Mereka tetap berbeda pilihan politik, berbeda daerah, berbeda kepentingan. Tetapi ketika peluit kick-off berbunyi, semua bisa berdiri di sisi yang sama. Mendukung Argentina

ADA FENOMENA menarik di Piala Dunia 2026. Bukan soal gol spektakuler. Bukan pula tentang kejutan Norwegia yang sempat menghebohkan turnamen. Yang mencuri perhatian justru tribun VIP di Indonesia.

Lihat saja. Satu per satu pejabat tampil mengenakan jersey biru-putih Argentina. Mulai dari Wakil Ketua MPR Abcandra M. Akbar Supratman, Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Muhidin M. Said, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, Wali Kota Tidore Muhamad Sinen, hingga masih banyak nama lain yang mungkin tak cukup jika disebut satu per satu.

Seolah ada “koalisi langit biru awan putih” yang terbentuk selama Piala Dunia.

Pertanyaannya sederhana.

Kenapa Argentina?

Padahal sepak bola selalu menawarkan banyak pilihan. Ada Brasil dengan tradisi samba (meskipun sudah game over). Inggris dengan Premier League yang paling banyak ditonton di Indonesia. Spanyol dengan tiki-taka. Prancis dengan deretan pemain muda berbakat.

Namun ketika kamera menyorot acara nonton bareng, warna yang paling sering muncul justru biru-putih.

Mungkin jawabannya sederhana.

Argentina bukan lagi sekadar negara.

Argentina sudah menjadi sebuah cerita.

Cerita tentang perjuangan. Tentang bangkit setelah jatuh. Tentang pemain-pemain yang bermain dengan emosi, bukan sekadar taktik.

Sejak era Diego Maradona hingga Lionel Messi, Argentina berhasil membangun ikatan emosional dengan jutaan penggemar di seluruh dunia. Bahkan, setelah Messi tak lagi menjadi pusat permainan, identitas itu tetap hidup. Siapa pun yang mengenakan jersey Argentina seakan sedang membawa warisan sepak bola yang romantis.

Di Indonesia, romantisme itu rupanya juga masuk ke ruang-ruang pemerintahan.

Lucunya, dukungan para pejabat itu terasa begitu alami.

Mereka tetap berbeda pilihan politik, berbeda daerah, berbeda kepentingan. Tetapi ketika peluit kick-off berbunyi, semua bisa berdiri di sisi yang sama. Mendukung Argentina.

Di depan layar, tak ada lagi fraksi.

Yang ada hanya suporter.

Sepak bola memang punya kekuatan yang jarang dimiliki dunia lain.

Sepak bola bisa menyatukan orang-orang yang sehari-hari sibuk dengan rapat, anggaran, birokrasi, dan keputusan-keputusan besar. Selama 90 menit plus, mereka berubah menjadi penonton yang ikut berteriak ketika bola membentur mistar, ikut menepuk dada saat peluang terbuang, dan ikut melonjak saat gol tercipta.

Itulah mengapa Piala Dunia selalu lebih besar daripada sekadar turnamen.

Piala Dunia adalah panggung emosi.

Dan tahun 2026 ini, tampaknya Argentina kembali menjadi magnet yang sulit ditolak.

Apakah nanti mereka benar-benar menjadi juara?

Belum tentu, karena masih ada Prancis, Inggris, dan Spanyol.

Tetapi jika melihat banyaknya jersey Argentina yang dikenakan para pejabat di berbagai daerah, setidaknya satu hal sudah pasti.

Di Indonesia, Argentina tidak hanya sedang bermain di lapangan.

Mereka juga sedang menang telak di tribun penonton. (*)

(Ruslan Sangadji)