Kyai Nanal menyebut secara terbuka, Guru Tua juga menyatakan dukungan terhadap Presiden Soekarno lewat frasa patronasi : “Makmurkan negeri ini dengan pembangunan materiil dan spiritual. Buktikan pada masyarakat bahwa kamu mampu”.
Karena itu, Kyai Nanal berpendapat, jika perkara usulan menjadi Pahlawan Nasional adalah sesuatu yang “wajib” direspons oleh negara. Guru Tua telah meninggalkan legacy yang sangat mahal. Alkhairaat kini memiliki lebih dari 1600 cabang yang mengurus sekolah-sekolah di berbagai daerah.
Aktivitas sosialnya bertebaran untuk menguatkan kehidupan bersama. Ia jadi perekat yang menyatukan, saat kemanusiaan diretas oleh bara konflik beberapa tahun lalu.
Menjadi sebuah antitesa yang liar dan subyektif, ketika seorang youtuber Fuad Riyadi alias Fuad Plered mempertanyakan kelayakan usulan Guru Tua menjadi Pahlawan Nasional. Saya menduga, Fuad adalah generasi yang mewarisi cara pandang geo-politik, bahwa “Jawa” adalah pusat dan daerah lainnya menjadi pinggiran. Barat dan Timur dibedakan dalam status politik, sosial dan ekonomi.
Ini cara pandang warisan kolonial yang dulu membelah Indonesia sehingga mudah saja dijajah. Menempatkan “Jawa” sebagai pusat juga masih berlaku dalam urusan gelar pahlawan nasional. Tak aneh jika Fuad menolaknya.
Ia miskin literasi sehingga tak pernah tahu jika sepanjang pergolakan menentang penjajah, hanya dua mutiara dari timur yang terbilang sukses. Yang pertama adalah Sultan Babullah Datu Sjah dari Ternate, yang mengusir Portugis dan angkat kaki selamanya dengan rasa malu yang luar biasa dari bumi Maluku.
Heroisme itu dilanjutkan oleh Sultan Nuku dari Tidore, yang memaksa Belanda meninggalkan wilayah Moloku Kie Raha untuk selamanya. Jejak ini berbeda dengan kebanyakan “pahlawan” yang gagal dalam mengusir penjajah karena dibunuh, ditangkap dan dibuang. Dari riwayat perjuangan lewat pendidikan, kita tahu jika Guru Tua tak pernah ditangkap Jepang.
Karena itu perkara menolak Guru Tua lalu menyamakannya dengan “monyet” adalah penghinaan terhadap kemanusiaan. Fuad boleh mengklarifikasi tetapi gestur dan kalimat yang terlontar menunjukan derajat kebenciaan yang tak berdasar.
Saya tulis ulang kalimat Fuad yang kini viral. “Menyakiti pribumi termasuk di antaranya mengusulkan si siapa itu tadi -monyet- satu itu Idris Irus bin Slim Ajufri menjadi pahlawan. saya bilang monyet, karena saya sedang mengamalkan isi Quran, -pengkhianat- itu disebut monyet”.
MEMBEDAH NARSISME FUAD
Saya mulai membedahnya dengan narsisme “menyakiti pribumi”. Siapa pribumi yang dimaksud? Jika narasi ini bersumber pada usulan agar Guru Tua menjadi Pahlawan Nasional, dalam posisi sebagai apa Fuad berbicara. Tanpa pengakuan negarapun, Guru Tua adalah pahlawan yang abadi dalam memori kolektif orang-orang di bagian Timur Indonesia. Orang-orang yang tumbuh dalam kultur dunia pendidikan yang membebaskan dari kebodohan dan ketertinggalan.
Tinggalkan Balasan