Rencana Besar Tuhan

  • Bagikan
Ilustrasi | Foto : Ákos Szabó/Pexels

Umar Usman *

AZALI. Tuhan hanya sendirian, yang ada hanya Dia. Belum ada apa-apa dan siapa-siapa. Alam semesta, galaksi, tata surya, dan manusia belumlah Tuhan adakan. Ruang, waktu, materi, dan energi juga belum mengada. air, angin, api, dan tanah belum ada begitupun malaikat, iblis, surga, dan neraka.

Azali bukan era atau zaman, karena ketika azali, sesuatu yang disebut sebagai era atau zaman itu belum ada. Apakah azali itu? Tuhan hanya sendirian. Konsep mengenai azali ini harus ditegaskan, karena inilah segala konsep membangun awal.

Pada azali inilah Tuhan merancang segala skenario-Nya, mengenai segala kehidupan dari segala makhluk-Nya yang akan Dia adakan dan atau ciptakan. Namun, bukankah ketika azali belum ada apapun selain hanya Tuhan? Jadi, pada azali belum ada konsep, belum ada skenario, tak ada awal dan akhir?

Kalau begitu paska azali? Bukankah azali juga belum memiliki paska. Azali, bukan suatu zaman sebagaimana sejarah yang memiliki era ‘pra’ dan era ‘paska’? Azali bukan semacam renaissance yang mempunyai ‘sebelum’ dan ‘sesudah’? Baiklah, azali tetaplah azali.

Azali. Juga belum ada rangkaian huruf apalagi titik. Yang ada hanya Tuhan itu sendiri. Segalanya dari situ. Samudera dan langit yang maha luas, hingga sebutir debu yang terbang melayang ditiup angin, berawal dari sana.

Untuk renungan, takwil maklumat Allah di bawah ini kita baca dengan seksama:

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS.57: Ayat 22).

Lauh Mahfuz. Dapatkah kita sebut sebagai cetak biru rencana besar Tuhan? Atau pengadaan pertama yang Tuhan adakan? Segala wujud belum mengada, selain Tuhan dan rencana-Nya.

Bila, Lauh Mahfuz dimaknai sebagai suatu rencana-Nya. Artinya, siapapun, apapun, di manapun, dengan apapun, mengapa, bagaimana, dan bilamana tentulah suatu pertanyaan dan jawaban yang telah Tuhan ketahui dalam pengetahuan-Nya.

Mengapa demikian? Karena telah tertulis dan tercatat sebagai suatu kepastian hukum-hukum, kehendak, ketetapan, dan meliputi segala hal ikhwal dalam pengaturan-Nya.

  • Bagikan