Ramadhan adalah waktu ketika manusia diajak kembali melihat hidup dengan mata hati. Dalam keheningan puasa, kita sering bertanya: mengapa hidup berjalan seperti ini? Mengapa ada yang mudah meraih kebahagiaan, sementara yang lain harus melalui banyak beleid? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada perenungan tentang nasib dan takdir.
Dalam pandangan spiritual, takdir bukanlah sekadar garis kaku yang memaksa manusia menjalani hidup tanpa pilihan. Para sufi memandang takdir sebagai rahasia kebijaksanaan Tuhan yang sering tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa kehidupan.
Manusia diberi kemampuan untuk berusaha. Ia bekerja, merancang masa depan, berdoa, dan berharap. Namun pada suatu titik, ia menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam genggamannya. Ada kehendak Ilahi yang mengalir di balik setiap kejadian.
Bagi para pencari jalan spiritual, memahami takdir bukan berarti berhenti berusaha. Seorang hamba tetap berikhtiar sekuat tenaga, tetapi hatinya tidak menggantungkan diri pada hasil. Ia sadar bahwa usaha adalah kewajiban manusia, sedangkan hasil adalah rahasia Tuhan.
Ramadhan mengajarkan sikap ini dengan cara yang sangat halus. Kita berpuasa sepanjang hari, menahan lapar dan dahaga, sementara hasil dari ibadah itu sepenuhnya kita serahkan kepada Allah. Kita tidak tahu bagaimana pahala dicatat, bagaimana doa dikabulkan, tetapi kita tetap melangkah dengan keyakinan.
Dalam tasawuf dikenal sebuah maqam yang disebut ridha, yaitu menerima dengan lapang apa pun yang datang dari Allah. Ridha bukan berarti pasif atau menyukai penderitaan, tetapi sebuah kepercayaan mendalam bahwa setiap peristiwa membawa hikmah yang sedang membentuk jiwa.
Kadang manusia menyebut sesuatu sebagai nasib buruk, padahal mungkin di situlah Tuhan sedang membersihkan hatinya. Kegagalan bisa menjadi pelajaran. Kehilangan bisa menjadi pintu kesadaran. Bahkan luka kadang menjadi jalan untuk kembali kepada Tuhan.
Di bulan Ramadhan, ketika malam menjadi sunyi dan doa dipanjatkan dalam tahajud, manusia perlahan memahami, bahwa hidup bukan sekadar rangkaian kejadian. Hidup adalah perjalanan jiwa menuju Sang Pencipta.
Karena itu, para sufi tidak terlalu gelisah memikirkan masa depan dan tidak tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Mereka hidup di saat ini, dengan hati yang bersandar kepada Allah.
Barangkali di situlah letak ketenangan para pecinta Tuhan: mereka tidak selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi mereka percaya bahwa apa pun yang diberikan oleh Allah, adalah yang paling mereka butuhkan.
Ramadhan mengajarkan kita satu pelajaran yang sederhana namun dalam: berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan sepenuh hati, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan.
Sebab di balik setiap nasib dan takdir, selalu ada hikmah yang sedang menunggu untuk dipahami oleh hati yang sabar. (*)
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan