Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID

Di tengah perbedaan itu, sejumlah klub memilih mencari investor, menjual saham, atau menerima perubahan kepemilikan. Sebagian berhasil melanjutkan perjalanan dengan identitas baru, sementara yang lain tidak mampu mempertahankan kegiatan tim profesionalnya

MENGELOLA klub sepak bola membutuhkan uang yang tidak sedikit. Persoalannya bukan hanya pada kontrak pemain dan pelatih, tetapi juga menyediakan lapangan latihan, membeli perlengkapan, membiayai perjalanan tandang, hingga memenuhi kebutuhan tim selama kompetisi berlangsung.

Berbagai sumber menyebutkan, bagi klub besar seperti Persib Bandung, anggaran satu musim diperkirakan mencapai Rp160 miliar.

Sementara bagi klub yang berlaga di Liga 4, pengurus harus berhitung lebih cermat. Dengan dana terbatas, mereka harus memastikan pemain bisa berlatih, kebutuhan pertandingan terpenuhi, dan tim tetap dapat mengikuti kompetisi sampai selesai.

Perbedaan anggaran itu memperlihatkan dua keadaan dalam sepak bola Indonesia. Ada klub yang mampu mengontrak pemain dengan nilai miliaran rupiah, tetapi ada pula klub yang harus mencari sponsor agar bisa membiayai perjalanan tandang.

Persoalan keuangan bahkan bisa menentukan masa depan sebuah klub. Ketika pemasukan tidak lagi cukup untuk menutup pengeluaran, pengurus harus mencari jalan keluar. Ada yang mendatangkan investor, menjual saham, atau melepas kepemilikan. Ada pula yang akhirnya menghentikan kegiatan tim profesionalnya.

Di sisi lain, akuisisi menjadi bagian dari dinamika sepak bola nasional. Sejumlah klub berganti pemilik, nama, bahkan markas. Namun, tidak semua perubahan itu disebabkan oleh kebangkrutan. Ada yang dilakukan untuk memperkuat modal dan mengembangkan bisnis, sementara yang lain menjadi jalan keluar ketika pemilik lama kesulitan mempertahankan klub.

Rp160 Miliar untuk Satu Musim

Persib Bandung menjadi salah satu gambaran besarnya biaya mengelola klub di level tertinggi. Anggaran yang diperkirakan mencapai Rp160 miliar per musim mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari gaji pemain, pelatih, dan staf hingga fasilitas latihan, transportasi, akomodasi, serta operasional tim.

Jika dibagi rata selama 12 bulan, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp13,3 miliar per bulan. Sementara jika dibandingkan dengan 34 pertandingan liga, nilainya mencapai sekitar Rp4,7 miliar per pertandingan.

Perhitungan itu hanya gambaran kasar. Anggaran klub tidak seluruhnya dihabiskan pada hari pertandingan, sebab gaji, latihan, pemeliharaan fasilitas, dan kebutuhan operasional lainnya terus berjalan sepanjang musim.

Salah satu komponen pengeluaran terbesar adalah kontrak pemain. Dalam sejumlah estimasi, nilai honor pemain dapat berkisar antara Rp500 juta hingga Rp6 miliar per musim. Besarannya bergantung pada kemampuan, pengalaman, reputasi, dan kesepakatan kontrak masing-masing pemain. Angka tersebut bukan daftar gaji resmi Persib dan tidak berlaku bagi seluruh pemain.

Klub juga harus membayar pelatih dan staf pendukung, termasuk tenaga medis dan fisioterapis. Ketika mengikuti kompetisi Asia, kebutuhan anggaran bertambah karena tim harus menanggung perjalanan internasional, akomodasi, dan berbagai persiapan pertandingan.

Untuk membiayai semua itu, klub tidak hanya mengandalkan uang pemilik. Sponsor, penjualan tiket, merchandise, kerja sama komersial, serta hadiah kompetisi menjadi bagian dari sumber pemasukan.

Namun, pemasukan tidak selalu sejalan dengan pengeluaran. Kontrak pemain tetap harus dibayar, sementara pendapatan sponsor dan kegiatan komersial dapat berubah. Karena itu, klub dengan anggaran besar sekalipun membutuhkan perencanaan keuangan yang matang.

Persija Jakarta juga menjadi bagian dari pembicaraan mengenai besarnya modal untuk membangun tim kompetitif. Sempat beredar rumor bahwa Macan Kemayoran menyiapkan anggaran sekitar US$30 juta atau setara ratusan miliar rupiah untuk menghadapi musim berikutnya.

Angka tersebut, memunculkan gambaran mengenai besarnya dana yang dibutuhkan untuk membangun skuad yang mampu bersaing di level tertinggi. Selain mendatangkan pemain, klub harus menyiapkan biaya untuk membayar pelatih dan staf, bonus pertandingan, fasilitas latihan, perjalanan tandang, serta kebutuhan operasional selama satu musim.

Namun, angka US$30 juta itu perlu diperlakukan sebagai rumor, bukan anggaran resmi Persija, selama belum ada konfirmasi dari manajemen klub. Besarnya modal yang disebut-sebut tersebut juga tidak otomatis berarti seluruh dana akan dibelanjakan untuk transfer atau gaji pemain.

Pada akhirnya, baik Persib maupun Persija menghadapi kebutuhan yang sama sebagai klub papan atas: menjaga kualitas skuad sekaligus memastikan operasional tim berjalan sepanjang musim. Perbedaannya terletak pada besaran anggaran, strategi pengelolaan, dan sumber pendanaan yang dimiliki masing-masing klub.

Di Liga 4, Biaya Perjalanan Pun Harus Dihitung

Situasinya berbeda ketika melihat klub-klub Liga 4. Biaya mengikuti kompetisi bergantung pada kebijakan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI, jumlah pertandingan, jarak perjalanan, dan fasilitas yang tersedia.

Sebagai gambaran, biaya pendaftaran klub dapat berkisar antara Rp2 juta hingga Rp10 juta. Setelah terdaftar, pengurus masih harus menyediakan dana untuk transportasi, konsumsi pemain, perlengkapan pertandingan, sewa lapangan latihan, dan kebutuhan medis.

Untuk kompetisi dengan fasilitas sederhana, biaya operasional dapat mencapai puluhan juta rupiah. Dalam estimasi tertentu, kebutuhan itu bisa mendekati Rp100 juta, bergantung pada jumlah pertandingan dan biaya perjalanan. Jika klub harus membayar honor pemain dan pelatih, menyediakan fasilitas latihan yang lebih baik, atau melaju ke babak lanjutan, anggarannya bisa meningkat menjadi ratusan juta rupiah.

Bagi pengurus klub kecil, biaya tersebut bukan perkara ringan. Perjalanan tandang yang jauh dapat menyedot anggaran, terlebih jika tim harus menginap. Pengeluaran untuk konsumsi, perlengkapan, dan kebutuhan latihan juga harus diperhitungkan.

Sumber pendanaan biasanya berasal dari sponsor lokal, pengusaha daerah, komunitas, atau pihak yang memiliki kepedulian terhadap sepak bola. Namun, dukungan itu tidak selalu mudah didapat, terutama bagi klub yang belum memiliki basis suporter besar atau daya tarik komersial yang kuat.

Maka, bagi sebagian klub Liga 4, menyelesaikan kompetisi merupakan pekerjaan besar tersendiri. Pengurus bukan hanya memikirkan susunan pemain dan strategi pertandingan, tetapi juga memastikan uang yang tersedia cukup untuk membawa tim sampai akhir musim.

Ketika Klub Tak Lagi Sanggup Membiayai Diri Sendiri

Masalah keuangan bukan cerita baru dalam sepak bola Indonesia. Sejumlah klub yang pernah berlaga di kompetisi nasional mengalami kesulitan pendanaan, bahkan harus menghentikan kegiatan tim profesionalnya.

Mastrans Bandung Raya, misalnya, pernah menjuarai Liga Indonesia 1995/1996. Namun, klub tersebut kemudian menghadapi masalah finansial dan bubar pada 1997. Prestasi yang pernah diraih ternyata tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan klub.

Persis Solo juga pernah mengalami masa sulit. Pada Januari 2011, pengurus mengumumkan pengunduran diri dari Divisi Utama dan pembubaran tim. Salah satu persoalan yang disampaikan saat itu adalah tidak tersedianya anggaran operasional yang memadai.

