Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
KEMARIN, 12 Rabiul Awwal, kita memperingati hari kelahiran manusia mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Umat Islam di seluruh Indonesia memperingatinya dengan berbagai cara dan tradisi.
Di media sosial, ucapan Maulid Nabi berseliweran. Ada yang menuliskannya dalam status, membuat flyer, poster, sampai memasangnya di spanduk-spanduk perayaan di masjid dan aula-aula gedung. Semua itu menjadi tanda, bahwa kecintaan kepada Rasulullah masih hidup dan terus dirawat di tengah masyarakat.
Tetapi, di tengah semarak itu, ada satu hal kecil yang membuat saya kembali berpikir.
Kita sering menulis nama Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya dengan singkatan SWT. Nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun cukup ditulis SAW.
Mengapa harus selalu disingkat?
Untuk menulis status di media sosial, jari kita bisa begitu ringan. Untuk berkomentar, kita bisa menulis panjang. Bahkan untuk menuliskan nama orang yang kita kagumi, kita tidak keberatan menulis lengkap dengan gelar dan segala atributnya.
Tetapi ketika sampai pada nama Allah dan Rasul-Nya, beberapa huruf tambahan terasa seperti sesuatu yang mesti dihemat.
Wallahi, kita terlalu pelit.
Pelit bin medit untuk menulis Subhanahu wa Ta’ala. Pelit bin skakar untuk menulis Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Padahal, kita sedang menyebut nama Allah Yang Maha Agung dan bershalawat kepada manusia paling mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa penggunaan singkatan SWT dan SAW itu salah. Singkatan tersebut sudah sangat lazim digunakan, terutama dalam tulisan-tulisan yang panjang. Ada juga pertimbangan teknis dan kepraktisan.
Tetapi ini bukan soal menyalahkan orang lain. Ini lebih kepada mengingatkan diri sendiri. Sesekali, mari kita bertanya kepada hati: apa sebenarnya yang sedang kita hemat? Beberapa huruf. Beberapa detik. Itu saja.
Allah tidak membutuhkan tulisan kita. Rasulullah juga tidak membutuhkan tambahan huruf dari kita. Kitalah yang membutuhkan adab itu. Kitalah yang membutuhkan rasa cinta dan penghormatan itu.
Jangan sampai kita begitu murah hati menghabiskan waktu untuk membicarakan berbagai urusan dunia, tetapi begitu hemat ketika menulis nama Allah *Subhanahu wa Ta’ala.
Jangan pula kita begitu mudah menuliskan nama dan gelar atasan atau bos secara lengkap, tetapi merasa berat menuliskan shalawat untuk Rasulullah secara utuh.
Padahal, kalau dipikir-pikir, apa susahnya?
Menulis Subhanahu Wata’ala hanya membutuhkan sedikit tambahan waktu.
Menulis Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga tidak akan membuat tangan kita capek.
Mungkin justru dari perkara-perkara kecil seperti inilah kita belajar tentang adab. Bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya soal ucapan besar, perayaan besar, atau spanduk besar. Kadang-kadang, bisa hadir dalam hal yang sangat sederhana: bagaimana kita menyebut nama-Nya dan bagaimana kita bershalawat kepada Rasul-Nya.
Karena itu, ketika menulis nama Allah, mari sesekali kita tuliskan dengan lengkap: Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan ketika menulis Rasulullah, mari kita sempatkan menulis: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Semoga yang tertulis bukan sekadar rangkaian huruf. Semoga ada rasa hormat, cinta, dan pengagungan yang ikut menyertainya.
Sebab yang kita tambahkan mungkin hanya beberapa huruf. Tetapi mudah-mudahan, yang tumbuh di dalam hati jauh lebih besar daripada huruf-huruf itu.
Jangan pelit.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Tinggalkan Balasan