Oleh : Salihudin / Warga Kota Palu, Domisili di Kelurahan Palupi
SIANG HARI INI rumah terasa sepi seperti biasa. Istriku baru keluar membeli obat. Dia tidak ke kantor karena hari libur Tahun Baru Hijriah. Saya masih di tempat tidur, mencoba menagih sisa istirahat yang belum lunas sejak semalam. Badan masih terasa capek setelah empat hari dari Morowali. Sekitar pukul 10 malam tadi baru tiba di Palu.
Perjalanan pulang saya mulai dari Bahodopi, sebuah kecamatan yang kini begitu terkenal karena menjadi rumah bagi kawasan IMIP. Di sanalah 52 perusahaan berskala global bergerak dalam berbagai produk, terutama nikel, baja, dan turunannya. Tentang IMIP, saya sudah menulis tiga rangkaian tulisan. Dan rasanya masih banyak yang perlu dilanjutkan.
Namun siang ini, cerita saya bukan tentang industri besar itu. Cerita ini dimulai dari tempat tidur.
Tiba-tiba, antara sadar dan tidak, tubuh saya terasa bergoyang. Detik pertama saya masih acuh. Mungkin karena lelah. Tetapi goyangan itu makin kuat. Saya segera bangkit. Hanya bersarung, saya keluar kamar dan langsung membuka pintu.
Pada saat yang hampir bersamaan, istriku datang. Ia memarkir motor sambil berteriak, “Kak Saleh, gempa!”
“Iya,” jawabku, berusaha tetap tenang.
Saya mengambil HP. Grup-grup WhatsApp mulai ramai. Informasi berseliweran. Ada kabar kerusakan bangunan di Kota Palu dan Sigi: sebuah kafe atau rumah makan di Jalan Tanjung Manimbaya, Kantor Bupati Sigi, Jembatan Palu 3, Hotel Best Western, sebuah spa, hingga jalan ambles di daerah Sigi. Semua datang cepat. Sebagian membuat cemas.
Di rumah, beberapa pot bunga kecil terpental. Airnya membasahi meja. Beberapa botol minuman bersoda jatuh ke lantai. Bersamaan dengan itu, listrik padam. Wi-Fi ikut mati. HP otomatis berpindah ke data seluler yang sangat lambat, mungkin karena tower-tower terdekat juga terdampak listrik padam.
Saya berusaha menenangkan istri. Jangan panik. Tarik napas. Tetap waspada. Sebab gempa susulan masih terus terasa, bahkan sampai catatan ini saya tulis.
Beberapa saat kemudian, informasi dari BMKG menyebut gempa berkekuatan magnitudo 6,7, kedalaman 10 kilometer, tidak berpotensi tsunami. Pusat gempa sekitar 42 kilometer Tenggara dari Palu, di wilayah dekat dengan Sausu Kabupaten Parigi Moutong, pukul 10.27 Wita. Kali ini, katanya, bukan dari Sesar Palu-Koro, tetapi dari Sesar Sausu.
Saya tertegun. Kemarin saat magrib, dalam perjalanan pulang, saya sempat singgah salat di masjid Desa Sausu Torono. Malam itu, banyak jamaah membawa penganan untuk memperingati malam 1 Suro.
Rupanya hari ini, 1 Muharram 1448 Hijriah, datang dengan cara yang tidak biasa. Barangkali ini salah satu cara Allah mengetuk kesadaran kita. Bahwa hidup tidak selalu tegak seperti bangunan. Kadang ia bergoyang, retak, bahkan runtuh sedikit, agar kita ingat untuk memperbaiki diri.
Hijrah bukan hanya pindah tempat. Hijrah juga keberanian untuk meninggalkan kelalaian, mengurangi dosa, merapikan hati, dan kembali menjadi manusia yang lebih rendah hati.
Gempa ini mengguncang tanah. Tetapi semoga yang paling terguncang adalah kesadaran kita. (*)
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan