Di kawasan industri IMIP, 61.169 pekerja Gen Z kini menjadi bagian dari cerita besar hilirisasi mineral. Angka itu mungkin hanya satu baris dalam laporan ketenagakerjaan. Namun, di baliknya ada ribuan perjalanan hidup yang sedang berlangsung
DI KAWASAN industri IMIP waktu memiliki iramanya sendiri. Mesin-mesin bekerja, proses produksi terus berjalan, dan ribuan orang menjalankan perannya masing-masing. Di antara denyut aktivitas industri pengolahan mineral itu, ada satu generasi yang jumlahnya begitu besar: para Gen Z atau anak-anak muda yang sedang menapaki perjalanan menuju masa depan.
Mereka datang dari berbagai latar belakang. Sebagian membawa ijazah SMA atau SMK, sebagian lainnya menyandang gelar diploma dan sarjana. Ada yang mungkin baru pertama kali mengenal dunia kerja, ada pula yang mulai merintis perjalanan profesionalnya. Di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), mereka bukan sekadar menjadi penonton pertumbuhan industri. Mereka berada di dalamnya, menjadi bagian dari roda yang terus berputar.
Wajah anak-anak muda itu tergambar jelas dalam data ketenagakerjaan kawasan IMIP. Berdasarkan rekapitulasi Human Resources Departmen (HR) per 24 Oktober 2026, dari total 101.846 pekerja, sebanyak 61.169 orang atau 60,06 persen merupakan generasi Z (Gen Z), kelompok yang lahir pada rentang 1997 hingga 2012.
Dengan kata lain, lebih dari separuh tenaga kerja di kawasan industri terintegrasi berbasis mineral nikel tersebut, berasal dari generasi yang kini sedang berada dalam usia produktif awal.
Angka itu menyimpan cerita yang lebih luas daripada sekadar komposisi demografi. Ia memperlihatkan bagaimana industri pengolahan dan hilirisasi mineral telah menjadi salah satu ruang bagi generasi muda untuk memasuki dunia kerja, memperoleh pengalaman, serta membangun pijakan bagi kehidupan profesional mereka.
Media Department Head PT IMIP, Dedy Kurniawan, memandang dominasi Gen Z sebagai gambaran besarnya keterlibatan kelompok usia muda dalam aktivitas industri. Kehadiran mereka menjangkau berbagai bidang, mulai dari operasional produksi hingga fungsi-fungsi pendukung.
“Dominasi Gen Z menunjukkan bahwa sektor industri menjadi salah satu ruang bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman profesional, mengasah keterampilan, dan memahami kebutuhan dunia kerja. Mereka menjadi bagian penting dalam aktivitas industri yang terus berkembang,” kata Dedy Kurniawan, Kamis, 5 November 2026.
Di belakang kelompok terbesar itu, terdapat generasi lain yang juga mengisi ruang-ruang pekerjaan. Sebanyak 38.750 pekerja atau 38,05 persen merupakan generasi milenial berusia 30–45 tahun. Sementara itu, pekerja berusia 46 tahun ke atas tercatat sebanyak 1.927 orang atau sekitar 1,89 persen.
Berbagai generasi tersebut bertemu dalam satu lingkungan industri. Pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang berbeda menjadi bagian dari dinamika kerja sehari-hari. Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan produktivitas, setiap generasi memiliki ruang untuk berkontribusi.
Ijazah, Keterampilan, dan Perjalanan Panjang Bernama Pekerjaan
Ada hal menarik lainnya dari wajah tenaga kerja IMIP: latar belakang pendidikan mereka.
Sebanyak 65.965 pekerja atau 64,77 persen merupakan lulusan SMA dan SMK. Kelompok ini menjadi yang terbesar dalam komposisi pendidikan pekerja. Sementara itu, lulusan sarjana (S1) berjumlah 28.623 orang atau 28,10 persen, disusul lulusan diploma sebanyak 4.766 orang atau 4,68 persen. Adapun pekerja dengan pendidikan SD, SLTP, dan pascasarjana mencapai 2.492 orang atau 2,45 persen.
Komposisi tersebut memperlihatkan, bahwa industri membuka ruang bagi tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan mereka yang datang dengan gelar akademik tinggi, tetapi juga tenaga terampil yang mampu menjalankan pekerjaan teknis dan operasional sesuai standar.
