga Palu, yang bersimpati dengan kerja-kerja Roa Jaga Roa. Ada trust, sehingga bantuan dari mana-mana berdatangan.
Mulai dari pejabat daerah, hingga orang biasa, ikut membantu. Termasuk konsentrator oksigen, yang akhirnya diserahkan untuk puskesmas di Ngata Toro.
Relawan Roa Jaga Roa Muhammad Sharfin mengatakan, meski pandemi Covid-19 telah berakhir, namun komunitas Roa Jaga Roa tetap konsisten, memberikan bantuan-bantuan kemanusiaan.
Antara lain, bantuan terhadap korban banjir dan menyalurkan konsentrator oksigen.
“Kami telah menyerahkan lima konstrator oksigen. Tiga di antaranya ke Pemda Sigi, satu unit ke Rutan kelas II A Palu dan satunya lagi kami serahkan ke Ngata Toro,” kata Sharfin.
Menurut rencana, komunitas ini akan mengembangkan diri, menjadi sebuah lembaga profesional, yang akan bekerja untuk kesehatan dan pendidikan.
Demi kemanusiaan, semoga usaha itu segera terwujud. (*)

Tinggalkan Balasan