Oleh: Abcandra M. Akbar Supratman
Wakil Ketua MPR RI / Anggota DPD RI

Saya meyakini, Polri memiliki modal besar untuk terus tumbuh menjadi institusi yang semakin profesional, modern, dan humanis. Profesional dalam menjalankan tugas, modern dalam menghadapi tantangan zaman, serta humanis dalam melayani masyarakat.

RASA AMAN sering kali menjadi sesuatu yang baru kita sadari ketika ia mulai hilang. Namun, selama semuanya berjalan baik, kita menganggapnya sebagai hal yang biasa. Anak-anak berangkat sekolah dengan tenang. Pedagang membuka usahanya sejak pagi. Masyarakat beribadah dengan khusyuk. Aktivitas ekonomi terus bergerak. Semua terasa normal.

Padahal, di balik “hal yang biasa” itu, ada kerja panjang yang dilakukan setiap hari. Ada orang-orang yang memastikan keamanan tetap terjaga, hukum tetap ditegakkan, dan masyarakat bisa menjalani kehidupannya dengan nyaman.

Di situlah makna pengabdian seorang Bhayangkara.

Hari Bhayangkara ke-80, bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah institusi. Lebih dari itu, ini adalah momen untuk melihat kembali bagaimana Polri terus bertumbuh mengikuti perubahan zaman. Dunia bergerak semakin cepat. Tantangan keamanan pun ikut berubah.

Hari ini, ancaman tidak hanya datang dari jalanan. Kejahatan hadir di ruang digital, menyasar siapa saja tanpa mengenal usia maupun profesi. Penipuan daring, judi online, perdagangan orang, penyalahgunaan narkotika, hingga kejahatan siber, menjadi tantangan yang membutuhkan cara kerja yang semakin adaptif dan profesional.

Di saat yang sama, ekspektasi masyarakat juga semakin tinggi. Pelayanan publik dituntut semakin cepat. Penegakan hukum harus semakin adil. Transparansi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Masyarakat ingin melihat institusi negara yang tidak hanya bekerja, tetapi juga mampu membangun kepercayaan.

Dan kepercayaan adalah sesuatu yang tidak bisa dibangun dalam semalam.

Kepercayaan itu lahir dari konsistensi. Dari pelayanan yang tulus. Dari keberanian menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Dari kesediaan mendengar kritik, lalu menjadikannya sebagai bahan untuk terus memperbaiki diri.

KEPERCAYAAN DAN KRITIK MASYARAKAT

Karena itu, hasil Survei Indonesia Development Monitoring (IDM) pada April 2026 patut menjadi perhatian bersama. Sebanyak 79,2 persen masyarakat menyatakan percaya terhadap kinerja Polri dalam pelayanan dan penegakan hukum. Di sisi lain, 75,1 persen responden mengaku puas terhadap upaya Polri dalam menangani berbagai tindak pidana, mulai dari perjudian, perdagangan orang, penyalahgunaan narkotika, kejahatan ekonomi, hingga penimbunan BBM dan pangan.

Angka-angka tersebut tentu menjadi kabar baik. Namun, kepercayaan publik tidak boleh dipandang sebagai garis akhir. Justru sebaliknya, menjadi amanah yang harus terus dijaga.

Masih ada masyarakat yang menyampaikan kritik dan harapan. Itu adalah bagian dari demokrasi yang sehat. Sebuah institusi akan semakin kuat ketika mampu mendengarkan, mengevaluasi, dan terus berbenah.

Saya meyakini, Polri memiliki modal besar untuk terus tumbuh menjadi institusi yang semakin profesional, modern, dan humanis. Profesional dalam menjalankan tugas, modern dalam menghadapi tantangan zaman, serta humanis dalam melayani masyarakat.

Indonesia membutuhkan Polri yang hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam menjaga persatuan, menciptakan rasa aman, dan mengawal pembangunan bangsa.

Karena pada akhirnya, pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga membutuhkan stabilitas. Membutuhkan kepastian hukum. Dan yang paling mendasar, membutuhkan rasa aman.

Di usia ke-80, semoga semangat pengabdian Bhayangkara terus menjadi energi untuk menghadirkan pelayanan yang semakin baik. Menjadi institusi yang semakin dipercaya, semakin dekat dengan masyarakat, dan semakin mampu menjawab tantangan zaman.

Selamat Hari Bhayangkara ke-80.

Teruslah mengabdi untuk masyarakat, menjaga kepercayaan, dan menguatkan Indonesia. (*)

(*)

Editor: Ruslan Sangadji