TIDAK BANYAK kepala daerah yang berdiri di hadapan ribuan wisudawan Universitas Trisakti, menyampaikan pidato di momen yang bukan hanya seremonial, tetapi sarat makna sejarah dan harapan. Bahkan bisa jadi, Anwar Hafid, Gubernur Sulawesi Tengah, adalah satu-satunya kepala daerah yang mendapatkan kesempatan itu.

Hari itu, Selasa, 5 Mei 2026, di Jakarta Convention Center, suasana wisuda terasa lebih dari sekadar perayaan kelulusan. Di antara barisan toga dan wajah-wajah penuh harap, Anwar Hafid hadir mula-mula sebagai seorang ayah, mendampingi putrinya yang diwisuda. Namun, tak lama kemudian, ia berdiri sebagai seorang pemimpin daerah, menyuarakan pesan yang melampaui ruang keluarga, menjangkau masa depan bangsa.

Kesempatan berbicara itu bukan tanpa alasan. Komitmennya terhadap pendidikan, terutama di Sulawesi Tengah, menjadi alasan Universitas Trisakti memberinya ruang di podium. Dan Anwar tidak menyia-nyiakannya.

Dengan suara tenang namun tegas, ia mengajak para wisudawan melihat kembali makna gelar yang baru saja mereka sandang. Baginya, gelar sarjana bukan sekadar simbol pencapaian, bukan pula kebanggaan yang berhenti pada nama kampus atau angka IPK.

“Gelar itu adalah kontrak sosial antara kalian dengan kemanusiaan,” ucapnya, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan.

Kalimat itu seperti mengetuk kesadaran. Bahwa di balik ijazah yang akan dibingkai rapi, ada tanggung jawab yang jauh lebih besar, kepada mereka yang tak pernah duduk di bangku kuliah, kepada mereka yang menunggu perubahan.

KEBANGGAAN SEJATI ITU PADA DAMPAK

Anwar Hafid tidak berhenti di situ. Ia mengingatkan bahwa kebanggaan sejati bukan pada almamater, tetapi pada dampak.

“Berbanggalah jika kalian menjadi alasan seseorang kembali bahagia, kembali sembuh, atau sebuah kebijakan menjadi lebih adil,” katanya.

Di tengah gegap gempita wisuda, pesan itu terasa membumi. Ia seolah menarik para lulusan keluar dari euforia sesaat, mengarahkan pandangan mereka pada realitas yang menunggu di luar gedung megah itu.

Bagi mantan Bupati Morowali dua periode tersebut, waktu tempuh kuliah bukanlah ukuran. Dunia, katanya, tidak akan bertanya berapa lama seseorang menyelesaikan pendidikan. Dunia hanya akan menagih apa yang telah diberikan.

TRISAKTI: SIMBOL PERJUANGAN REFORMASI

Pidato alumni doktoral STPDN itu kemudian berkelindan dengan sejarah panjang Trisakti, kampus yang tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga menjadi simbol perjuangan reformasi. Di titik itu, Anwar Hafid seakan menyatukan masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas.

Ia tidak hanya melihat para wisudawan sebagai lulusan, tetapi sebagai harapan yang sedang tumbuh.

“Saya melihat masa depan Indonesia yang sedang mekar,” ujarnya.

Dan di penghujung pidato, kalimatnya terdengar seperti penegasan sekaligus harapan: bahwa di tanah yang pernah melahirkan para pahlawan reformasi, generasi baru tengah ditempa—menjadi kuat, tahan uji, dan siap menjawab zaman.

Di hari itu, Anwar Hafid datang sebagai seorang ayah. Namun ia pulang sebagai suara yang mengingatkan bahwa pendidikan, pada akhirnya, bukan tentang gelar, melainkan tentang keberanian untuk memberi arti. (*)

(Ruslan Sangadji)