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keuangan dapat menghentikan perjalanan klub, terlepas dari sejarah dan dukungan suporter yang dimilikinya.

Meski demikian, klub yang berhenti bertanding tidak selalu berarti bangkrut secara hukum. Ada yang membubarkan tim profesional, ada yang vakum, dan ada pula yang tetap memiliki organisasi atau menjalankan pembinaan pemain. Karena itu, jumlah klub yang benar-benar bangkrut tidak bisa disamakan dengan jumlah klub yang sudah tidak tampil di kompetisi.

Akuisisi atau Bubar

Ketika keuangan semakin sulit, mencari investor baru dapat menjadi salah satu jalan keluar. Namun, akuisisi tidak selalu berarti sebuah klub sudah bangkrut. Dalam sejumlah kasus, perubahan kepemilikan dilakukan untuk menambah modal, memperbaiki pengelolaan, atau memperbesar peluang bersaing.

Cilegon United menjadi salah satu contoh klub yang mengalami perubahan kepemilikan setelah menghadapi kesulitan pendanaan. Mantan Presiden Cilegon United, Yudi Apriyanto, pernah menceritakan kesulitan mencari uang dan fasilitas latihan. Pada 31 Maret 2021, klub tersebut diakuisisi RANS Entertainment dan Prestige Motorcars, kemudian berganti nama menjadi RANS Cilegon FC.

Akuisisi itu membuka jalan bagi klub untuk melanjutkan kiprahnya dengan dukungan pemilik baru. Kasus tersebut memperlihatkan bahwa ketika sumber dana lama tidak lagi memadai, masuknya investor bisa menjadi pilihan untuk mempertahankan kegiatan klub.

Persiba Bantul juga pernah menghadapi persoalan pembiayaan. Pada 2019, pengurus menyebut kebutuhan dana klub mencapai sekitar Rp1,2 miliar dan menawarkan 75 persen saham kepada investor. Saham tersebut kemudian dibeli Soekeno, pemegang saham mayoritas PSS Sleman.

Bagi pemilik yang kesulitan menyediakan dana, melepas saham dapat menjadi cara agar klub tetap memiliki peluang untuk bertahan. Sementara bagi investor, mengambil alih klub bisa menjadi jalan untuk masuk ke industri sepak bola tanpa harus membangun organisasi dari awal.

Namun, pergantian kepemilikan bukan jaminan bahwa semua persoalan akan selesai. Pemilik baru tetap harus menyediakan modal, memenuhi kewajiban klub, membangun tim, dan mencari sumber pemasukan yang berkelanjutan.

Malut United dan Perubahan Identitas Klub

Perubahan kepemilikan juga dapat membawa perubahan nama dan markas. Salah satu contoh yang menarik adalah perjalanan Malut United.

Klub tersebut lahir melalui proses akuisisi Putra Delta Sidoarjo, kemudian menggunakan nama Malut United dan bermarkas di Kota Ternate. Pada 2024, klub itu berhasil promosi ke Liga 1. Dalam musim pertamanya di kasta tertinggi, Malut United mampu finis di posisi ketiga.

Namun, perjalanan dengan identitas Maluku Utara itu kemudian memasuki babak baru. Menjelang musim 2026/2027, klub berganti nama menjadi Java United dan memindahkan markas ke Semarang setelah perubahan identitas tersebut disetujui dalam Kongres Biasa PSSI pada 2026.

Perubahan ini perlu dibedakan dari kebangkrutan. Klub tidak berhenti beroperasi, melainkan melanjutkan kiprahnya dengan nama dan domisili baru. Meski demikian, bagi masyarakat Ternate dan pendukung Malut United, perubahan tersebut menandai berakhirnya identitas klub sebagai wakil Maluku Utara di kompetisi tertinggi.

Kasus ini memperlihatkan bahwa dalam sepak bola modern, nama dan markas klub dapat berubah mengikuti keputusan pemilik serta strategi pengembangan bisnis. Perubahan itu mungkin membuka peluang baru bagi klub, tetapi juga dapat menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan klub dengan daerah asal dan suporternya.

