POIN PENTING BERITA

  1. Jenazah mantan Wali Kota Ternate, Burhan Abdurrahman atau Haji Bur, dipulangkan ke Ternate pada 12 Mei 2026 setelah lima tahun dimakamkan di Makassar.
  2. Kondisi jenazah Haji Bur masih utuh meskipun telah dimakamkan lima tahun lalu di Makassar.
  3. Wali Kota M. Tauhid Soleman mengenang almarhum sebagai sosok pemimpin teliti, ahli keuangan, dan dekat dengan masyarakat.
  4. Warisan penting Haji Bur adalah program Bari Fola, gerakan gotong royong yang telah membangun ratusan rumah bagi warga kurang mampu di Ternate dan Tidore.

TERNATE, KAIDAH.ID – Suasana Kota Ternate pada Selasa, 12 Mei 2026 pagi tampak teduh, saat iring-iringan kendaraan yang membawa jenazah mantan Wali Kota, Burhan Abdurahman atau yang akrab disapa Haji Bur, memasuki wilayah kota. Kepulangan jenazah disambut haru oleh warga yang telah menunggu di sepanjang jalan.

Warga berdiri di tepi jalan, sebagian menundukkan kepala ketika ambulans melintas, sementara lainnya mengabadikan momen tersebut dengan telepon genggam. Prosesi ini menjadi lebih dari sekadar pemakaman, melainkan penghormatan terakhir bagi sosok pemimpin yang dikenal dekat dengan masyarakat.

Haji Bur memimpin Kota Ternate selama dua periode, yakni 2010-2015 dan 2016-2021. Ia wafat pada 4 Juli 2021 di Makassar, dan dimakamkan di pemakaman khusus Covid-19 di Makassar. Setelah lima tahun, jenazahnya dipulangkan ke kampung halaman untuk dimakamkan kembali di Pekuburan Islam Kota Ternate.

JENAZAH HAJI BUR MASIH UTUH

Pemulangan jenazah ini menjadi perhatian masyarakat, terutama terkait kondisi jenazah yang masih utuh saat proses pemindahan. Hal tersebut memunculkan berbagai respons di tengah warga.

Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, menanggapi hal itu secara reflektif. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai kekuasaan Tuhan sekaligus menjadi pelajaran bagi masyarakat.

“Itulah yang menjadi kekuasaan Allah. Saya kira menjadi ibrah bagi kita semua, untuk selalu menanamkan kebaikan sehingga husnul khatimah ketika dipanggil kembali ke hadirat Sang Pencipta,” ujarnya.

Tauhid juga mengenang almarhum, sebagai sosok pemimpin yang memiliki keahlian kuat di bidang keuangan daerah. Ia mengaku banyak belajar langsung dari Haji Bur, terutama dalam pengelolaan fiskal dan tata kelola pemerintahan.

Menurutnya, almarhum dikenal sebagai pemimpin yang teliti, disiplin, serta memiliki etos kerja tinggi. Selain itu, ia juga dikenal dekat dengan masyarakat tanpa sekat protokoler yang berlebihan.

Prosesi pemakaman berlangsung siang hari dan dihadiri ribuan warga. Jalanan menuju lokasi pemakaman, dipenuhi pelayat yang turut mengantar hingga tempat peristirahatan terakhir.

WARISAN PROGRAM BARI FOLA

Selain dikenang sebagai pemimpin daerah, Haji Bur juga meninggalkan jejak sosial melalui Program Bari Fola, sebuah gerakan gotong royong membangun rumah layak huni bagi warga kurang mampu di Ternate dan Tidore.

Bari Fola berasal dari bahasa Tidore, yakni Bari yang berarti gotong royong dan Fola yang berarti rumah. Program ini telah berjalan sejak 2008 dan didanai secara swadaya oleh masyarakat melalui Ikatan Keluarga Tidore (IKT), tanpa menggunakan anggaran pemerintah.

Salah satu penerima manfaat program ini adalah Murni Amal (52), warga Kelurahan Kulaba, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate. Ia yang telah menjadi janda selama lebih 20 tahun, sebelumnya tinggal di rumah tidak layak huni bersama keluarganya.

Melalui program Bari Fola, rumah Murni dibangun kembali menjadi rumah permanen dengan dua kamar tidur dan fasilitas listrik. Proses pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh puluhan anggota IKT dan warga sekitar, dan selesai hanya dalam waktu lima hari.

“Saya tidak bisa berkata-kata. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih,” kata Murni saat menerima kunci rumah barunya di saat itu.

Program Bari Fola juga didukung oleh gerakan sosial Calamoi atau Gerakan Seribu Rupiah dari anggota, yang menjadi sumber pendanaan utama. Dalam perjalanannya, gerakan ini berkembang dengan partisipasi masyarakat luas, bahkan hingga donatur yang menyumbang dalam jumlah besar.

Selain itu, program ini juga pernah mendapat dukungan dari Kementerian Sosial melalui dana CSR, untuk pembangunan ratusan rumah bagi masyarakat kurang mampu di Maluku Utara.

Melalui Bari Fola, Haji Bur berupaya memastikan tidak ada lagi warga yang tinggal di rumah tidak layak huni. Semangat gotong royong, yang dihidupkan kembali melalui program ini, menjadi salah satu warisan sosial yang terus dikenang masyarakat.

Kepulangan jenazah Burhan Abdurahman ke Ternate, menjadi penutup perjalanan panjang seorang pemimpin yang telah banyak berkontribusi bagi daerahnya. Meski telah wafat lima tahun lalu, namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat, tidak hanya sebagai pejabat, tetapi juga sebagai penggerak kepedulian sosial. (*)

(Ruslan Sangadji)