Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID
Ibtasim, falaisa hunaka ma takhsaruh: “Tersenyumlah, teruslah bahagia. Tidak semua hal harus disesali, tidak semua keadaan perlu dicemaskan. Kalau memang ada yang bisa diperbaiki, perbaikilah. Kalau ada yang bisa diusahakan, usahakanlah. Tetapi, kalau semuanya sudah dilakukan, kenapa harus terus-menerus bersusah hati?”
Farabbuka maujud: “Allah itu pasti ada untukmu.” Warizquka maktub: “Rezekimu sudah tertulis dengan rapi. Tidak ada yang terhapus satu pun. Tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah, termasuk apa yang telah ditetapkan bagimu di Lauh Mahfuz.”
Waumruka mahdud: “Umur kita terbatas. Allah telah menentukan batas kehidupan setiap manusia. Waktu yang kita miliki tidak akan kembali, dan setiap hari yang berlalu membawa kita semakin dekat pada akhir perjalanan.”
Maka, teruslah tersenyum dan berbahagialah.
Bukan karena hidup selalu berjalan sesuai keinginan, melainkan karena ada hal-hal yang memang tidak bisa kita kendalikan. Ada yang harus diusahakan, ada yang perlu ditunggu, dan ada pula yang pada akhirnya harus diterima.
Kita sering kali terlalu sibuk memikirkan hari esok sampai lupa menjalani hari ini. Pagi-pagi sudah memikirkan pekerjaan. Siang hari gelisah soal penghasilan. Malamnya, ketika badan seharusnya beristirahat, pikiran justru sibuk menghitung kekurangan, mengingat kegagalan, atau membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.
Begitu terus, sampai-sampai kita lupa rasanya menikmati hidup dengan tenang.
Padahal, tidak semua yang kita cemaskan benar-benar terjadi. Ada persoalan yang ternyata tidak seburuk bayangan kita. Ada pula masalah yang memang harus dihadapi, tetapi memikirkannya berulang kali tidak serta-merta membuat jalan keluar datang lebih cepat.
Lantas, untuk apa menghabiskan tenaga berkali-kali, bahkan sebelum masalah itu datang?
Farabbuka Maujud: Allah Ada untukmu
Ada masa ketika seseorang sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi hasilnya belum juga terlihat. Ia bekerja, berhemat, mencari kesempatan, dan berdoa. Namun, keadaan belum berubah seperti yang diharapkan.
Pada titik itu, wajar jika rasa lelah datang. Bahkan orang yang biasanya kuat pun bisa merasa kehilangan arah ketika jalan keluar tak kunjung ditemukan.
Barangkali, yang membuat keadaan semakin berat bukan hanya masalahnya, melainkan perasaan bahwa kita harus menyelesaikan semuanya seorang diri.
Di sinilah kita perlu mengingat kembali: farabbuka maujud. Tuhanmu ada.
Doa yang kita panjatkan hari ini mungkin tidak langsung membawa perubahan esok pagi. Kesulitan yang sedang dihadapi pun bisa saja membutuhkan waktu panjang untuk diselesaikan. Namun, kita tidak harus mengetahui seluruh jawaban untuk tetap percaya kepada Allah.
Ada kalanya kita hanya mampu berdoa dengan kalimat pendek. Ada saat ketika kita bahkan tidak tahu harus meminta apa, selain memohon kekuatan untuk menjalani hari. Ada pula malam-malam ketika yang bisa kita lakukan hanyalah menyerahkan kegelisahan kepada Allah setelah seharian berusaha.
Percaya kepada Allah, bukan berarti hidup akan selalu mudah. Kita tetap bisa menghadapi kesulitan, kehilangan, dan kekecewaan. Hanya saja, kita tidak harus membiarkan semua itu membuat kita kehilangan harapan.
Kita tetap berusaha mencari jalan keluar, sambil menyadari bahwa kemampuan manusia memang terbatas. Ada perkara yang bisa kita selesaikan sendiri, ada yang membutuhkan pertolongan orang lain, dan ada pula yang harus kita hadapi dengan kesabaran.
Warizquka Maktub: Rezekimu Sudah Tertulis
Soal rezeki, hampir setiap orang punya ceritanya sendiri.
Ada yang sudah lama bekerja, tetapi penghasilannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan. Ada yang berkali-kali mengirim lamaran pekerjaan, tetapi belum juga mendapat panggilan. Ada pula yang dari luar terlihat berkecukupan, padahal setiap bulan masih harus memutar otak agar keuangan tetap aman.
Belum lagi kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain. Kita melihat teman membeli rumah, rekan lama mendapat jabatan baru, atau seseorang yang seusia kita sudah mencapai sesuatu yang masih jauh dari jangkauan.
Tanpa sadar, kita mulai bertanya-tanya, mengapa hidup orang lain tampak lebih mudah?
Padahal, kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka. Kita tidak tahu berapa banyak kegagalan yang sudah dilalui atau berapa lama mereka berjuang sebelum sampai pada keadaan sekarang.
Setiap orang punya perjalanan sendiri. Tidak semuanya harus sampai pada waktu yang sama.
Warizquka maktub. Rezekimu sudah tertulis.
Keyakinan ini bukan alasan untuk berhenti bekerja atau menunggu pertolongan datang tanpa melakukan apa-apa. Kita tetap perlu berusaha, belajar, mencari peluang, dan memperbaiki diri. Jika pekerjaan belum ditemukan, kita terus mencarinya. Jika usaha belum berhasil, kita mencoba memahami apa yang perlu dibenahi.
Namun, kita juga perlu belajar bahwa keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai kehidupan kita.
Rezeki bukan hanya tentang siapa yang lebih dahulu memiliki rumah, siapa yang lebih tinggi jabatannya, atau siapa yang lebih banyak penghasilannya. Ada hal-hal sederhana yang sering baru terasa berharga ketika kita hampir kehilangannya: kesehatan, waktu bersama keluarga, teman yang tetap bertahan ketika kita sedang susah, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Tentu, kesulitan ekonomi tetap perlu dihadapi dengan langkah nyata. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap keadaan. Namun, di tengah usaha memperbaiki kehidupan, kita tidak perlu terus-menerus menyiksa diri karena belum mencapai apa yang dimiliki orang lain.
Belum berhasil hari ini bukan berarti tidak akan pernah berhasil. Sedang berada di bawah bukan berarti akan selamanya tertinggal.
Kadang, yang kita perlukan bukan berlari lebih cepat daripada orang lain, melainkan terus berjalan tanpa kehilangan arah.
Waumruka Mahdud: Umurmu Terbatas
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita terlalu sibuk mengejar banyak keinginan: umur kita terbatas.
Kita selalu merasa masih punya hari esok. Nanti, kalau pekerjaan sudah mapan, kita akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Nanti, kalau urusan sudah selesai, kita akan mengunjungi orang tua. Nanti, kalau keadaan sudah lebih baik, kita akan mulai menikmati hidup.
Kata nanti terdengar sederhana, tetapi kadang membuat kita menunda terlalu banyak hal.
Padahal, usia terus berjalan. Orang tua semakin menua. Anak-anak tumbuh besar. Teman-teman mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing. Dan tidak semua kesempatan akan datang dua kali.
Waumruka mahdud. Umurmu terbatas.
Kesadaran tentang terbatasnya umur semestinya tidak membuat kita hidup dalam ketakutan. Justru, kita bisa menjadikannya alasan untuk lebih menghargai waktu yang masih ada.
Jika ada orang yang perlu kita hubungi, mengapa harus menunggu terlalu lama? Jika ada kesalahan yang perlu kita akui, mengapa gengsi selalu menjadi penghalang? Jika ada kesempatan untuk berbuat baik, mengapa harus menunggu sampai merasa memiliki segalanya?
Kita tidak harus menunggu kaya untuk berbagi. Tidak harus menunggu hidup sempurna untuk bersyukur. Tidak pula harus menunggu semua persoalan selesai untuk sesekali duduk santai, menikmati secangkir kopi, atau bercengkerama dengan orang-orang yang kita sayangi.
Hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu. Ada bagian-bagian kecil yang juga layak dinikmati selama perjalanan.
Kita boleh punya cita-cita, bekerja keras, dan menginginkan kehidupan yang lebih baik. Namun, jangan sampai kesibukan mengejar masa depan membuat kita kehilangan kesempatan untuk hadir bagi orang-orang yang kita cintai hari ini.
Sebab, pada akhirnya, waktu yang sudah berlalu tidak bisa kita minta kembali.
Kenapa Harus Terus Bersusah Hati?
Tentu, masalah tidak selesai hanya dengan tersenyum. Tagihan tetap harus dibayar, pekerjaan tetap perlu dicari, dan persoalan yang rumit tetap membutuhkan jalan keluar.
Namun, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah dengan terus-menerus bersedih, keadaan akan menjadi lebih baik?
Jika memang ada yang bisa diperbaiki, perbaikilah. Jika ada yang masih bisa diperjuangkan, perjuangkanlah. Jika kita melakukan kesalahan, akui dan belajarlah darinya.
Tetapi, jika semuanya sudah diusahakan dan hasilnya belum sesuai harapan, barangkali kita perlu memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk beristirahat.
Tidak semua kegagalan harus dibawa sampai ke tempat tidur. Tidak semua ucapan orang perlu dipikirkan berhari-hari. Tidak semua keinginan harus terpenuhi agar kita bisa merasa cukup.
Kita boleh bersedih. Kita boleh kecewa. Ada kalanya kita memang membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan. Tidak perlu berpura-pura kuat ketika hati sedang lelah.
Namun, jangan sampai kesedihan itu membuat kita lupa bahwa hidup masih menyimpan kemungkinan-kemungkinan baru.
Barangkali, kita hanya perlu menjalani hari ini dengan lebih tenang. Menyelesaikan apa yang bisa diselesaikan, mengusahakan apa yang masih mungkin diusahakan, dan menyerahkan kepada Allah perkara-perkara yang berada di luar kemampuan kita.
Maka Teruslah Tersenyum dan Berbahagialah
Pada akhirnya, hidup tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Kita bisa merencanakan banyak hal, tetapi kenyataan mungkin berjalan ke arah yang berbeda. Kita bisa bekerja keras, tetapi hasilnya tidak selalu datang sesuai keinginan. Kita bisa menjaga seseorang sebaik mungkin, tetapi tidak bisa meminta waktu berhenti agar semuanya tetap seperti semula.
Begitulah hidup. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang berhasil kita raih, ada pula yang harus kita relakan.
Di antara semuanya, kita belajar menjalani bagian yang menjadi tanggung jawab kita: berusaha dengan sungguh-sungguh, menjaga hubungan dengan sesama, memperbaiki kesalahan, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selebihnya, kita belajar menerima bahwa manusia punya batas.
Maka, ketika hidup terasa berat, tidak ada salahnya berhenti sejenak. Jika lelah, beristirahatlah. Jika sedih, beri waktu kepada diri sendiri. Jika gagal, cobalah lagi ketika sudah siap.
Kita tidak harus menunggu semua persoalan selesai untuk mulai menikmati hidup. Tidak perlu menunggu semua keinginan terpenuhi untuk bersyukur. Dan tidak harus menunggu masa depan menjadi pasti untuk menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Ibtasim, falaisa hunāka mā takhsaruh. Tersenyumlah. Bukan karena hidup selalu berjalan sesuai keinginan, melainkan karena kita tidak ingin menghabiskan waktu yang terbatas hanya untuk mencemaskan segala sesuatu.
Farabbuka maujud. Allah ada untukmu.
Warizquka maktub. Rezekimu telah tertulis.
Waumruka mahdud. Umurmu terbatas.
Maka teruslah berusaha, tetaplah berdoa, dan jangan lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani. Maka teruslah tersenyum dan berbahagialah. Sebab, di tengah segala hal yang belum selesai, kita masih punya hari ini untuk disyukuri.
Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan