PALU, KAIDAH.ID – Dunia jurnalistik Sulawesi Tengah kembali berduka. Jurnalis senior, fotografer, sekaligus Ahli Pers Dewan Pers, Basri Marzuki, meninggal dunia pada Jumat, 19 Juni 2026, sekitar jam 00.35 WITA di RSUD Anutapura Palu.

Basri Marzuki, yang akrab disapa BMZ di kalangan wartawan, menghembuskan napas terakhir setelah mengalami gangguan jantung. Sebelum dirawat di rumah sakit, almarhum sempat menjalankan tugas jurnalistiknya meliput kondisi pascabencana gempa di Kabupaten Sigi pada Kamis, 18 Juni 2026 siang.

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah, Moh. Iqbal, mengatakan almarhum pingsan saat melakukan peliputan di lokasi bencana. Saat itu, BMZ ditemani istrinya  selama bertugas.

“Beliau pingsan saat melakukan liputan pascabencana di Sigi dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Setelah mendapatkan perawatan, beliau akhirnya berpulang,” kata Iqbal.

Kepergian Basri Marzuki meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar pers di Sulawesi Tengah maupun Indonesia. Selain dikenal sebagai wartawan yang berdedikasi tinggi, BMZ juga merupakan sosok yang konsisten menjaga profesionalisme dan integritas jurnalistik selama puluhan tahun berkarier.

Perjalanan jurnalistik Basri Marzuki dimulai dari Harian Mercusuar. Berbekal ketekunan dan kecintaannya terhadap dunia pers, ia kemudian bergabung dengan Radar Sulteng (sekarang Radar Palu}. Di media tersebut, namanya semakin dikenal sebagai jurnalis lapangan yang tangguh dan memiliki kepekaan tinggi terhadap berbagai isu ekonomi, sosial dan kemanusiaan.

Tidak hanya piawai dalam menulis berita, BMZ juga dikenal sebagai fotografer andal. Banyak karya fotonya menghiasi berbagai media nasional maupun internasional. Kemampuan fotografi yang dimilikinya kemudian mengantarkannya menjadi fotografer LKBN Antara yang bertugas di Palu.

Di organisasi profesi, almarhum aktif memperjuangkan kemerdekaan pers dan peningkatan kualitas jurnalisme. Ia pernah menjadi pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu dan juga dipercaya memimpin Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu.

Dedikasi dan pengalamannya di dunia pers membuat Dewan Pers menunjuknya sebagai Ahli Pers. Selain itu, ia juga pernah mengemban amanah sebagai Pemimpin Redaksi Kaidah.ID.

Bagi rekan-rekannya, Basri Marzuki bukan hanya seorang wartawan senior, tetapi juga guru, sahabat, dan sumber inspirasi bagi banyak jurnalis muda. Sosoknya dikenal sederhana, rendah hati, serta tidak pernah lelah berbagi ilmu dan pengalaman kepada generasi penerus.

Basri Marzuki meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia jurnalistik Sulawesi Tengah.

Selamat jalan, BMZ. Jejak karya, dedikasi, dan pengabdianmu untuk pers Indonesia akan selalu dikenang. Allah Subhanahu wata’ala mengampuni segala dosamu, melapangkan kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. (*)