Bagi investor, klub sepak bola bukan sekadar nama atau logo. Ada kebutuhan operasional yang harus dibiayai setiap musim. Ada pemain dan staf yang harus dibayar, kompetisi yang harus diikuti, serta kewajiban organisasi yang tetap berjalan. Jika tidak disertai perencanaan jangka panjang, perubahan kepemilikan saja tidak cukup untuk menjamin masa depan klub.

Tidak Sekadar Membeli Nama Klub

Akuisisi klub menjadi salah satu bagian dari dinamika sepak bola Indonesia. Ada pemilik yang melepas klub karena tidak lagi sanggup membiayainya, ada investor yang masuk untuk mengembangkan bisnis, dan ada pihak yang mengambil alih klub untuk membangun kekuatan baru di kompetisi.

Namun, membeli klub berbeda dengan membangun bisnis yang sehat. Investor harus menghitung kebutuhan dana untuk satu musim, memperkirakan pemasukan, dan menyiapkan strategi agar klub tidak terus-menerus bergantung pada suntikan modal.

Klub besar memiliki peluang lebih luas untuk memperoleh pemasukan dari sponsor, penjualan tiket, merchandise, dan kerja sama komersial. Sementara klub di kasta bawah sering kali bergantung pada dukungan pengusaha lokal, komunitas, atau pemilik yang bersedia menanggung kebutuhan tim.

Ketika sumber pendanaan terhenti, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pengurus. Pemain, pelatih, staf, dan masyarakat yang mendukung klub ikut menanggung akibatnya. Klub bisa kehilangan kesempatan bertanding, pemain kehilangan tempat untuk mengembangkan karier, dan daerah kehilangan salah satu wadah pembinaan sepak bola.

Karena itu, keberlangsungan klub tidak cukup ditopang oleh modal awal. Pengelolaan keuangan, kepastian pendanaan, pembinaan pemain, dan kemampuan membangun hubungan dengan suporter serta sponsor juga menentukan apakah sebuah klub bisa terus berjalan.

Persib Bandung dengan anggaran yang diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah dan klub Liga 4 dengan kebutuhan puluhan hingga ratusan juta rupiah berada dalam skala yang jauh berbeda. Namun, keduanya tetap menghadapi pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan klub mampu memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan keberlangsungan pada musim berikutnya?

Bagi klub besar, tantangannya adalah menjaga daya saing dan prestasi. Bagi klub kecil, persoalannya bisa lebih sederhana sekaligus lebih mendesak: memastikan dana tersedia agar tim tetap bisa berlatih dan bertanding.

Di tengah perbedaan itu, sejumlah klub memilih mencari investor, menjual saham, atau menerima perubahan kepemilikan. Sebagian berhasil melanjutkan perjalanan dengan identitas baru, sementara yang lain tidak mampu mempertahankan kegiatan tim profesionalnya.

Pada akhirnya, fulus memang menjadi bagian penting dalam sepak bola. Namun, besarnya anggaran saja tidak cukup. Tanpa sumber pemasukan yang jelas dan pengelolaan yang sehat, klub dengan sejarah panjang sekalipun dapat kehilangan tempatnya di kompetisi.

Sementara bagi klub yang berjuang di kasta bawah, setiap musim bukan hanya soal mengejar kemenangan atau promosi. Ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting: mencari dana, menutup biaya operasional, dan memastikan tim masih bisa turun ke lapangan pada musim berikutnya.

Jalan Keluar

Persoalan keuangan klub sepak bola tidak cukup diselesaikan dengan mendatangkan pemilik baru. Jika sumber pemasukan tetap terbatas, masalah yang sama bisa kembali muncul beberapa musim kemudian. Karena itu, klub perlu membangun cara pengelolaan yang memungkinkan kegiatan tim berjalan tanpa terus-menerus bergantung pada suntikan dana pemilik.

Langkah pertama adalah menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan keuangan. Klub harus memiliki perencanaan anggaran satu musim, termasuk biaya gaji pemain dan pelatih, perjalanan, fasilitas latihan, serta kebutuhan operasional lainnya. Perekrutan pemain juga perlu mempertimbangkan kemampuan klub memenuhi kontrak hingga selesai, bukan hanya keinginan membangun skuad yang kuat dalam waktu singkat.

