Oleh: Yusuf Ibrahim | Penikmat Sepak Bola

Rekan penulis yang menonon bareng berujar, “Nama boleh Luka Modric, tapi kekalahan itu tak membuatnya terluka. Modric justru tersenyum nyaris tertawa. Tawa Modric, sekarang namanya.”

MENYAKSIKAN cara Kroasia tersingkir dari Piala Dunia 2026 oleh Portugal, saya teringat ucapan pelatih Timnas Ghana, Carlos Queiroz, bahwa sepak bola pada akhirnya adalah bagian dari industri hiburan.

Kalimat itu sejalan dengan pandangan pelatih Senegal, Pape Thiaw, yang pernah mengatakan bahwa sepak bola hanyalah hiburan, sehingga tak boleh mengalahkan kewajiban menghadap Tuhan. Karena itulah, meski cuaca buruk melanda New Jersey, ia tetap membawa para pemainnya keluar hotel untuk menunaikan salat Jumat.

Ya. Sepak bola adalah hiburan. Dimana dalam hiburan ada senyum, tawa, tangis, diam, marah dan kecewa.

Mungkin itulah sebabnya Luka Modric cukup memilih senyum dan tawa ketika gol penyeimbang Kroasia dibatalkan VAR pada detik-detik pertandingn kelar.

Padahal gol itu bisa jadi, membuka peluang timnya tetap bisa lolos ke babak berikutnya lewat perpanjangn waktu atau adu pinalti. Walau orang banyak menduga, Kroasia akan tetap kalah karena tenaganya kalah muda dari Timnas Portugal.

Portugal menyingkirkan Kroasia 2-1 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Pasukan Ronaldo itu sebenarnya tampil lebih dominan sejak awal. Mereka menguasai bola, menciptakan lebih banyak peluang, tetapi justru tertinggal lebih dulu lewat gol Ivan Perišić pada menit 53.

Sementara Kroasia memperlihatkan kekuatan yang selama bertahun-tahun membuat mereka disegani sebagai tim dengan organisasi permainan, disiplin bertahan, dan ketenangan menghadapi tekanan.

Namun Portugal memiliki kedalaman skuad dan energi yang tetap terjaga hingga menit-menit terakhir. Cristiano Ronaldo menyamakan kedudukan melalui penalti dimenit 68. Sebelum Gonçalo Ramos mencetak gol keunggulan pada masa injury time, 90+4.

Drama belum selesai. Pada detik-detik akhir tambahan waktu, Kroasia berhasil mencetak gol penyama kedudukan, 90+12.

Seluruh pemain bersorak. Stadion bergemuruh. Penonton TV terpukau. Prediksi pertandingan ke babak tambahan sudah di depan mata. Tetapi VAR menemukan offside dalam proses gol. Gol dibatalkan. Peluit panjang berbunyi. Piala Dunia untuk Kroasia berakhir hanya karena beberapa sentimeter garis Off side.

Di tengah kenyataan itu, ada satu pemandangan yang justru lebih membekas daripada skor akhir. Camera menyorot wajah Luka Modric. Seketika dia tersenyum nyaris tertawa seraya mengangkat kedua tanganya seolah pasrah, ketika wasit berkata rekannya masuk dalam jebakan off-side.

Luka Modric bukan sembarang pemain. Di usia 40 tahun, ia tetap bermain fulltime. Tetap menjadi otak permainan Kroasia. Mengatur tempo, mengejar bola, dan memimpin rekan-rekannya hingga detik terakhir.

Bahkan sebelum pertandingan, gelandang Portugal, Bernardo Silva, memuji Modric sebagai “idola” dan “inspirasi besar” bagi hampir semua pesepak bola karena kualitas permainan sekaligus cara ia menjalani kariernya.

Lalu, ketika semuanya selesai, kamera menangkap wajah Modric yang disaksikan jutaan penonton Pildun 2026.

Rekan penulis yang menonon bareng berujar, “Nama boleh Luka Modric, tapi kekalahan itu tak membuatnya terluka. Modric justru tersenyum nyaris tertawa. Tawa Modric, sekarang namanya.”

Ya. Itu bisa jadi senyum dan tawa kita semua. Tawa seseorang yang akhirnya berdamai dengan kenyataan pahit. Setelah hasil perjuangan mati-matian tetap berpihak kepada orang lain.

Modric dan skuad Kroasia tetap hebat dan terhormat.

Tabik.

Editor: Ruslan Sangadji