Bagi lulusan SMA dan SMK, memasuki kawasan industri dapat menjadi babak baru setelah menyelesaikan pendidikan formal. Pengetahuan yang sebelumnya diperoleh di ruang kelas bertemu dengan praktik di lingkungan kerja. Teori berhadapan dengan kebutuhan produksi, sementara keterampilan dasar berkembang melalui pengalaman dan pembelajaran.
Di tempat seperti inilah, pekerjaan bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dan menerima penghasilan. Ada disiplin yang harus dibangun, prosedur yang harus dipahami, ketelitian yang perlu dijaga, serta tanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain.
Standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), misalnya, bukan sekadar aturan yang tertulis dalam dokumen perusahaan. Ia menjadi bagian penting dari budaya kerja yang harus dipahami dan diterapkan setiap pekerja. Demikian pula kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Bagi generasi muda, semua itu merupakan proses pembelajaran yang berlangsung seiring perjalanan karier. Sebab, memasuki dunia industri hanyalah satu langkah awal. Tantangan berikutnya adalah menjaga kemampuan tetap relevan, terus belajar, dan berani meningkatkan kapasitas diri.
Hilirisasi Juga tentang Manusia
Pertumbuhan industri pengolahan mineral di Morowali kerap dilihat dari kapasitas produksi, investasi, dan nilai tambah yang dihasilkan. Namun, ada dimensi lain yang tidak kalah penting: manusia yang bekerja di dalamnya.
Ketersediaan lapangan kerja menjadi salah satu jalur bagi masyarakat untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi. Kehadiran industri turut memperluas kesempatan kerja di Morowali, Sulawesi Tengah, dan kawasan Indonesia Timur.
Di balik aktivitas produksi, terdapat kesempatan bagi tenaga kerja untuk memperoleh penghasilan, membangun pengalaman, dan meningkatkan kemampuan. Bagi masyarakat lokal, kesempatan tersebut juga membuka peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam perkembangan ekonomi daerah.
Namun, kesempatan kerja tidak serta-merta menyelesaikan seluruh tantangan ketenagakerjaan. Ketersediaan tenaga kerja harus berjalan beriringan dengan kesiapan kompetensi. Perubahan teknologi dan kebutuhan industri menuntut pekerja untuk terus belajar, sementara pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi bekal penting dalam menjembatani kebutuhan perusahaan dengan kemampuan pencari kerja.
Peningkatan kualitas tenaga kerja lokal menjadi pekerjaan yang tidak boleh diabaikan. Masyarakat setempat perlu memiliki kesempatan untuk berkembang, bukan hanya dalam jumlah keterlibatan, tetapi juga dalam penguasaan keterampilan dan jenjang profesional.
Dedy Kurniawan menegaskan, masa depan ketenagakerjaan di kawasan industri IMIP tidak cukup hanya bertumpu pada perluasan kesempatan kerja. Kualitas sumber daya manusia dan lingkungan kerja yang aman juga harus menjadi perhatian.
“Ke depan, tantangan yang perlu dijawab bukan hanya memperluas kesempatan kerja, tetapi juga memastikan tenaga kerja muda memiliki kompetensi memadai, berada pada lingkungan kerja yang aman, dan mempunyai kesempatan berkembang secara profesional,” ucapnya.
Di kawasan industri IMIP, 61.169 pekerja Gen Z kini menjadi bagian dari cerita besar hilirisasi mineral. Angka itu mungkin hanya satu baris dalam laporan ketenagakerjaan. Namun, di baliknya ada ribuan perjalanan hidup yang sedang berlangsung.
Ada masa depan yang sedang dirintis, kemampuan yang terus diasah, dan harapan yang tumbuh bersama kesempatan kerja.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan industri tidak hanya tentang seberapa banyak mineral yang berhasil diolah atau seberapa besar nilai tambah yang dihasilkan. Ada ukuran lain yang tak kalah penting: seberapa besar pertumbuhan itu mampu membuka jalan bagi manusia untuk hidup lebih baik, berkembang, dan menjadi bagian dari masa depan bangsanya. (*)

Tinggalkan Balasan