TOLITOLI, KAIDAH.ID – Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli, Jemi Yusuf, menegaskan pentingnya pelaksanaan Rembug Tani sebagai forum musyawarah dan dialog antara petani, kelompok tani (poktan), penyuluh pertanian, serta dinas terkait dalam menghadapi musim tanam April-September (MT Asep) 2026.

Hal tersebut disampaikan Jemi Yusuf dalam kegiatan Rembug Tani yang berlangsung pada Jumat, 6 Maret 2026, bertepatan dengan 16 Ramadhan 1447 Hijriah.

Menurutnya, penentuan jadwal tanam membutuhkan kesepakatan bersama dari berbagai pihak dan pemangku kepentingan, agar seluruh sarana dan prasarana pertanian dapat dipastikan siap sebelum musim tanam dimulai.

“Rembug Tani merupakan forum musyawarah dan dialog antara petani, kelompok tani, penyuluh pertanian, serta dinas terkait untuk menentukan jadwal tanam pada musim tanam April-September 2026,” kata Jemi Yusuf dari Fraksi Partai Gplkar ini.

Ia menjelaskan, dalam forum tersebut, sejumlah aspek penting menjadi perhatian bersama. Salah satunya adalah ketersediaan benih unggul bagi petani di Kabupaten Tolitoli.

Menurutnya, kebutuhan benih untuk musim tanam 2026 masih menjadi tantangan karena produksi dari balai benih belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan petani.

“Saat ini produksi benih melalui fasilitas Balai Benih Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Tolitoli baru mampu memenuhi sekitar 10 hingga 20 persen dari total kebutuhan benih petani di Tolitoli,” ucapnya.

Selain benih, ketersediaan pupuk subsidi juga menjadi perhatian utama, khususnya untuk mendukung lahan sawah yang telah ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Ia menyebutkan, terdapat sekitar 9.165 hektare lahan sawah LP2B di Kabupaten Tolitoli, yang telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2022. Selain itu, terdapat pula program ekstensifikasi atau pencetakan sawah baru pada tahun 2025 seluas 110 hektare.

Permasalahan lain yang dibahas, adalah kondisi jaringan irigasi yang mengalami kerusakan cukup signifikan.

“Sekitar 52 persen saluran dan jaringan irigasi mengalami kerusakan, sehingga perlu pengaturan dan pendistribusian air yang baik agar lahan LP2B dapat terairi melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A),” ungkapnya.

Jemi Yusuf juga menekankan pentingnya ketersediaan alat dan mesin pertanian, seperti hand traktor, jonder, serta mesin panen padi combine harvester.

Menurutnya, perhitungan kebutuhan mesin harus dilakukan secara cermat agar petani tidak mengalami kerugian akibat kehilangan hasil panen atau losses karena keterbatasan alat panen.

Selain itu, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) juga perlu dipastikan untuk mendukung operasional mesin pertanian, baik pada saat pengolahan tanah maupun saat panen.

Ia berharap Rembug Tani dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan kesepakatan bersama sebagai langkah perencanaan yang matang untuk mendukung upaya swasembada pangan.

“Semoga Rembug Tani dapat berjalan dan terlaksana dengan baik sebagai langkah perencanaan bersama dalam mendukung swasembada pangan,” kata Jemi Yusuf. (*)

(Ruslan Sangadji)