“Sepak bola memiliki kekuatan untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Melalui nonton bareng ini, kita ingin membangun kebersamaan, mempererat silaturahmi, sekaligus menghadirkan hiburan yang sehat bagi masyarakat,” kata Muhidin M. Said

TANARIS CAFE  di Kota Palu mendadak berubah menjadi stadion mini, Ahad, 12 Juli 2026. Layar besar menjadi pusat perhatian. Ratusan pasang mata terpaku. Tak ada yang berani banyak bicara. Di antara kerumunan itu, Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar dari Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah, Muhidin M. Said, tampak larut dalam tensi pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Swiss.

Tatapannya tak lepas dari layar. Sesekali tubuhnya condong ke depan. Tangan mengepal. Wajahnya tegang mengikuti setiap serangan yang dibangun Argentina. Setiap kali peluang emas tercipta, suasana kafe langsung bergemuruh. Ketika peluang itu gagal menjadi gol, terdengar desahan panjang dari seluruh penjuru ruangan.

Inilah sepak bola. Sembilan puluh menit plus yang mampu membuat ribuan orang melupakan segala kesibukan, lalu bersatu hanya karena satu warna jersey dan satu harapan. Argentina.

Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI ini  mengatakan, nonton bareng ini bukan sekadar menyaksikan pertandingan. Lebih dari itu, menjadi ruang mempererat silaturahmi antara masyarakat, pelaku usaha, dan para pemangku kepentingan dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.

“Sepak bola memiliki kekuatan untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Melalui nonton bareng ini, kita ingin membangun kebersamaan, mempererat silaturahmi, sekaligus menghadirkan hiburan yang sehat bagi masyarakat,” kata Muhidin M. Said


Ratusan warga memadati Tanaris Cafe. Mereka datang dari berbagai wilayah di Kota Palu. Bahkan, beberapa di antaranya rela menempuh perjalanan dari Sulawesi Barat demi merasakan atmosfer pertandingan bersama para pendukung Argentina lainnya.

MENGGERAKAN RODA EKONOMI

Politisi senior Partai Golkar ini menilai, kegiatan seperti ini juga menggerakkan roda ekonomi. Kafe penuh, usaha kuliner ramai, transportasi bergerak, hingga pelaku UMKM ikut merasakan dampaknya ketika masyarakat berkumpul menikmati pesta sepak bola terbesar di dunia.

Muhidin M. Said mulai tersenyum saat Argentina unggul 3-2 atas Swiss | Foto: Salihudin/Kaidah

Baginya, Piala Dunia bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah. Di balik setiap pertandingan tersimpan nilai sportivitas, kerja sama, dan persaudaraan yang patut terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat maupun pembangunan daerah.

Ketegangan di dalam kafe sesekali mencair ketika Muhidin M. Said membagikan hadiah kepada para penonton. Gelak tawa dan tepuk tangan kembali memenuhi ruangan sebelum semua mata kembali tertuju ke layar, menanti momen yang bisa mengubah jalannya pertandingan.

Sejumlah tokoh politik, anggota legislatif, pengusaha, akademisi, dan tokoh masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Sekretaris dan Bendahara DPD Partai Golkar Sulawesi Tengah, Ketua DPD Partai Golkar Kota Palu yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Palu, anggota DPRD Sulawesi Tengah Henri Kusuma Muhidin dan Erman Lakuana, serta Nendra Kusuma bersama sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

BERTUKAR GAGASAN MENGENAI EKONOMI DAN PEMBANGUNAN SULTENG

Laga berakhir, atmosfer berubah dari sorak-sorai menjadi ruang diskusi. Muhidin bersama Ketua Kamar Dagang dan Industri Sulawesi Tengah Gufran Ahmad, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Palu, dan sejumlah tokoh lainnya bertukar gagasan mengenai perkembangan ekonomi dan pembangunan Sulawesi Tengah.

Bagi Muhidin, seperti halnya sepak bola, membangun daerah juga membutuhkan kerja sama, komunikasi, dan semangat bermain sebagai satu tim. Karena itu, ia berharap kegiatan semacam ini terus menjadi ruang perjumpaan yang mendekatkan masyarakat dengan para pengambil kebijakan dalam suasana yang lebih cair, akrab, dan produktif. (*)

(Ruslan Sangadji)