JAKARTA, KAIDAH.ID – Peretas MoonzHaxor mengklaim telah membobol data milik Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan Inafis Polri. Mereka berhasil menguasai sejumlah data dan dijual seharga Rp16,3 juta.

Di laman media sosial X, akun ‪@‬FalconFeeds.io yang rutin memantau aktivitas siber, termasuk dari situs gelap (dark web) mengumumkan adanya peretasan, oleh peretas MoonzHaxor dari BreachForum terhadap sistem Bais TNI. Mereka juga mengklaim telah menguasai sejumlah data milik Bais TNI.

Peretas dalam forum jual beli data gelap di dark web, bahkan menyediakan contoh (sample) data yang mereka kuasai, dan menjanjikan data lengkap (full set data) kepada siapa pun yang ingin membayar.

Unggahan di media social X diposting pada Senin, 24 Juni 2024, pukul 10.39 WIB itu, telah dilihat oleh 1 juta 700 pengguna, 3.200 pengguna meretweet , 5.700 suka dan 550 pengguna mengomentarinya.

Peretas juga mengaku membobil data Inafis Polri | Foto: tangkapan layar X

Dalam tangkapan layar laman BreachForum, MoonzHaxor diketahui bergabung dalam komunitas peretas itu sejak September 2023. Peretas yang sama pada Sabtu, 22 Juni 2024, juga mengumumkan berhasil meretas sistem Indonesia Automatic Finger Indentification System (Inafis) Polri.

Data-data yang diklaim diretas dari sistem Inafis mencakup gambar sidik jari, alamat email, dan aplikasi SpringBoot dengan beberapa konfigurasi.

Semua data itu dijual oleh MoonzHaxor seharga 1.000 dolar AS atau sekira Rp15 juta juta (kurs Rp15 ribu per dolar AS).

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen R Nugraha Gumilar menyatakan, tim Siber TNI saat ini masih memeriksa dan mendalami dugaan peretasan data milik BAIS TNI tersebut.

“Terkait (informasi) akun X Falcon Feed yang menyiarkan data Bais TNI diretas, sampai saat ini masih dalam pengecekan mendalam oleh Tim Siber TNI,” kata Mayjen Nugraha Gumilar, Senin, 25 Juni 2024.

Sementara itu, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen (Purn) Hinsa Siburian menjelaskan, data yang diklaim diretas oleh MoonzHaxor itu merupakan data lama.

“Ini sudah kami konfirmasi dengan kepolisian, bahwa itu adalah data-data lama mereka yang diperjualbelikan di dark web,” kata Hinsa kepada jurnalis dalam koferensi pers di Jakarta Senin kemarin.

Dia menegaskan, sistem Polri saat ini tidak mengalami gangguan dan tetap berjalan dengan baik.

“Kami yakinkan bahwa sistem mereka berjalan dengan baik,” tegas mantan Wakil KSAD itu.

Hinsa juga memastikan dugaan peretasan data Inafis Polri, tidak terkait dengan insiden serangan siber terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 di Surabaya. (*)

Editor: Ruslan Sangadji