Oleh: Amal Alkhairaaty
ANGIN KENANGAN selalu punya caranya sendiri untuk kembali. Ia tak pernah mengetuk, tiba-tiba saja hadir, membawa aroma masa lalu yang samar tapi menggetarkan. Menjelang haul ke-58 Sahibul Haul, Alhaj Assaiyid Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua), rasa itu datang lagi, rindu yang tak tertahankan. Rindu yang tak cukup ditebus dengan doa, tak cukup dipuaskan dengan cerita-cerita lama. Rindu untuk bermuwajah, meski hanya dalam ruang imajinasi.
Saya mencoba mengingat sesuatu yang bahkan bukan sepenuhnya milik ingatan saya. Sebuah kisah yang saya dengar dari Aba, tentang seorang bayi berusia dua tahun yang dipangku oleh seorang ulama besar. Bayi itu adalah saya.
Di sebuah rumah sederhana di depan Masjid Masyhur Istiqlal Manado, seorang tokoh mencium bibir mungil saya. Ia terisak. Suaranya bergetar saat memanggil nama, “Alwy!… saya tidak dapat saudara seperti saudaraku Alwy.”
Saya tak mengingat momen itu. Tapi kisahnya hidup. Dan hari ini, ia menjelma menjadi rindu. Beberapa bulan setelah peristiwa itu, tepatnya pada tanggal 12 Syawal 1389 H/22 Desember 1969 M, kabar duka datang: Beliau berpulang. Sejak saat itu, yang tersisa hanyalah jejak dalam syair, dalam cerita murid-muridnya, dalam denyut perjuangan yang masih terasa hingga kini bernama Alkhairaat.
Namun entah mengapa, menjelang haul tahun ini, rindu itu terasa berbeda. Lebih dalam. Lebih mendesak. Apalagi ketika suasana pelaksanaan haul justru diwarnai riak-riak yang tak semestinya ada. Ada yang bergeser. Ada yang retak.
Dan di titik itulah, imajinasi mengambil alih.
Saya seperti benar-benar berdiri di hadapan Guru Tua. Wajahnya teduh. Tatapannya dalam. Ada cahaya yang menenangkan, sekaligus menggugah.
“Assalamu ‘alaikum, yaa Jiddiy,” ucap saya lirih.
“Wa’alaikumussalam, yaa hafiidiy wa hafiid akhy Alwy,” jawabnya, hangat.
Saya menatap matanya. Ada genangan di sana. Bening, tapi berat.
“Afwan, Jid… dalam damai seperti ini, apakah masih ada yang membuat Jid prihatin?”
Beliau, Guru Tua, tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seorang guru yang melihat murid-muridnya kehilangan arah.
“Cucuku… di sini, Alhamdulillah, Jid dalam keadaan damai. Tapi yang membuat Jid prihatin adalah kalian.”
Kalimat itu jatuh perlahan, tapi terasa menghantam.
Beliau melanjutkan, suaranya tenang namun penuh makna. Ia bercerita tentang harapan, tentang organisasi yang dibangun, tentang madrasah-madrasah yang pernah diperjuangkan dengan ruh dan harta. Tentang cita-cita mengajak umat kepada ilmu dan takwa.
“Seharusnya kalian semakin kokoh… semakin kompak… semakin bermanfaat. Tapi apa yang Jid lihat?”
Saya terdiam.
“Perselisihan. Pertengkaran. Fitnah. Bahkan terputusnya silaturahmi. Padahal kalian bersaudara. Sealmamater. Seperjuangan.”
Setiap kata seperti membuka luka yang selama ini coba ditutup.
“Sebenarnya… apa penyebabnya, Jid?” tanya saya, hampir berbisik.
Beliau memandang jauh, seolah menembus lorong waktu.
“Cucuku… masing-masing merasa membela kemuliaan. Tapi kemuliaan apa yang dibela jika persaudaraan dikorbankan?”
Hening.
“Mungkin ada yang tak memahami akhlak yang dulu Jid ajarkan. Atau ada yang setelah menimba ilmu, justru berpaling… bahkan memusuhi.”
Nada suaranya tidak meninggi. Justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam.
“Tapi yang paling penting,” lanjutnya, “hindari perpecahan. Tanpa persatuan, tak ada yang bisa kalian bangun. Dengan persatuan, seberat apa pun tantangan, akan bisa kalian lewati.”
Saya menunduk. Kata-kata itu sederhana, tapi seperti cermin yang memantulkan wajah kami hari ini.
“Perbedaan itu wajar,” kata Beliau lagi. “Tapi kebencian, dengki, dan memutuskan hubungan—itu yang dilarang.”
Saya mengangguk pelan. Dada terasa sesak.
“Lalu… apa yang harus kami lakukan, Jid?”
Kali ini beliau tersenyum lebih hangat.
“Mendekatlah kepada Allah. Baca kembali sejarah perjuanganku. Pahami syair-syairku. Hayati… lalu amalkan.”
Pesan itu terasa seperti panggilan pulang.
“Waspadalah terhadap provokasi. Jangan jadikan haul sebagai ajang kebanggaan kosong. Laksanakan dengan hidmat. Dengan doa. Dengan hati yang bersih.”
Beliau berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Ambillah nasihat dari ulama yang zuhud… bukan dari mereka yang menjadikan mimbar sebagai panggung kepentingan.”
Angin terasa berhembus lebih pelan. Atau mungkin hati saya yang mulai tenang.
“Sudah itu saja dulu, cucuku.”
Saya ingin mengatakan sesuatu. Tapi kata-kata seolah tertahan di tenggorokan. Air mata jatuh tanpa izin. Dunia di sekitar perlahan memudar.
Saya hanya mampu mencium tangannya-sebuah gestur sederhana yang terasa begitu berat untuk dilepaskan.
“Terima kasih, Jid…”
Suara saya nyaris tak terdengar.
Ketika semuanya kembali sunyi, saya sadar: ini hanya imajinasi. Tapi rasanya lebih nyata dari kenyataan.
Rindu itu belum hilang. Tapi kini ia berubah bentuk-menjadi pengingat, menjadi amanah.
Bahwa mencintai bukan sekadar mengenang, tetapi juga menjaga apa yang telah diwariskan.
Dan mungkin, di situlah rindu menemukan maknanya. (*)
Tulisan ini terilhami dari wawancara imajiner K.H. Mustafa Bisri dengan Khadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari.
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan