WAHAI PENCERAMAH, perbaikilah bacaan Anda. Perbaikilah makhraj Anda. Belajarlah makharijul huruf dengan benar, agar Anda tidak menyesatkan jamaah dalam setiap ceramah yang Anda sampaikan.

Dalam dua bulan belakangan, saya dan banyak orang lain hadir di setiap acara takziyah. Seorang penceramah dengan penuh semangat, menyampaikan pesan-pesan agama yang indah penuh inspirasi.

Tetapi, di saat penceramah menukil ayat Al Quran, saya dan seorang kawan saling melirik. Kami tersenyum. Dengan berbisik, kami berdua memperbaiki bacaan si ustadz itu.

Tapi tenang saja, bisikan kami berdua, tidak sampai didengar jamaah lain atau didengar si ustadz itu. Hanya kami berdua yang dengar. Dan tiap kali penceramah membacakan kalam suci, kami berdua istigfar. (Astaghfirullah).

Kenapa senyum, kenapa istigfar?

Iya, bagi saya dan kawanku, bacaan Ustadz itu hancur. Ayat yang dia sampaikan jadi rusak, baik dari segi bacaan maupun arti. Kok bisa? iya, mahkrajnya salah. Makhrajnya belepotan. Tidak sesuai dengan kaidah-kaidah membaca Al Quran yang baik dan benar menurut Ilmu Tajwid.

Yang kami berdua pahami, makhraj itu merupakan aturan penting dalam Ilmu Tajwid. Itu ilmu yang mempelajari cara-cara membaca Al Quran dengan baik dan benar.

Secara harfiah, mahkraj berarti “tempat keluarnya” atau “tempat keluarnya suara”. Dalam konteks Ilmu Tajwid, makhraj merujuk pada tempat keluarnya huruf-huruf Al Quran dari saluran suara orang yang membaca atau menyampaikan ayat Al Quran. Kami berdua belajar itu. Jadilah kami tersenyum dan beristigfar.

Saudaraku pembaca kaidah yang budiman, setiap huruf memiliki makhraj yang berbeda. Memahami makhraj, sangat membantu melafalkan huruf-huruf ayat Al Quran dengan baik dan benar.

Pemahaman yang baik tentang makhraj, membantu Anda membedakan dan melafalkan huruf-huruf dengan benar, sehingga menghindari kesalahan dalam membaca.

Belajar makhraj, merupakan bagian integral dari upaya untuk memperbaiki bacaan Al Quran dan menjaga keaslian teks suci dari Allah subhanahu wata’ala.

Kesalahan makhraj atau salah dalam pelafalan satu huruf hijaiyah saja, dapat mengubah makna dan arti dalam teks Al Quran. Walaupun maksud Anda benar.

Makhraj huruf hijaiyah terbagi menjadi beberapa bagian utama, termasuk Asy-Syafatain (kedua bibir), Al-Jauf (rongga mulut), Al-Halq (rongga tenggorokan), Al-Lisan (lidah), dan Al-Khaisyum (pangkal hidung). Setiap bagian ini memiliki peran khusus dalam pembentukan dan pelafalan huruf-huruf hijaiyah.

Dari situlah kita biasa mendengar, ada yang menyebut huruf yang sama, padahal seharusnya berbeda. Contoh, Sin (sa), Syin (sya) dan shad (sha), kadang kita mendengar orang menyebutnya Sa. Banyak lagi contoh yang lain.

Maka, penceramah, sebaiknya sadar diri. Tidak sekadar mengejar humor atau lucu-lucu saja, tetapi perbaikilah makhraj.

Humor atau lucu-lucu, memang bisa menjadi katalisator yang baik untuk membuat suasana lebih ringan dan rileks. Lucu-lucu itu merupakan kreativitas para penceramah, tetapi harus ada batasan yang jelas. Kita tidak boleh mengesampingkan kebenaran dan keseimbangan dalam usaha menyampaikan pesan agama.

Oleh karena itu, penceramah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan, apa yang disampaikan tidak hanya menarik perhatian jamaah, tetapi juga harus benar secara substansial. Keakuratan bacaan dan penjelasan ayat Al Quran, menjadi pintu masuk untuk memberikan pemahaman yang benar kepada jamaah.

Jadi, perbaikilah bacaan Anda. Perbaikilah makhraj Anda. Belajarlah makharijul huruf dengan benar, agar Anda tidak menyesatkan jamaah dalam setiap ceramah yang Anda sampaikan.

Wallahu A’lam. (*)