Oleh: Tommy Rusihan Arief / Mantan Direktur Media PSSI
Pertandingan Brasil kontra Jepang di 32 besar Piala Dunia 2026 ini akan sangat seru dan pasti beda. Apa yang bikin beda? Nyali. Determinasi. Satu frekuensi untuk “membunuh” lawan. Itu modal yang tidak semua negara punya.
25 Juni 2026, Stadion AT&T Arlington. “Samurai Biru” Jepang menahan Swedia 1-1. Hasil itu mengunci posisi runner-up Grup F di bawah Belanda. Sesuai bagan FIFA, tugas berikutnya sudah menunggu: Brasil, juara Grup C.
Lapangan: Stadion NRG, Houston.
Waktu: Selasa, 30 Juni 2026, pukul 00.00 WIB.
Ini bukan sekadar laga. Ini “Guru vs Murid”.
- Dari Amatir ke Raksasa Asia: Resep Jepang
Awal 1980-an, sepakbola Jepang masih dianggap primitif. JFA tidak diam. Akhir 80-an mereka keliling dunia: Thailand, Indonesia, Inggris, Argentina, Brasil, Jerman, Italia.
Studi banding itu melahirkan JSL, cikal bakal kompetisi semi-pro. Bahkan GALATAMA Indonesia ikut jadi referensi.
Tahun 1992, J-League lahir. JFA memaksa semua klub melepas nama perusahaan:
Yamaha Motors → Jubilo Iwata
Matsushita Electric → Gamba Osaka
Sumitomo → Kashima Antlers
Mitsubishi → Urawa Red Diamonds
Nissan Motors → Yokohama Marinos
Hasilnya cepat. Dalam hitungan tahun, Jepang juara Piala Asia 1992 dengan skuad yang baru naik dari semi-pro ke pro. Ambisinya tidak berhenti: langsung bidik tuan rumah World Cup 2002 bareng Korsel.
Dampaknya? Gila. Negara yang identik dengan baseball dan sumo, tiba-tiba jadi kekuatan Asia yang diperhitungkan Eropa dan Amerika Latin.
- Pabrik Pemain: Dari Sekolah ke Eropa
Jepang bikin sistem yang sakral: kompetisi usia dini U-8 sampai U-16 di klub, wajib ada liga SD-SMP-SMA-Universitas.
Hasilnya: 22 pemain Jepang di Eropa saat ini. 16 di antaranya di Premier League.
Contohnya:
- Junya Ito – dari Liga Mahasiswa Universitas Kanagawa, kini di Reims, Ligue 1. Cetak gol vs Tunisia, pakai no. 14 di Samurai Biru.
- Daichi Kamada – Kapten SMA Higashiyama Kyoto. Belajar bahasa Jerman karena Nakoto Hasebe, juara DFB-Pokal bareng Frankfurt 2018, lalu angkat FA Cup bareng Crystal Palace 2024/25. Cetak 2 gol vs Belanda & Tunisia di World Cup ini.
- Ayase Ueda – Striker no. 9 Feyenoord. Sejak usia 6 tahun sudah bintang. MVP Liga Kanto JUFA 2 tahun beruntun, 26 gol dari 46 laga. Sekarang jadi starter tetap timnas no. 18.
- Sang Arsitek & “Kode Rahasia” Tsubasa
Hajime Moriyasu. Pelatih yang katanya pakai “angka-angka” khusus di pinggir lapangan. Cuma pemainnya yang paham.
Hasilnya: Belanda 2-2, Tunisia 4-0, Swedia 1-1. Tanpa kalah di Grup F. Wajar kalau Carlo Ancelotti pusing tujuh keliling.
Karena lawan Jepang kali ini bukan cuma 11 pemain. Lawannya adalah bayangan “Kapten Tsubasa: Road to 2002”.
Komik legendaris Yoichi Takahashi tahun 1981 itu meramal: suatu hari Jepang akan menantang “gurunya”, Brasil, di panggung Piala Dunia. Tsubasa dari Sao Paulo ke FC Catalunya. Fiksi tahun 2002. Kenyataan tahun 2026.
JFA literally membingkai visi itu. Targetnya jelas: Juara World Cup. Entah 2026, atau 2050.
- Bukti di Lapangan
Jepang sudah kasih sinyal:
Oktober 2025: Kalahkan Brasil 3-2, Ghana 2-0, Bolivia 3-0 di Kirin Cup. Mar 2026: Kalahkan Skotlandia, Inggris, Islandia 1-0 semua.
Grup F 2026: Imbang Belanda 2-2, hajar Tunisia 4-0, imbang Swedia 1-1.
Apa yang bikin beda? Nyali. Determinasi. Satu frekuensi untuk “membunuh” lawan. Itu modal yang tidak semua negara punya.
Jadi, 30 Juni 2026 nanti malam kita lihat apa?
Apakah ini momen kanvas imajinasi Yoichi Takahashi jadi kenyataan dan mempermalukan “dewa” sepakbola Brasil?
Atau Ancelotti masih menyimpan satu kartu truf yang belum pernah dipelajari Tsubasa?
Samurai Biru vs Samba. Fiksi vs Realita. 90 menit untuk sejarah.
Sumpah, ini bakal panas! (*)
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan