Oleh: Farid Dj. Nasar / Penikmat Musik Jazz

Jumat, 01 Mei 2026 malam itu, langkah saya terasa ringan menuju sebuah sudut hangat di Jalan SIS Aljufri. Cafe Auk, tempat yang biasanya menjadi ruang santai penuh obrolan ringan, mendadak berubah menjadi panggung kecil yang menyimpan kejutan besar.

Sebuah flyer sederhana, tentang pertunjukan jazz, cukup untuk menggoda rasa penasaran saya dan beberapa teman. Saya pun datang tanpa ekspektasi berlebih, hanya ingin menikmati malam bertabur jazz.

Namun, sejak saya duduk, suasana sudah berbicara lain.

Kursi-kursi penuh. Percakapan terdengar lebih pelan dari biasanya, seolah semua orang sepakat menunggu sesuatu yang istimewa. Ada getaran antisipasi di udara, hal yang jarang muncul dari sebuah kafe sederhana.

Dan benar saja, kejutan itu datang tanpa aba-aba panjang.

Satu per satu nama diperkenalkan. Rehan Munif Bachmid di balik keyboard. Nama itu seketika memancing bisik-bisik kecil. Rehan adalah putra dari musisi kawakan Munif Bachmid. Di sampingnya, Ijal Taha Bachmid, gitaris muda yang ternyata masih bagian dari lingkar keluarga musik yang sama.

Lalu hadir Izzed Amudi sebagai vokalis, anak muda dengan pengalaman panggung yang tak bisa diremehkan, bahkan telah mencicipi atmosfer kafe-kafe musik di Bali.

Malam itu bukan sekadar pertunjukan. Malam itu terasa seperti pertemuan darah seni yang mengalir lintas generasi.

Tanpa banyak basa-basi, mereka membuka dengan “Spain” komposisi jazz legendaris yang tak mudah ditaklukkan. Pilihan yang berani, bahkan untuk musisi berpengalaman sekalipun. Namun justru di situlah letak magisnya.

Petikan gitar Ijal mengalun jernih, berpadu dengan permainan keyboard Rehan yang matang. Sesekali, Rehan mengangkat trompetnya, meniupkan nada yang dalam dan emosional. Ruangan mendadak hening, seolah semua orang lupa sedang berada di sebuah kafe kecil. Musik itu tidak hanya dimainkan tetapi dirasakan.

MEREKA BENAR-BENAR MEMAINKAN JAZZ

Di sebelah saya, Revi Arifin Pasau yang ikut menyaksikan pertunjukan itu, berbisik pelan, “Luar biasa… ini beda. Mereka benar-benar memainkan jazz.”

Dan saya setuju.

Setelah pembuka yang memukau, mereka membawa penonton menyusuri lorong waktu, deretan lagu jazz era 80-an mengalun hangat, menghidupkan nostalgia, bahkan bagi yang mungkin baru pertama kali mendengarnya. Malam terasa semakin larut, namun tak satu pun beranjak. Semua seperti enggan memutus aliran musik yang mengikat suasana.

DIA YANG MENCURI PERHATIAN SAYA

Namun dari semua yang terjadi malam itu, satu sosok benar-benar mencuri perhatian saya: Rehan Munif Bachmid.

Di usianya yang masih muda, ia tampil dengan kedewasaan musikal yang jarang ditemui. Bukan hanya tekniknya yang matang, tetapi juga rasa yang ia tuangkan dalam setiap nada.

Diketahui, saat ini ia tengah menempuh pendidikan di salah satu sekolah musik di Yogyakarta. Tak hanya belajar, ia bahkan telah memiliki band sendiri yang rutin tampil di berbagai hotel di kota pelajar itu.

Dan yang paling mengejutkan, Rehan telah menguasai 23 alat musik. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, tetapi cerminan dedikasi dan kecintaan yang mendalam terhadap musik.

Malam di Cafe Auk itu, akhirnya bukan hanya tentang pertunjukan jazz. Malam itu menjadi pengingat bahwa bakat, ketika dipadukan dengan kerja keras dan ruang yang tepat, akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar.

Dan kadang, keajaiban itu datang dari tempat yang paling sederhana, seperti sebuah kafe di sudut Kota Palu, pada Jumat malam yang tak direncanakan. (*)

(Editor: Ruslan Sangadji)