Perjalanan malam menuju Surabaya itu berubah menjadi mimpi buruk bagi para penumpang Argo Bromo Anggrek. Tabrakan dengan Commuter Line di kawasan Bekasi Timur, Senin, 27 April 2026 sekitar pukul 20.55 WIB, menyisakan luka, trauma, dan cerita yang tak mudah dilupakan.

Di antara para penyintas, ada dua nama yang membawa kisah masing-masing: Nur Arifin dan Stephanie Erlyna, keduanya adalah pegawai di Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), yang akan mengisi acara sosilisasi royalti musik di forum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, di Surabaya.

Nur Arifin: “Saya Lihat Potongan Tubuh Korban”

Benturan itu datang tiba-tiba. Tanpa aba-aba. Dalam hitungan detik, tubuh Nur Arifin terpental ke kursi depan. Suara keras logam beradu memenuhi gerbong, disusul kepanikan yang tak terkendali.

Arifin mengaku sempat kebingungan. Ia mengira kereta hanya menabrak sesuatu atau mungkin anjlok. Namun, suara-suara dari penumpang lain segera memecah dugaan itu.

“Ada yang teriak nabrak KRL, nabrak KRL,” ujarnya.

Di tengah situasi kacau, ia juga mencium bau hangus. Suasana semakin mencekam. Saat akhirnya berhasil keluar dari gerbong sekitar pukul 22.00 WIB, pemandangan di luar membuatnya terdiam.

Ia melihat korban bergelimpangan. Bahkan, potongan tubuh tampak di antara kekacauan itu.

“Saya lihat ada potongan kaki korban,” katanya lirih.

Secara fisik, Arifin mengalami memar di beberapa bagian tubuh. Betis kaki kirinya masih terasa sakit dan kram. Namun, yang paling membekas justru apa yang ia lihat malam itu, gambar-gambar yang terus terulang dalam ingatannya.

Stephanie Erlyna: “Masih Terbayang Suara Orang Minta Tolong”

Di dalam gerbong yang sama, Stephanie Erlyna juga merasakan detik-detik mengerikan itu. Tubuhnya ikut terpental saat benturan terjadi. Dalam sekejap, suasana berubah dari tenang menjadi penuh jeritan.

Yang paling ia ingat bukan hanya benturannya, tetapi suara-suara setelahnya.

“Pak tolong Pak, tolong Pak,” ucapnya, menirukan teriakan yang hingga kini masih terngiang.

Dua malam setelah kejadian, Stephanie mengaku belum bisa tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, suara itu kembali hadir, seolah kejadian itu belum benar-benar berlalu.

Ia mengalami memar di lengan kiri, kaki kiri, dan punggung kanan. Luka itu terasa, tetapi tidak sebanding dengan trauma yang ia rasakan.

Stephanie dan Arifin sama-sama menyadari satu hal: mereka selamat karena duduk di kelas eksekutif. Sebuah posisi yang, dalam situasi itu, menjadi pembeda antara selamat dan kemungkinan yang lebih buruk.

Perjalanan dengan Argo Bromo Anggrek, yang semula bertujuan menghadiri sosialisasi royalti musik di Surabaya, berubah menjadi pengalaman yang mengguncang hidup. Bagi Arifin dan Stephanie, malam itu bukan sekadar kecelakaan, melainkan peristiwa yang akan terus hidup dalam ingatan, tentang suara, tentang rasa takut, dan tentang betapa tipisnya batas antara selamat dan sebaliknya. (*)

(Ruslan Sangadji)