Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID
Perang melawan narkoba baru benar-benar berarti ketika yang diborgol bukan hanya kurir, tetapi juga pengendali, bandar besar, pencuci uang, hingga mereka yang diduga melindungi jaringan dari balik meja.
ENAM MAHASISWA ditangkap membawa 16 kilogram narkoba jenis sabu-sabu di Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu. Publik geger. Polisi bergerak cepat. Kurir diborgol. Satu mahasiswa berinisial MT yang diduga sebagai pengendali masih diburu.
Menurut Direktur Ditresnarkoba Polda Sulawesi Tengah, Kombes Pol. Pribadi Sembiring, mahasiswa berinisial MT itu sudah lari meninggalkan Kota Palu.
Dia sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang alias DPO. Tapi polisi tidak menyebut asal kampus mahasiswa tersebut.
Tapi, benarkah jaringan narkoba benar-benar terpukul?
Belum tentu.
Dalam bisnis narkoba, kurir sering kali hanya “pion”. Mereka memang membawa barang, tetapi bukan pengambil keputusan. Mereka juga bukan pemilik modal. Apalagi bandar.
Jaringan narkoba bekerja layaknya perusahaan. Bedanya, yang dijual adalah barang haram. Semua risiko sudah dihitung. Bahkan kemungkinan kurir tertangkap pun diduga sudah masuk dalam skenario.
Bayangkan begini:
Misalnya sebuah sindikat mampu mengedarkan 500 kilogram sabu dalam sebulan. Mereka lalu memecah pengiriman. Hanya sekitar 50 kilogram yang dibawa lima kurir. Masing-masing dijanjikan bayaran sekitar Rp20 juta.
Kalau lima kurir itu tertangkap, tentu ada kerugian.
Tapi bagaimana kalau 450 kilogram sisanya sudah lolos ke pasar?
Dari sudut pandang bandar, kehilangan sebagian barang bisa jadi hanya dianggap sebagai biaya operasional. Kurir bisa dicari lagi. Barang bisa dikirim lagi. Jalur bisa diganti lagi.
Itulah mengapa penangkapan kurir sering kali belum membuat bisnis narkoba berhenti.
Kurir Datang dan Pergi, Bandar Tetap Bersembunyi
Sebagian besar kurir bahkan tidak tahu siapa bandar sebenarnya.
Mereka hanya mengenal perekrut. Ada yang dihubungi lewat media sosial. Ada yang diperkenalkan teman. Ada pula yang sekadar menerima instruksi lewat aplikasi pesan terenkripsi.
Sistemnya dibuat berlapis.
Kalau satu orang tertangkap, rantai informasi langsung terputus. Bandar tetap aman di belakang layar.
Karena itu, pekerjaan terberat aparat bukan menangkap kurir, melainkan membongkar siapa yang mengendalikan jaringan, siapa yang mengatur uang, dan siapa yang menikmati keuntungan miliaran rupiah dari bisnis haram ini.
Uang Besar Selalu Menggoda
Bisnis narkoba menghasilkan uang dalam jumlah fantastis.
Besarnya keuntungan itulah yang diduga membuat jaringan terus berupaya mencari perlindungan. Dugaan adanya oknum aparat yang bermain dengan bandar bukan cerita baru. Tentu, tuduhan seperti ini harus dibuktikan melalui proses hukum dan tidak boleh digeneralisasi.
Namun faktanya, beberapa kasus besar memang pernah menyeret aparat penegak hukum.
Mantan Kapolda Sumatera Barat, Teddy Minahasa Putra, divonis penjara seumur hidup dalam perkara narkotika yang menggemparkan publik.
Ada pula AKP Andri Gustami, mantan Kasat Narkoba Polres Lampung Selatan, yang dijatuhi hukuman mati setelah terbukti terlibat dalam jaringan narkoba internasional Fredy Pratama.
Terbaru, mantan Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro, juga ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan keterlibatan dalam peredaran narkotika, dan dugaan menerima aliran dana dari bandar.
Kasus-kasus itu memang melibatkan oknum, bukan institusi. Tetapi satu hal menjadi pelajaran: jaringan narkoba akan selalu berusaha membeli pengaruh jika itu bisa melancarkan bisnis mereka.
Perang Belum Dimenangkan
Kasus enam mahasiswa di Palu menyisakan pekerjaan rumah besar.
Kalau polisi hanya menangkap kurir, jaringan akan mencari kurir baru.
Kalau yang ditangkap hanya pembawa barang, bandar tinggal merekrut orang lain.
Perang melawan narkoba baru benar-benar berarti ketika yang diborgol bukan hanya kurir, tetapi juga pengendali, bandar besar, pencuci uang, hingga mereka yang diduga melindungi jaringan dari balik meja.
Sebab selama otaknya masih bebas, bisnis narkoba akan terus beradaptasi.
Kurir boleh berganti.
Jalur boleh berubah.
Tetapi bandar akan tetap menikmati keuntungan, tetap berpesta, sampai akhirnya negara benar-benar mampu memutus rantai bisnis haram itu dari hulunya, bukan sekadar menangkap orang-orang di hilir. (*)

Tinggalkan Balasan