INI TENTANG LEBARAN ARAB DI PALU — suasana Lebaran belum benar-benar usai meski Idul Fitri telah lewat sehari. Justru pada tanggal 2 Syawal atau beberapa setelah Shalat Idul Fitri, ada satu tradisi yang ditunggu-tunggu oleh warga keturunan Arab, sebuah perayaan yang mereka sebut Iwwadh, atau lebih akrab dikenal sebagai Lebaran Arab.
Pagi itu biasanya dimulai dengan langkah yang tenang: ziarah. Rombongan menuju makam Habib Idrus bin Salim Aljufri, sosok ulama kharismatik yang oleh masyarakat Palu dipanggil dengan penuh hormat sebagai Guru Tua. Di sana, doa dipanjatkan, kenangan dihidupkan, dan rasa hormat disampaikan dalam hening yang khusyu.
Namun setelah itu, suasana perlahan berubah.
Dari makam, rombongan bergerak, berziarah dari rumah ke rumah para tokoh yang dituakan di kalangan mereka. Di setiap persinggahan, lantunan barzanji, Shalawat dan qasidah menggema, mengisi ruang-ruang rumah dengan irama pujian dan doa. Tuan rumah menyambut dengan hangat, sementara para tamu duduk bersila, larut dalam suasana yang khidmat sekaligus akrab.
“Iwwadh ini sudah lama dilakukan oleh orang tua kami. Sejak zaman Belanda,” tutur Farid Djavar Nassar. “Didahului ziarah ke makam Guru Tua, lalu kami berkunjung dari rumah ke rumah, dan berakhir di Nadoli Wood House.”
Perjalanan itu pun mencapai puncaknya di sebuah rumah tua di kawasan Pasar Tua, rumah keluarga Nadoli, yang dikenal sebagai Nadoli Wood House. Di sinilah suasana berubah menjadi riuh.
Doa-doa yang tadi mengalun pelan, berganti dengan dentuman petasan yang saling bersahutan di udara. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berkumpul di halaman, menengadah ke lantai dua rumah kayu itu.
Lalu momen yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Dari atas, uang mulai ditebar. Lembaran-lembaran itu melayang turun, dan seketika warga berhamburan, berebut dengan tawa dan sorak yang pecah bersamaan. Tidak ada sekat, tidak ada jarak, semua larut dalam kegembiraan yang sederhana.
Menurut penuturan yang berkembang di masyarakat, tradisi Iwwadh telah berlangsung sejak sekitar tahun 1920. Ia diperkenalkan oleh Guru Tua sebagai bagian dari syiar dan kebersamaan umat, khususnya di kalangan komunitas Arab di Palu.
Sejak itu, Iwwadh terus hidup, bertahan melintasi zaman. Dari masa kolonial, hingga hari ini, tradisi itu tetap dijaga, diwariskan, dan dirayakan dengan semangat yang sama.
Iwwadh bukan sekadar perayaan, tetapi ungkapan syukur atas selesainya ibadah Ramadhan selama sebulan penuh. Ia juga menjadi penanda sebelum umat melanjutkan ibadah berikutnya: puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana dianjurkan dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Setahun sekali, Iwwadh datang membawa kemeriahan. Namun lebih dari itu, ia membawa ingatan—tentang tradisi, tentang kebersamaan, dan tentang bagaimana sebuah komunitas merayakan iman dengan cara yang khas.
Dan di Palu, pada setiap 2 Syawal atau lewat, cerita itu selalu terulang, hidup, hangat, dan penuh makna. (*)
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan