Dan ada lagu-lagu lama, yang membuktikan bahwa musik punya cara sendiri untuk mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berjalan bersama

ADA pertemuan yang membawa kita pulang pada kenangan. Itulah yang terjadi ketika Ote Abadi dan Abdi Slank kembali bertemu. Keduanya dipertemukan dalam sebuah acara keluarga Andi Mulhanan Tombolotutu di kediamannya di Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026 pagi hingga sore.

Hari itu, musik menjadi jembatan masa lalu. Abdi mengambil gitar. Ote Abadi diberikan mic. Keduanya sambil duduk di sofa mulai menyanyikan “Cinta Terlarang”. Icung ikut mengiringinya dengan piano.

Lagu itu bukan lagu biasa bagi keduanya. “Cinta Terlarang” diciptakan pada 1990. Ote Abadi menciptakan sekaligus menyanyikannya. Sementara Abdi mengisi musik dan gitar dalam rekaman lagu tersebut.

Bagi Abdi, album itu juga punya arti khusus. Di situlah untuk pertama kalinya ia menjalani rekaman sebagai musisi profesional. Jauh sebelum namanya dikenal luas sebagai gitaris Slank.

“Saya menciptakan dan menyanyikan lagu Cinta Terlarang. Abdi yang mengisi musik dan gitarnya,” kata Ote Abadi, mengenang masa itu.

Abdi pun mengingatnya. “Di album inilah saya mulai rekaman sebagai profesional, sebagai seorang musisi,” katanya.

Matahari makin meninggi. Abdi kemudian pamit pulang lebih dulu. Namun, musik belum berhenti.

Ote Abadi kembali mengambil panggung. Ia melanjutkan dengan sejumlah lagu ciptaannya.

Di antaranya “Topegugu”. Kemudian “Junju Ri Peti”.

Lagu terakhir itu juga menyimpan cerita lain. Lagu tersebut pernah dinyanyikan Ote Abadi bersama Andi Mulhanan Tombolotutu.

Pagi itu, bukan sekadar pertemuan dua musisi. Ada masa lalu yang kembali dimainkan. Persahabatan yang kembali dikenang. Kekeluargaan yang kembali terikat.

Dan ada lagu-lagu lama, yang membuktikan bahwa musik punya cara sendiri untuk mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berjalan bersama.

“Cinta Terlarang” pun kembali terdengar.

Setelah lebih dari tiga dekade, kenangan itu masih hidup. (*)

(Ruslan Sangadji)