Oleh : Salihudin / Warga Palu
PAGI INI saya kembali diajak istri ikut Subuh Berkah. Sebenarnya ini bukan kali pertama. Hampir rutin saya mengantar dia ke kantor gubernur, untuk mengikuti kegiatan yang sudah menjadi agenda Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Tetapi subuh kali ini terasa lain. Ada sesuatu yang bergerak lebih dalam dari sekadar langkah kaki menuju tempat salat. Ada getaran halus di dada.
Mungkin semacam “seismologi jiwa”; ilmu tentang guncangan batin yang tidak tercatat oleh alat, tetapi sangat terasa oleh iman.
Jam tiga dini hari kami sudah bersiap dari rumah. Mata masih berat. Tubuh juga belum sepenuhnya pulih setelah perjalanan dari Palolo, ikut mengantar bantuan untuk saudara-saudara kita yang terdampak gempa. Tetapi ada panggilan yang membuat kantuk menjadi melek. Ada kewajiban yang membuat lelah menjadi pulih.
Subuh memang begitu. Tiap hari datang ketika dunia masih separuh tidur, tetapi justru di situlah manusia diuji, apakah ia bergerak karena ketaatan dan kepasrahan atau masih ditahan oleh selimut.
Subuh Berkah ini memang kegiatan institusi. Ada arahan atasan. Ada jadwal. Ada tempat yang ditentukan. Secara sederhana, orang bisa saja berkata, salat subuh berjamaah bisa dilakukan di masjid dekat rumah. Betul. Tidak salah sama sekali. Tetapi manusia tidak hidup hanya sebagai pribadi. Ia juga bagian dari keluarga, masyarakat, dan institusi.
Maka, selama perintah itu mengarah kepada kebaikan, tidak ada salahnya kita ikut. Bahkan di situlah indahnya. Kita taat kepada Allah, sekaligus tertib sebagai bagian dari organisasi.
Tetapi setelah gempa magnitudo 6,7 beberapa hari lalu, perasaan di subuh ini seperti berubah. Bukan lagi sekadar ibadah rutin. Tapi seperti ruang hening untuk kembali melakukan refleksi diri. Gempa adalah tanda dan bahasa yang keras. Bahwa manusia kecil, hanya Allah yang maha besar.
Rumah yang kita kira kokoh bisa retak. Tanah yang kita injak setiap hari bisa bergerak. Rencana yang disusun rapi bisa berubah dalam hitungan detik.
Di saat gempa, kesombongan manusia runtuh lebih dahulu sebelum bangunan runtuh. Kita yang sering merasa paling tahu, paling kuat, paling mengatur, tiba-tiba sadar bahwa tubuh ini rapuh. Bahkan untuk berdiri tenang saja, kita butuh bumi yang diam. Bila bumi bergerak sedikit saja, kita panik. Di situlah iman kembali menemukan tempatnya.
Subuh Berkah pagi ini menjadi semacam mitigasi bencana spiritual. Mungkin selama ini banyak kita lupa. Lupa diri dan terutama lupa Tuhan. Karena itu subuh berkah ini menjadi tools gempa rohani. Rohani kita perlu juga seismologi. Fungsinya untuk mengetahui intensitas getaran iman. Jika getaran iman semakin kuat maka apa pun terasa ringan. Dalam bekerja, membantu, melayani, dan menjalani hari. Sebab doa tidak boleh berhenti di sajadah tapi harus bergerak menjadi empati. Menjadi bantuan. Menjadi kepedulian. Menjadi tangan yang mengangkat beban orang lain.
Mungkin itulah makna berkah subuh yang paling dalam. Bukan hanya karena kita datang lebih pagi dari matahari. Tetapi karena kita datang membawa kesadaran baru. Bahwa hidup ini titipan, jabatan titipan, tenaga titipan, bahkan waktu subuh yang masih bisa kita hirup juga titipan. Ada waktunya kembali kepada zat yang menciptakan. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan