Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID
Kebaikan akan tinggal dalam ingatan masyarakat. Kebaikan hidup dalam perubahan yang dirasakan. Kebaikan tumbuh dalam kehidupan orang-orang yang pernah disentuh oleh kebijakan, keberanian, dan ketulusan seorang pemimpin
GURU MENULIS SAYA bernama Haji Nungci Haji Ali. Bagi mereka yang mengenalnya, nama itu terasa begitu akrab. Ada yang memanggilnya Aba Onci. Ada pula yang menyebutnya Aba Nungci. Sebagian lagi cukup memanggilnya Aba. (Allahu Yarham).
Saya termasuk yang terakhir.
Saya memanggilnya Aba.
Ada satu percakapan dengan Aba yang sampai hari ini masih saya ingat. Percakapan sederhana, tetapi menyisakan pelajaran yang dalam tentang manusia, jabatan, usia, dan kekuasaan.
Suatu hari, Gubernur Sulawesi Tengah Profesor Emeritus Haji Aminuddin Ponulele berulang tahun.
Di tengah percakapan, Aba berkata kepada saya:
“Hei… Papua.”
Begitulah Aba biasa memanggil saya.
Lalu Aba melanjutkan:
“Yang ulang tahun hari ini bukan gubernur, tapi Aminuddin Ponulele.”
Saya tersenyum ketika mendengarnya. Tetapi semakin saya renungkan, semakin saya memahami bahwa kalimat itu bukan sekadar gurauan atau permainan kata.
Aba sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi sangat mendasar.
Gubernur tidak berulang tahun.
Yang bertambah usia adalah seseorang yang sedang memikul amanah sebagai gubernur.
Sebab gubernur adalah jabatan yang memiliki batas waktu, memiliki masa, dan pada akhirnya akan berganti. Hari ini seseorang duduk di kursi gubernur, suatu hari nanti orang lain akan duduk di sana.
Tetapi seseorang di balik jabatan itulah yang terus berjalan bersama waktu.
Ia bertambah usia. Bertambah pengalaman. Bertambah pengetahuan. Dan, bertambah pula kebijaksanaan.
Mungkin itulah sebabnya saya teringat kembali pesan Aba ketika hari ini Doktor Haji Anwar Hafid bertambah usia.
Bukan gubernurnya yang berulang tahun.
Yang bertambah usia adalah Doktor Haji Anwar Hafid, seorang yang sedang diberi Allah amanah untuk menjadi gubernur.
Dan ulang tahun seorang pemimpin semestinya tidak berhenti pada ucapan selamat, kue, lilin, atau hitungan angka. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang telah dilakukan dengan usia yang Tuhan berikan?
Sebab umur bukan sekadar angka yang bertambah.
Umur juga adalah kesempatan yang berkurang.
Setiap satu tahun yang berlalu, sesungguhnya adalah satu bagian perjalanan hidup yang tidak mungkin kembali. Lantaran itu, bertambah usia seharusnya bukan hanya alasan untuk bersyukur, tetapi juga kesempatan untuk melakukan perenungan.
Sudahkah usia menjadi manfaat? Sudahkah kehadiran menjadi kebaikan? Sudahkah kewenangan menjadi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan?
Bagi seorang pemimpin, ukuran usia bukan hanya berapa lama ia hidup. Lebih jauh dari itu, ukuran usia adalah berapa banyak manfaat yang lahir dari hidupnya.
Berapa banyak orang yang merasa didengar.
Berapa banyak mereka, yang semula kehilangan harapan kembali menemukan jalan.
Berapa banyak persoalan yang perlahan menemukan penyelesaian.
Dan berapa banyak kebaikan yang tumbuh dari keputusan-keputusan yang dibuatnya.
Di situlah makna usia yang bermanfaat.
Tetapi seorang pemimpin, tidak cukup hanya menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya sendiri atau bagi lingkaran terdekatnya. Kepemimpinan menuntut sesuatu yang lebih besar: kemaslahatan.
Sebab kekuasaan tanpa kemaslahatan, pada akhirnya hanya menjadi jabatan.
Jabatan boleh berakhir.
Kekuasaan boleh berpindah.
Kursi kepemimpinan suatu hari akan ditempati orang lain.
Tetapi kebaikan tidak mengenal masa jabatan.
Kebaikan akan tinggal dalam ingatan masyarakat. Kebaikan hidup dalam perubahan yang dirasakan. Kebaikan tumbuh dalam kehidupan orang-orang yang pernah disentuh oleh kebijakan, keberanian, dan ketulusan seorang pemimpin.
Mungkin inilah makna terdalam dari pesan Aba kepada saya bertahun-tahun lalu.
Pisahkan seseorang dari jabatannya.
Hormati jabatannya, karena itu adalah amanah. Tetapi lihatlah orangnya sebagai manusia, yang suatu hari akan meninggalkan jabatan dan kembali menjadi dirinya sendiri, menjadi saudara, keluarga, paman, kakak atau adik.
Sebab ketika jabatan telah selesai, yang tersisa bukan kursinya.
Yang tersisa adalah nama, kenangan, dan jejak.
Karena itu, ulang tahun Doktor Haji Anwar Hafid hari ini, bukan sekadar perayaan bertambahnya angka usia. Namun sebagai pengingat bahwa setiap tahun yang berlalu membawa pertanyaan yang sama:
Sudah sejauh mana usia ini memberi arti?
Semoga semakin bertambah usia, semakin dalam pula kebijaksanaan.
Semakin besar amanah, semakin kuat kerendahan hati.
Semakin luas kewenangan, semakin luas pula kepedulian.
Dan semakin dekat seseorang dengan kekuasaan, semakin dekat pula ia dengan kesadaran, bahwa kekuasaan itu tidak pernah abadi.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari panjang usianya, tingginya jabatan, atau lamanya ia berada dalam kekuasaan.
Ia akan dikenang dari jejak kebaikan yang ditinggalkannya.
Maka, selamat bertambah usia, Doktor Haji Anwar Hafid, yang diberi amanah sebagai Gubernur Sulawesi Tengah.
Semoga Allah menganugerahkan usia yang panjang dalam kebaikan; usia yang bermanfaat bagi sesama; dan usia yang menghadirkan kemaslahatan bagi Sulawesi Tengah.
Karena usia yang paling indah bukan sekadar usia yang panjang. Melainkan usia yang memberi arti.
Dan barangkali, itulah yang dahulu ingin diajarkan Aba kepada saya dengan kalimat sederhananya: “Yang ulang tahun bukan gubernur, tapi seorang tokoh yang menempati jabatan itu.
Kini saya semakin mengerti. Sebab jabatan akan selesai. Tetapi manusia dan jejak yang ditinggalkannya, akan terus dikenang.
Selamat Ulang Tahun Doktor Haji Anwar Hafid, yang kebetulan Allah beri amanah menjadi Gubernur Sulawesi Tengah. Barakallah fi Umrik. Mabruk Alfa Mabruk ‘Alaika Mabruk. (*)

Tinggalkan Balasan