Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID

PIALA DUNIA 2026 berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun bagi warga Ternate, Maluku Utara, pesta sepak bola terbesar di dunia itu seolah sedang digelar di kota mereka sendiri.

Di berbagai sudut kota, bendera negara-negara peserta berkibar. Dari gang-gang kecil, jalan utama, hingga kawasan pemukiman, warna-warni bendera menghiasi pemandangan sehari-hari. Suasana semakin semarak ketika warga mulai berkumpul membahas peluang juara, susunan pemain, hingga adu prediksi skor.

Di Kelurahan Dufa-Dufa, misalnya, bendera negara peserta Piala Dunia dipasang berjejer. Ada Argentina, Brasil, Inggris, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lainnya. Jalanan berubah menjadi lorong Piala Dunia yang membuat siapa pun yang melintas merasakan atmosfer turnamen.

Namun jika ditanya negara mana yang paling banyak didukung, jawabannya hampir pasti hanya dua: Brasil dan Argentina.

Brasil memiliki basis pendukung yang sangat besar di Ternate. Dukungan itu bahkan melahirkan berbagai candaan khas warga. Salah satu meme yang ramai beredar memperlihatkan seluruh Kota Ternate dipenuhi bendera Brasil, mulai dari laut, perkampungan, hingga lereng Gunung Gamalama. Di dalamnya tertulis kalimat sederhana yang mengundang senyum, “Kami Satu Kota Ternate Fens Brasil.”

Suasana Piala Dunia 2026 di Kota Ternate | Foto: ist

Tetapi bukan berarti pendukung Argentina tidak punya tempat. Bukan juga berarti Jerman tak ada di hati warga Ternate.

Di Ternate, pendukung Argentina tersebar di berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak, hingga emak-emak (bibi-bibi) yang berjualan di pasar. Mereka punya sebutan khas untuk tim kesayangannya: “Argen.”

Tak jarang, obrolan di pasar pun berubah menjadi perdebatan seru antara pendukung Brasil dan Argen. Siapa yang lebih hebat, siapa yang lebih banyak juara, hingga siapa yang akan melangkah lebih jauh di Piala Dunia selalu menjadi topik yang tak pernah habis dibahas.

Rivalitas Brasil dan Argentina di Ternate bukan sekadar soal sepak bola. Tetapi sudah menjadi bagian dari budaya menonton yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sementara itu, Belanda juga memiliki penggemar, meski jumlahnya tidak sebanyak dua raksasa Amerika Selatan tersebut. Situasinya berbeda dengan Ambon yang secara historis dikenal memiliki kedekatan emosional lebih kuat dengan sepak bola Belanda, sehingga pendukung Oranje relatif lebih banyak ditemukan di sana.

Di Ternate, panggung utama tetap milik Brasil dan Argentina.

Seperti Piala Dunia-Piala Dunia sebelumnya, ada tradisi yang selalu muncul ketika turnamen berlangsung. Pendukung tim yang kalah harus siap menerima “hukuman” dari teman-temannya. Bentuknya beragam, tetapi yang paling terkenal adalah melompat ke laut.

Sebaliknya, ketika tim jagoan menang, para pendukung akan turun ke jalan melakukan konvoi. Mereka membawa bendera negara yang didukung, membunyikan klakson kendaraan, dan merayakan kemenangan bersama-sama.

Bagi orang luar, tradisi itu mungkin terlihat berlebihan. Namun bagi warga Ternate, sepak bola memang bukan sekadar pertandingan. Sepak bola adalah identitas, hiburan, kebanggaan, sekaligus perekat sosial.

Kecintaan itu tumbuh karena Ternate memiliki hubungan yang panjang dengan sepak bola. Kota ini menjadi rumah bagi klub kebanggaan Maluku Utara yang bermarkas di Stadion Gelora Kie Raha. Stadion yang berdiri dengan latar Gunung Gamalama itu telah melahirkan begitu banyak kenangan bagi pencinta sepak bola di wilayah timur Indonesia.

Karena itu, ketika Piala Dunia datang, Ternate selalu ikut berpesta.

Ribuan kilometer jarak yang memisahkan mereka dari Amerika, Kanada, dan Meksiko seolah tak berarti apa-apa. Di kota rempah yang dikelilingi laut ini, Piala Dunia hidup di jalanan, di pasar, di warung kopi, dan di hati warganya.

Dan selama sebulan penuh, Ternate terasa bukan sekadar penonton. Ternate seperti salah satu tuan rumah Piala Dunia itu sendiri. Begitulah gegap gempita Piala Dunia 2026 di Ternate. (*)