Tauhid se ma’arifat ge i mura uwa
I sinyemo aku uwa ma dehe bato
Tamsil haka sonyinga la sigiha nga nyinga
Tamsil ena nee i siade-ade
Tada ngau ni sigise ka ni gugise
Fela lako la ni mina ka ni momina

ADA SUARA yang tidak sekadar berbunyi. Suara itu mengetuk, mengingatkan, dan membangunkan hati yang mulai lalai. Bagi orang Ternate, suara itu bernama Dalil Tifa.

Dalil Tifa bukan hanya rangkaian kata. Itu adalah warisan. Jejak kebijaksanaan para leluhur. Sebuah nasihat yang lahir dari perenungan panjang. Disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Namun maknanya melampaui zaman.

Tauhid se ma’arifat ge i mura uwa – Tauhid dan makrifat tidak pernah mudah.
Jalan menuju dan merasakan keberadaan Tuhan pada diri setiap orang, bukan jalan yang pendek. Bukan sekadar pengetahuan, tetapi sebuah perjalanan batin. Perjalanan yang menuntut kesungguhan. Perjalanan yang meminta kerendahan hati.

I sinyemo aku uwa ma dehe bato – Tidak semua rahasia dapat diungkapkan.
Tidak semua hikmah dapat dijelaskan hingga tuntas. Ada pengetahuan, yang hanya akan terbuka bagi mereka yang mau mencari. Bukan bagi mereka yang sekadar ingin tahu.

Tamsil haka sonyinga la sigiha nga nyinga – Karena itu, simpanlah petuah di dalam hati. Jangan hanya didengar. Jangan hanya diucapkan. Jadikan ia cahaya yang menerangi langkah.

Tamsil ena nee i siade-ade – Setiap tamsil adalah ibarat. Setiap ibarat menyimpan makna.
Orang bijak tidak berhenti pada bunyi kata. Orang bijak menyelami isi di baliknya.

Tada ngau ni sigise ka ni gugise – Pasang telingamu. Dengarkan dengan sungguh-sungguh.
Sebab kebenaran memang sering datang tanpa suara yang keras.

Fela lako la ni mina ka ni momina – Bukalah matamu. Lihatlah dengan mata hati.
Sebab tidak semua yang tampak adalah kenyataan. Dan tidak semua yang tersembunyi berarti tidak ada.

Itulah Dalil Tifa. Namanya diambil dari tifa. Beduk yang dipukul di masjid dan langgar. Bunyinya memanggil manusia untuk mengingat Allah. Mengajak kembali kepada shalat. Mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Bahwa hidup tidak selamanya.

Karena itu, Dalil Tifa tidak hanya berbicara tentang kehidupan. Dalil tifa juga berbicara tentang asal manusia. Tentang datangnya kematian. Tentang perjalanan setelah dunia berakhir.

Orang-orang tua di Ternate menjadikannya pegangan hidup. Mereka tidak sekadar mewariskan kata-kata. Mereka mewariskan cara memandang kehidupan. Dengan rendah hati. Dengan iman. Dengan kebijaksanaan.

Di zaman yang penuh kebisingan, Dalil Tifa mengajarkan satu hal yang sederhana.

Dengarkan lebih dalam. Lihatlah lebih jernih. Simpan nasihat di dalam hati.

Sebab manusia yang paling bijaksana bukanlah yang paling banyak berbicara. Melainkan yang paling mampu mendengar suara kebenaran sebelum ajal mengetuk pintunya.

Tauhid se ma’arifat ge i mura uwa
I sinyemo aku uwa ma dehe bato
Tamsil haka sonyinga la sigiha nga nyinga
Tamsil ena nee i siade-ade
Tada ngau ni sigise ka ni gugise
Fela lako la ni mina ka ni momina. (*)

(Ruslan Sangadji)