Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID

Dari aktivis muda di Palu. Dari forum-forum diskusi HMI. Dari buku dan gagasan. Dari dunia jurnalistik. Hingga akhirnya menjadi seorang filantropis.

Namanya Iqbal Setyarso. Saya menyebutnya Mas Iqbal. Kadang Kanda, Kadang Kak Iqbal dan kadang pula Bang Iqbal. Ia lahir di Madura, Jawa Timur.

Mas Iqbal Setyarso adalah alumni HMI Cabang Palu. Saya mengenalnya sebagai seorang yang tumbuh dari tradisi diskusi. Dari satu forum ke forum lain. Dari satu buku ke buku berikutnya.

Semasa kuliah di Universitas Tadulako Palu, hidupnya seperti tak jauh dari diskusi dan buku.

Bersama mendiang M. Ichsan Loulembah. Bersama para senior HMI. Bersama kawan-kawan yang menjadikan buku dan perdebatan gagasan sebagai bagian dari kehidupan.

Dari tradisi itulah mereka kemudian mendapat julukan unik: “Kumpulan manusia lepra.”

Bukan karena penyakit. Tetapi karena mereka dianggap “menularkan” tradisi intelektual kepada banyak orang.

Iqbal adalah salah satunya. Kepada saya dia bilang sangat mengidolakan M. Ichsan Loulembah (Allahuyarham), dan Arianto Sangadji.

Bagi Iqbal, Kak Ichan dan Kak Anto (begitu kami meyebut nama dua orang itu) bukan sekadar senior. Keduanya adalah guru. Penunjuk jalan. Tempat bertanya.

Aktivitas Iqbal di Jakarta pun hampir tak bisa dilepaskan dari pengaruh Kak Ichan.

Dari Palu, ia kemudian menapaki dunia jurnalistik di Jakarta. Kak Ichan Loulembah menyarankannya agar melamar di Majalah Panji Masyarakat.

Saat itulah ia melamar dan resmi bekerja sebagai jurnalis di Majalah Panji Masyarakat pada 1997–2001.

Ia kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummah di Jakarta. Saya ketika itu menjadi redaktur pelaksana.

Dari dunia jurnalistik, Iqbal terus berjalan.

Ia menulis.

Ia membaca.

Ia berdiskusi.

Dan ia melahirkan banyak buku.

Di antaranya Pemberdayaan Tak Pernah Berhenti: Catatan dan Refleksi Dompet Dhuafa (2025).

Ada pula Sang Perajut Perlawanan Sosial (2025). Ia menjadi penulis dan penyunting.

Dan Teknologi Sosial di Era Disrupsi.

Masih ada sejumlah karya lainnya.

Namun Iqbal Setyarso tidak berhenti pada kata-kata. Ia memilih jalan pengabdian.Ia masuk lebih jauh ke dunia kemanusiaan.

Ia pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jakarta. Bahkan pernah dipercaya sebagai Vice President ACT.

Belakangan, ia aktif di Indonesia Care. Dunia filantropi menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Menggalang bantuan. Menghubungkan orang-orang yang ingin berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Mendorong pemberdayaan masyarakat.

Ia tidak sekadar mengumpulkan bantuan. Ia ingin bantuan itu menjadi jalan, agar orang lain bisa berdiri sendiri.

Di situlah saya melihat perjalanan panjang Iqbal Setyarso. Dari aktivis muda di Palu. Dari forum-forum diskusi HMI. Dari buku dan gagasan. Dari dunia jurnalistik. Hingga akhirnya menjadi seorang filantropis.

Ia menghabiskan bagian penting dari hidupnya untuk orang lain.

Kini putra kelahiran Madura itu telah pergi. Tetapi jejaknya tidak ikut pergi.
Ada buku-buku yang ditinggalkan.
Ada gagasan yang terus hidup.
Ada orang-orang yang pernah ia bantu.
Ada gerakan kemanusiaan yang pernah ia kuatkan.

Dan ada tradisi intelektual yang pernah ia teruskan dari Palu hingga Jakarta. Barangkali memang begitulah seharusnya seorang manusia pergi.

Tubuhnya meninggalkan dunia.
Tetapi kebaikannya tetap tinggal.
Iqbal Setyarso telah pergi.

Seorang filantropis telah pergi.
Namun kebaikan yang ia tanam, semoga terus tumbuh.

Hari ini, Selasa, 18 Agustus 2026, saya menerima kabar ia berpulang ke Rahmatullah di Rumah Sakit Hermina Depok, Jawa Barat. Selamat jalan Mas Iqbal.
Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. Innalillahi wainna ilaihi raji’un (*)