“Lomba pidato tausiyah ini bukan sekadar ajang unjuk gigi. Panggung pidato kali ini menjadi mimbar gagasan segar, tempat para mahasiswa menyuarakan pesan-pesan kedamaian, moderasi beragama, dan solusi atas problematika yang dihadapi umat di era modern,”
PALU, KAIDAH.ID – Sebanyak 12 kontingen dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Kawasan Timur Indonesia (KTI), beradu kemampuan dalam cabang lomba Pidato Tausiyah pada ajang Pekan Olahraga, Riset, dan Ornamen Seni Indonesia Timur (Poros Intim) IV, Rabu, Juni 2026 di kampus UIN Datokarama Palu.
Penanggung Jawab Cabang Lomba Pidato Tausiyah Poros Intim IV, Fatharany M.M., mengatakan pelaksanaan lomba berlangsung aman, tertib, dan diikuti peserta yang menampilkan kemampuan terbaik, dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan tantangan zaman.
Untuk kategori putra, lomba diikuti peserta dari UIN Ambon, UIN Datokarama Palu, UIN Alauddin Makassar, UIN Palopo, UIN Mataram, IAIN Ternate, IAIN Bone, IAIN Parepare, IAIN Kendari, IAIN Sultan Amai Gorontalo, IAIN Sorong, dan STAIN Majene.
Sementara kategori putri diikuti peserta dari UIN Ambon, UIN Datokarama Palu, UIN Alauddin Makassar, UIN Palopo, UIN Mataram, IAIN Ternate, IAIN Bone, IAIN Parepare, IAIN Kendari, dan IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Fatharany mengatakan, lomba pidato tausiyah bukan sekadar ajang adu kemampuan berbicara di depan publik, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghadirkan gagasan-gagasan konstruktif, untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Lomba pidato tausiyah ini bukan sekadar ajang unjuk gigi. Panggung pidato kali ini menjadi mimbar gagasan segar, tempat para mahasiswa menyuarakan pesan-pesan kedamaian, moderasi beragama, dan solusi atas problematika yang dihadapi umat di era modern,” ujarnya.
Menurut dia, kompetisi tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan karakter mahasiswa PTKIN, agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Islam dengan realitas sosial yang berkembang.
“Cabang lomba pidato tausiyah tidak hanya mencari peserta yang pandai merangkai kata atau menghafal dalil. Yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa mampu menyelaraskan teks suci dengan realitas sosial, serta menjadi pembawa solusi di tengah masyarakat,” katanya.
Di balik ketatnya persaingan di atas panggung, suasana kebersamaan antarpeserta tetap terasa kuat. Mahasiswa dari berbagai PTKIN saling memberikan dukungan dan semangat selama perlombaan berlangsung.
Fatharany menilai, hal itu menjadi bukti bahwa Poros Intim IV tidak hanya menjadi ajang meraih prestasi, tetapi juga mempererat silaturahmi dan persaudaraan antarmahasiswa PTKIN di Kawasan Timur Indonesia.
“Poros Intim terbukti bukan sekadar wadah untuk berburu medali, melainkan menjadi jembatan silaturahmi yang memperkuat persaudaraan antarmahasiswa PTKIN di wilayah timur Nusantara,” ujarnya. (*)
(Ruslan Sangadji / Advertorial)

Tinggalkan Balasan