Sekarang dengan adanya kepala BGN yang baru, pengawasan sangat ketat dan tidak boleh main-main, terutama dalam penyajian makanan dan saluran limbah

DONGGALA, KAIDAH.ID – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Longki Djanggola, memantau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Longki mengunjungi dua dapur MBG, Rabu, 26 Agustus 2026.

Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan program prioritas Presiden Prabowo Subianto berjalan sesuai sasaran. Sekaligus memastikan makanan yang dibagikan kepada masyarakat memenuhi standar kebersihan, higienitas, dan gizi.

Dapur pertama yang dikunjungi berada di Kabonga Besar, Kelurahan Pangga. Dapur tersebut melayani sekitar 2.900 penerima manfaat. Mereka terdiri atas anak-anak TK, SD, SMP, SMA, serta ibu hamil dan menyusui.

Longki kemudian melanjutkan kunjungan ke dapur MBG di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah. Dapur ini melayani sekitar 2.420 penerima manfaat. Penerimanya berasal dari jenjang TK, SD, MTs, SMP, SMA, MA, serta ibu hamil dan menyusui.

Dalam kunjungan tersebut, Longki memberikan perhatian khusus terhadap kebersihan dapur. Ia meminta Kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, dan mitra pelaksana tidak mengabaikan standar kebersihan dan keamanan makanan.

Menurutnya, makanan harus benar-benar dipastikan higienis sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.

“Sekarang dengan adanya kepala BGN yang baru, pengawasan sangat ketat dan tidak boleh main-main, terutama dalam penyajian makanan dan saluran limbah,” tegas Longki Djanggola.

Ia juga mengingatkan pengelola dapur, agar tidak menganggap remeh standar keamanan pangan dan gizi. Kejadian keracunan makanan yang pernah terjadi harus menjadi pelajaran. Jangan sampai terulang.

Menurut Longki, monitoring tersebut merupakan bagian dari tugasnya sebagai anggota DPR RI. Sekaligus sebagai kader Partai Gerindra.

Ia ingin memastikan program yang menjadi prioritas Presiden Prabowo benar-benar berjalan di lapangan. Bukan sekadar bagus di atas kertas.

Longki mengatakan, MBG merupakan salah satu program prioritas dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Terutama anak-anak. Termasuk kelompok masyarakat yang membutuhkan asupan gizi.

Ia berharap, MBG mampu memastikan tidak ada lagi anak yang kekurangan gizi. Program tersebut juga diharapkan membantu pemerintah menekan angka stunting.

“Jadi tidak ada lagi rakyat yang lapar. Begitu juga ibu hamil dan menyusui, sehingga angka stunting bisa berkurang,” ujarnya.

Soroti Limbah

Selain makanan, Longki Djanggola menyoroti persoalan limbah dari dapur MBG. Ia meminta setiap dapur memiliki sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang baik.

Pengelolaan limbah harus mengikuti standar yang ditetapkan pemerintah pusat. Jangan sampai keberadaan dapur MBG justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat sekitar.

“Setiap dapur MBG harus memperhatikan IPAL dan saluran pembuangan limbah. Pembuangan harus betul-betul sesuai standar yang ditetapkan BGN pusat,” harap Longki Djanggola.

Ia menilai, limbah tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil. Jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat. Baik melalui pencemaran lingkungan maupun gangguan terhadap kenyamanan warga.

“Jangan ada lagi pembuangan limbah yang meresahkan masyarakat setempat,” tegasnya.

Longki mengatakan, pengawasan yang dilakukan tidak hanya menyasar program MBG.

“Yang kami monitoring dan awasi ini seluruh program Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, MBG, Sekolah Rakyat, Koperasi Desa Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, dan swasembada pangan,” pungkasnya.

Longki berharap seluruh program tersebut dilaksanakan secara tepat sasaran dan transparan. Yang paling penting, manfaatnya harus benar-benar dirasakan masyarakat. Termasuk masyarakat Sulawesi Tengah yang menjadi daerah pemilihannya.

Program besar, kata Longki, harus diikuti pengawasan yang besar pula. Sebab, keberhasilan MBG bukan hanya soal berapa banyak makanan yang dibagikan. Tetapi juga soal kualitas makanan, kebersihan dapur, keamanan gizi, dan lingkungan yang tetap terjaga. (*)

(Ruslan Sangadji)