Transparansi menjadi hal penting. Pengurus perlu mengetahui berapa pemasukan yang benar-benar tersedia, berapa kewajiban yang harus dibayar, dan berapa dana yang masih bisa digunakan. Dengan pembukuan yang tertib dan evaluasi berkala, potensi masalah keuangan dapat diketahui sebelum berkembang menjadi tunggakan gaji atau membuat klub kesulitan mengikuti kompetisi.

Klub juga perlu memperluas sumber pendapatan. Sponsor tetap penting, tetapi pemasukan sebaiknya tidak hanya bergantung pada satu perusahaan atau seorang pemilik. Penjualan tiket dan merchandise, kerja sama dengan pelaku usaha lokal, kegiatan komunitas, serta pengembangan akademi sepak bola dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Untuk klub yang memiliki basis suporter kuat, keterlibatan pendukung dalam kegiatan komersial juga bisa dikembangkan secara terencana.

Bagi klub Liga 4, pendekatannya tentu berbeda. Mereka tidak harus meniru pengeluaran klub besar. Prioritasnya adalah memastikan kebutuhan dasar kompetisi terpenuhi. Kerja sama dengan pemerintah daerah, sekolah, pengusaha setempat, dan komunitas bisa membantu menyediakan lapangan latihan, perlengkapan, transportasi, atau dukungan dana. Bentuk dukungan tersebut perlu dilakukan secara transparan dan sesuai aturan yang berlaku.

Pembinaan pemain muda juga patut menjadi investasi jangka panjang. Klub dapat membangun kerja sama dengan sekolah sepak bola dan akademi di daerah untuk mencari serta mengembangkan talenta lokal. Selain memperluas kesempatan pemain muda, langkah ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada perekrutan pemain dari luar dengan biaya tinggi. Namun, hasilnya tidak instan dan tetap membutuhkan pelatih yang kompeten serta program pembinaan yang konsisten.

Di tingkat kompetisi, PSSI dan operator liga juga memiliki peran penting. Persyaratan lisensi klub yang mencakup aspek olahraga, infrastruktur, administrasi, hukum, dan keuangan perlu diterapkan secara konsisten. I.League telah menjalankan evaluasi lisensi dengan mencakup lima aspek tersebut, termasuk kondisi finansial klub. Pengawasan sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kelengkapan dokumen, tetapi juga mendorong klub memiliki rencana pendanaan yang masuk akal dan kemampuan memenuhi kewajibannya.

Perlindungan pemain dan staf juga tidak boleh diabaikan. Kasus tunggakan gaji menunjukkan bahwa masalah keuangan klub dapat langsung berdampak pada orang-orang yang bekerja di dalamnya. Mekanisme penyelesaian sengketa dan penegakan aturan harus berjalan agar kewajiban kontrak tidak sekadar menjadi janji di atas kertas.

Akuisisi tetap bisa menjadi jalan keluar ketika sebuah klub membutuhkan modal baru. Namun, calon investor dan pemilik lama perlu memastikan kejelasan kewajiban, kondisi keuangan, serta rencana bisnis setelah pengambilalihan. Tujuannya bukan hanya menyelamatkan klub untuk satu musim, melainkan membangun fondasi agar klub tetap berjalan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengelolaan klub bukan semata-mata besarnya anggaran atau jumlah pemain bintang yang dimiliki. Klub juga harus mampu membayar kewajiban tepat waktu, menjaga kegiatan operasional, mengembangkan pemain, dan mengikuti kompetisi tanpa terus dibayangi ketidakpastian pendanaan.

Bagi klub besar, langkah itu berarti menjaga keseimbangan antara ambisi meraih prestasi dan kemampuan keuangan. Bagi klub kecil, artinya memastikan dana untuk satu musim tersedia sebelum kompetisi dimulai. Keduanya membutuhkan perencanaan yang berbeda, tetapi sama-sama memerlukan tata kelola yang sehat.

Jika pembenahan itu dilakukan secara konsisten, penjualan klub atau pergantian pemilik tidak harus menjadi jalan terakhir ketika keuangan memburuk. Sebaliknya, investasi dan kerja sama bisnis dapat menjadi bagian dari pengembangan klub. Dengan demikian, klub tidak hanya bertahan dari satu musim ke musim berikutnya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk tumbuh tanpa mengorbankan masa depannya. (*)