DINAMIKA PEMILIHAN Ketua Kamar Dagang dan Industri Sulawesi Tengah – Kadin Sulteng – mulai mengerucut pada tiga nama: Moh. Nur Rahmatu, Endi Hermawan, dan Gufran Ahmad. Ketiganya hadir dengan rekam jejak, jaringan, serta pendekatan yang berbeda, membuat kontestasi ini bukan sekadar soal siapa yang paling dikenal, tetapi siapa yang paling relevan dengan kebutuhan dunia usaha saat ini.
- Moh. Nur Rahmatu
Moh. Nur Rahmatu tampak sebagai figur yang paling “matang” dalam lanskap organisasi. Ia dikenal memiliki pengalaman panjang di tubuh Kadin, memahami ritme internal organisasi, serta memiliki jejaring yang relatif kuat di kalangan pengusaha lokal maupun pemangku kebijakan.
Rekam jejaknya menunjukkan konsistensi dalam mendorong kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah daerah. Dalam konteks ini, peluangnya cukup besar, terutama jika pemilih menginginkan stabilitas dan kesinambungan program.
Namun, tantangan bagi Nur Rahmatu adalah bagaimana meyakinkan bahwa kepemimpinannya tidak sekadar melanjutkan pola lama, tetapi juga mampu menjawab tuntutan zaman yang semakin kompetitif dan digital.
- Endi Hermawan
Kabarnya Endi Hermawan hadir dengan energi yang lebih segar. Latar belakangnya sebagai pengusaha memberi warna pragmatis, dekat dengan realitas lapangan, terutama dalam hal investasi, ekspansi usaha, dan penciptaan peluang baru. Endi berpotensi menarik dukungan dari kalangan pelaku usaha muda atau mereka yang menginginkan perubahan yang lebih progresif.
Peluangnya terletak pada narasi pembaruan: Kadin sebagai motor penggerak ekonomi yang lebih adaptif dan agresif. Namun, ia perlu membuktikan kapasitasnya dalam mengelola organisasi besar yang tidak hanya berbicara bisnis, tetapi juga kepentingan kolektif lintas sektor.
- Gufran Ahmad
Gufran Ahmad berada di posisi yang menarik sebagai figur yang dikenal memiliki pengalaman organisasi, dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok. Ia bisa menjadi titik temu di antara kepentingan yang beragam dalam tubuh Kadin. Rekam jejaknya menunjukkan kecenderungan pada pendekatan kolaboratif, yang sangat penting dalam organisasi yang berisi banyak kepentingan.
Peluang Gufran akan menguat, jika dinamika pemilihan mengarah pada kebutuhan akan figur kompromi, seseorang yang bisa merangkul semua pihak. Namun, ia perlu mempertegas diferensiasi visinya, agar tidak sekadar dipandang sebagai “jalan tengah” tanpa arah yang kuat.
Pada akhirnya, peluang ketiganya sangat ditentukan oleh arah yang ingin diambil Kadin Sulawesi Tengah ke depan. Jika orientasinya stabilitas dan pengalaman, maka Moh. Nur Rahmatu berada di garis depan. Jika mengarah pada pembaruan dan akselerasi bisnis, Endi Hermawan menjadi opsi menarik. Namun jika yang dibutuhkan adalah konsolidasi dan keseimbangan internal, Gufran Ahmad bisa menjadi pilihan strategis.
Kontestasi di Kadin Sulteng ini, bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi tentang wajah Kadin ke depan, apakah akan bertahan dengan pola lama, bertransformasi secara agresif, atau memilih jalan tengah yang inklusif. (*)

Tinggalkan Balasan