Umar Usman *
AZALI. Tuhan hanya sendirian, yang ada hanya Dia. Belum ada apa-apa dan siapa-siapa. Alam semesta, galaksi, tata surya, dan manusia belumlah Tuhan adakan. Ruang, waktu, materi, dan energi juga belum mengada. air, angin, api, dan tanah belum ada begitupun malaikat, iblis, surga, dan neraka.
Azali bukan era atau zaman, karena ketika azali, sesuatu yang disebut sebagai era atau zaman itu belum ada. Apakah azali itu? Tuhan hanya sendirian. Konsep mengenai azali ini harus ditegaskan, karena inilah segala konsep membangun awal.
Pada azali inilah Tuhan merancang segala skenario-Nya, mengenai segala kehidupan dari segala makhluk-Nya yang akan Dia adakan dan atau ciptakan. Namun, bukankah ketika azali belum ada apapun selain hanya Tuhan? Jadi, pada azali belum ada konsep, belum ada skenario, tak ada awal dan akhir?
Kalau begitu paska azali? Bukankah azali juga belum memiliki paska. Azali, bukan suatu zaman sebagaimana sejarah yang memiliki era ‘pra’ dan era ‘paska’? Azali bukan semacam renaissance yang mempunyai ‘sebelum’ dan ‘sesudah’? Baiklah, azali tetaplah azali.
Azali. Juga belum ada rangkaian huruf apalagi titik. Yang ada hanya Tuhan itu sendiri. Segalanya dari situ. Samudera dan langit yang maha luas, hingga sebutir debu yang terbang melayang ditiup angin, berawal dari sana.
Untuk renungan, takwil maklumat Allah di bawah ini kita baca dengan seksama:
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS.57: Ayat 22).
Lauh Mahfuz. Dapatkah kita sebut sebagai cetak biru rencana besar Tuhan? Atau pengadaan pertama yang Tuhan adakan? Segala wujud belum mengada, selain Tuhan dan rencana-Nya.
Bila, Lauh Mahfuz dimaknai sebagai suatu rencana-Nya. Artinya, siapapun, apapun, di manapun, dengan apapun, mengapa, bagaimana, dan bilamana tentulah suatu pertanyaan dan jawaban yang telah Tuhan ketahui dalam pengetahuan-Nya.
Mengapa demikian? Karena telah tertulis dan tercatat sebagai suatu kepastian hukum-hukum, kehendak, ketetapan, dan meliputi segala hal ikhwal dalam pengaturan-Nya.
Pada maklumat yang lain, Allah pun berfirman:
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”(QS. 6: Ayat 59)
Tentu saja segala dialektika, monolog, dan dialog pada pikiran kita berjalin kelindan. Sebagai Khalifah-Nya. Manusia, insan atau hamba adalah ciptaan-Nya yang paripurna dan sempurna. Berbekal akal, kalbu, dan jiwa pada diri ini, telah meliputi segala percikan sifat-sifat Tuhan.
Lauh Mahfuzh, sebagai kitab berisi rencana besar Tuhan, tentu saja telah terakreditasi sebagai suatu hukum-hukum kepastian yang benar, sebenar-benarnya dan tidak lain dari yang sebenarnya.
Adakah sesuatu hal ikhwal apapun yang luput dari Kekuasaan dan Pengetahuan-Nya? Ada baiknya, kita takwil maklumat Allah dalam firman-Nya dibawah ini:
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. 2 : Ayat 255)
“Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya? Syafaat. Perantara (pertolongan) untuk menyampaikan permohonan (kepada Allah).” Bila kita buat resume, maka pengadaan segala yang ada itu semua, tanpa kecuali sebab dari-Nya. Tuhan, Allah. Sang Maha Pengada.
Masihkah menyogok Allah dengan segala perbuatan ibadah apapun yang bernilai dan bermuara pahala, untuk masuk surga dan menghindari neraka?
Masihkah memusuhi Iblis, Setan, dan Jin yang tak kasat mata dan Allah tugasi untuk menggoda dan menyesatkan manusia?
Allah. Tidak ada sesuatu apapun yang setara dengan-Nya.
Allah. Azali.
Kembangan, Jakarta 17 Juni 2020

Tinggalkan Balasan