Catatan: M. Nigara | Wartawan Sepakbola Senior
Sebulan ini kita belajar satu hal:
Perbedaan bisa berhenti. Kebencian bisa jeda.
Cukup dengan bola, layar TVRI, dan niat baik.
Bayangkan kalau Presiden RI ke-8 bukan Prabowo Subianto.
Bayangkan kalau beliau tidak diam-diam “gila bola”.
Maka bisa dipastikan: Piala Dunia 2026 di Amerika, Kanada, dan Meksiko tidak akan kita tonton bareng-bareng, gratis, di layar TVRI.
Cukup dengan 3 kata: “Beli dan siarkan.”
Perintah itu mengubah sebulan penuh rakyat Indonesia.
Sepakbola: Kebutuhan, Bukan Hiburan
Di Brasil, sepakbola adalah agama. Di Indonesia, ia kebutuhan.
Dari Istana sampai warung di ujung kampung, 150 dari 280 juta jiwa menunggu satu hal: peluit babak pertama.
Piala Dunia bukan sekadar tontonan. Ia jeda.
Jeda dari harga naik, dari debat politik, dari hidup yang belum tentu.
Selama 90 menit, semua runtuh. Tinggal kita, layar kaca, dan Garuda di dada.
Buktinya? Data Instagram TVRI per 2 Juli 2026: 159 juta pemirsa sudah menyaksikan siaran Piala Dunia FIFA 2026 di TVRI, baik terestrial maupun OTT.
104 pertandingan. Siaran penuh. Tanpa paywall.
Ditambah 7.400 titik nobar di seluruh Indonesia. Ini bukan angka. Ini lautan manusia.
Tepat Sasaran
Jujur saja. Dari sekian banyak program, inilah yang paling “kena”.
Target Prabowo tercapai: rakyat terhibur sebulan penuh, 11 Juni-19 Juli, meski Timnas kita belum lolos.
Tengah malam, dini hari, subuh. Warung kopi penuh. Grup WA rame.
Ada kasus besar? Ada. Penggerebekan di rumah pejabat, sitaan ratusan miliar.
Tapi paginya timeline isinya tetap sama: “Prediksi semifinal: Prancis vs Spanyol. Argentina vs Inggris.”
Hebatnya, kita bisa beda dukungan tanpa saling bacok.
Saat Pileg, Pilkada, Pilpres kita siap berhadapan. Giliran Timnas main, semua berhenti.
Satu yel-yel menyatukan: “Garuda di dadaku! Garuda kebanggaanku! Hari ini Indonesia pasti menang!”
Untuk itu, terima kasih Pak Prabowo. Terima kasih TVRI.
Bukan Sekadar Omongan
Prabowo memang bukan “asal mangap”.
Mantan Ketum IPSI ini serius. Buktinya: Klub Garudayaksa miliknya baru saja juara Liga 2 2025/2026 dan promosi ke Liga 1. Di bawah Onny Widjono Hardjanto, pembinaan jalan. Ada akademi usia dini.
Bahkan saat meluncurkan B50, bahan bakar karya anak bangsa, beliau masih sempat nyelip:
“Saya masih resah karena sepakbola kita belum ke Piala Dunia. Mana Erick Thohir?”
Semua tertawa. Karena kita tahu, beliau nunggu juga.
Sebulan ini kita belajar satu hal:
Perbedaan bisa berhenti. Kebencian bisa jeda.
Cukup dengan bola, layar TVRI, dan niat baik.
Dan itu, mungkin, kemenangan terbesar kita tahun ini.
Editor: Tommy R. Arief

Tinggalkan Balasan