Dr. Mohammad Tavip S.H., M.H / Akademisi, Pemerhati Sepak Bola
Masa kecil di kota kelahiranku, Palu, tidak ada yang bilang Sepak Bola. Yang ada cuma Bola Kaki. Logikanya sederhana dan sosiologis:
Kalau Sepak Bola, yang ditendang bolanya.
Kalau Bola Kaki… kalau bolanya tidak kena, ya kakinya yang kena tendang. Ini mevinti namanya.
Jadi mainnya tampak lebih alami, jujur, dan pasti lebih sakit. Lebih hidup.
Pertandingan Brazil vs Jepang, Selasa, 30 Juni 2026 dini hari tadi… Itu Sepak Bola atau Bola Kaki?
90 menit saya lihat, bolanya diping-pong.
Tiki-taka, umpan satu dua, cutting inside. Cantik. Estetik.
Itu Sepak Bola. Yang main otak, yang kena bola.
Tapi ada 5 menit terakhir.
Skor mepet. Napas ngos-ngosan.
Tiba-tiba yang dikejar bukan bola lagi.
Yang dikejar kaki. bahu. punggung, kepala, baju/kostum.
Slide tackle dari belakang, duel badan, jatuh bangun.
Itu Bola Kaki. Yang main nyali, yang kena ya kaki.
Jadi Sepak Bola sudah bermain-main.
Kadang dia Sepak Bola: indah, menipu, seni.
Kadang dia bola kaki: kasar, jujur, survival.
Brazil dan Jepang tadi malam main dua-duanya.
Babak pertama mereka menari sama bola sepak.
Babak akhir mereka gulat sama bola kaki.
Dan kita di pinggir lapangan?
Cuma bisa geleng kepala.
Karena ternyata…
Yang kita tonton dari dulu bukan cuma bola.
Tapi juga kaki-kaki yang harus berani menjadi tumbal dan diadu demi bola itu.
Bola Kaki seringkali terlalu jujur. Terlalu sakit.
Ingat Canada vs Qatar, Piala Dunia 2026?
Qatar punya Assim Madibo “babage” kaki dari belakang.
Yang kena bukan bolanya.
Yang kena kakinya Ismael Kone dari Canada.
Tibia fibula patah. Pertandingan usai di menit itu juga buat dia. Kena hukuman si kepala batu itu.
Di situ Sepak Bola berhenti bermain-main.
Dia diam, dan tiba-tiba kita sadar, bahwa bolanya tidak kena, yang kena ya kaki. kaki betulan, punya manusia yang mencari nafkah dari dua tulang dan otot penopang tubuh, bukan KAki LEmbu DOnggala (kaledo)
Makanya saya bilang:
Sudah, tidak usah debat siapa yang lebih hebat.
Yang penting, malam ini kakinya selamat semua.
Karena kalau tidak…Bola Kaki bukan lagi lucu-lucuan. Dia jadi tragedi.
(editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan