Shalat Agar Jiwa Jadi Tenang

  • Bagikan
Ilustrasi Shalat | Foto: Sangga Rima Roman Selia unsplash.com

Shalat merupakan kewajiban bagi umat  Islam dan membuat seorang muslim lebih dekat dengan Allah SWT. Shalat  juga merupakan bentuk tanggung jawab manusia kepada Allah SWT atas segala nikmat yang Allah telah berikan seperti hidup, umur, rezeki dan nikmat yang tiada henti.  

Jaman sekarang, sudah banyak sekolah modern yang mengajarkan tentang rukun shalat, bacaan iqra, dan tata cara melakukan shalat beserta bacaan lengkapnya. Sekolah sendiri juga menerapkan kebiasaan berdoa sebelum belajar, dan berdoa sebelum pulang.  

Menurut (Anam, M. K. 2017), banyak manfaat dari shalat, di antaranya mampu membuat jiwa menjadi tenang, berpikiran jernih, dan mampu mengontrol emosi dengan baik. Hidup yang sehat itu berawal dari pola pikir yang baik, sehingga mampu membuat seseorang bekerja dengan baik dan mudah bergaul dengan teman dan lingkungannya.

Bagi orang tua yang tidak mengenalkan agama yang baik dari mereka kecil sampai mereka beranjak dewasa, itu akan sangat merugikan. Merugikan bagi diri anak itu sendiri dan merugikan bagi orang tua jika mereka sudah tua nanti. Karena anak sudah kehilangan pedoman hidup yang seharusnya menjadi tujuan mereka, untuk mencapai hidup yang lebih baik, karena Allah sendiri memerintahkan hambaNya untuk selalu taat kepadaNya, niscaya Allah akan selalu mempermudah urusannya di dunia maupun di akhirat.

Kecerdasan anak menurut (Daud, F. 2012), dipengaruhi seberapa besar pengaruh orang tua dalam mengenalkan ilmu agama bagi kehidupan anak. Orang tua yang berhasil, adalah memiliki anak yang mampu mengerjakan shalat  dengan baik, menjalankan puasa, dan selalu menjauhi laranganNya. Sehingga membuat anak tersebut mampu memiliki kepribadian yang baik dan mampu mempunyai jiwa sosial yang tinggi.  Tetapi jika anak tidak memiliki pedoman agama yang baik, mereka cenderung acuh tak acuh, walaupun kepada orang tuanya sendiri. Karena jaman sekarang, banyak anak yang tidak menghargai orang tua, teman, dan orang yang berada dalam lingkungannya akibat kurangnya ilmu agama yang diajarkan.

Menurut (Nisya, L. S., & Sofiah, D. 2012), anak yang tidak diperkenalkan agama dengan baik, mereka cenderung melakukan maksiat dan mereka cenderung mengabaikan hal baik dan memilih hal buruk, bahkan itu merugikan diri mereka sendiri. Mereka hanya memikirkan kesenangan sesaat tanpa berpikir dampaknya bagi masa depan.

Masa muda yang dihabiskan dengan hal yang tidak baik, akan berdampak bagi kehidupan masa tua mereka kelak. Masa tua yang terkatung-katung, tidak ada kejelasan ke arah kehidupan yang lebih baik, yang dirasakan hanyalah penyesalan jika tubuh sudah tidak mampu lagi untuk memperbaiki selain urusan agama.  

Inilah pentingnya ilmu agama bagi manusia mampu menuntun ke arah yang lebih baik, dan disiplin dalam menjalankan shalat, sering menjalankan puasa sunnah akan mampu membuat sesorang lebih dekat kepada Allah SWT. Jadikan Allah sebagai leader dalam kehidupan sehari-hari niscaya manusia akan senantiasa berada di jalan yang benar.  

Emosi sendiri mencerminkan ekspresi seseorang dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungan sekolah, lingkungan bertetangga, dan lingkungan kerja. Dalam Islam mengajarkan seseorang untuk selalu bersabar dalam menghadapi masalah dan memahami situasi yang sulit sekalipun. Seseorang perlu memahami emosinya sendiri, karena dapat mengontrol agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena emosi yang tidak bisa terkontrol dapat membuat seorang hilang kendali yang akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Emosi juga tidak selamanya bersifat negatif. Bagi setiap orang yang mampu mengelola emosinya sendiri, dapat memahami perasaan orang lain dan dapat memberikan motivasi kepada dirinya sendiri maupun orang lain, jika sedang menghadapi suatu masalah.

Emosional yang sulit dikendalikan, juga berpengaruh pada suasana hati dan dapat  membuat seseorang mudah tersinggung ataupun menangis, jika mendengar perkataan yang tidak baik atau tindakan kasar yang tertuju kepadanya.

Ada sebagian orang yang mampu mengontrol emosinya dengan baik, sehingga mereka mudah bergaul dan mudah untuk mendapatkan teman di lingkungan di manapun mereka berada. Maka dari itu, perlu bagi setiap orang untuk memahami emosi dan perasaannya sendiri. Semua itu bisa dilakukan dengan rajin beribadah kepada Allah SWT dan berserah diri untuk menghadapi kondisi yang terkadang sulit untuk dihadapi.

Kondisi seseorang yang membuat  mereka merasa terjatuh, bukan hanya dipengaruhi faktor dari luar, terkadang juga dipengaruhi oleh masalah keluarga yang membuat suasana hati menjadi tidak baik. Maka dari itu, perlu bagi semua orang menjadikan agama sebagai pedoman dalam hidupnya. *

Penulis: MARETA YUNADINDA, Mahasiswa Fakultas Psikologi UMM, 202010230311069

  • Bagikan