Oleh: Salihudin (Penulis Buku ” Menata Kota, Menyusun Harapan : Kisah Inspiratif dari Palu”)

“Jalan ini sangat macet. Dari kosan saya bisa 2,5 jam naik motor. Jarak kosku tidak sampe 10 kilo”, kata Ema (23) seorang pekerja di Kawasan IMIP yang menjadi tour guide saya malam itu. Dia menjelaskan ramainya pekerja menggunakan jalan yang hanya sekitar 4 meter itu pada pagi saat berangkat dan sore pulang kerja.

Berjalan di sekitar IMIP hari ini memang seperti melihat sebuah kampung yang dipaksa tumbuh menjadi kota dalam waktu singkat. Hanya 17 tahun dihitung dari masuknya Tsingshan Group tahun 2009 sampai hari ini.

Awalnya desa Bahodopi. Tapi sekarang sudah tumbuh menjadi kota dengan kompleksitas masalahnya. Bahodopi bukan kota yang tumbuh pelan-pelan dengan perencanaan matang, tetapi kota yang berlari karena dikejar kebutuhan industri, pekerja, kendaraan, uang, dan harapan hidup yang datang bersamaan.


Dulu, kawasan sekitar Bahodopi, Bahomakmur dan pesisir Morowali tidak seramai sekarang. Kehidupan bergerak dalam irama yang lebih tenang. Orang masih mengenal jalan, rumah, kebun, laut, dan wajah tetangganya dengan baik.

Tetapi setelah IMIP membesar, ruang itu berubah cepat. Jalan dipenuhi truk, bus karyawan, motor pekerja, mobil logistik, dan kendaraan kecil yang berebut ruang. Di kiri kanan jalan muncul bangunan semi permanen seperti warung, kos-kosan, bengkel, kios, laundry, rumah makan, konter HP, dan tempat usaha kecil lainnya.

Inilah fenomena boomtown. Sebuah wilayah yang tiba-tiba ramai karena ada pusat ekonomi besar. Dalam kasus Bahodopi dan sekitarnya di Morowali, pemicunya adalah industri nikel dan hilirisasi. IMIP bukan lagi sekadar kawasan pabrik. Tapi sudah menjadi magnet ekonomi.

Hingga akhir 2025, nilai investasi IMIP disebut mencapai sekitar Rp696,91 triliun, dengan 52 perusahaan beroperasi dan tenaga kerja Indonesia sekitar 89.849 orang per Januari 2026. Angka sebesar ini tentu membawa getaran yang sangat kuat ke wilayah sekitarnya.

Dampaknya langsung terasa. Tanah yang dulu biasa saja menjadi mahal. Rumah yang dulu hanya tempat tinggal berubah menjadi kos-kosan. Halaman rumah bisa menjadi warung. Jalan kecil menjadi jalur ekonomi. Bahkan teras rumah pun bisa menjadi tempat jualan.


Boomtown selalu membawa dua wajah. Wajah pertama adalah peluang. Banyak orang mendapatkan penghasilan baru. Ada yang menyewakan kamar. Ada yang membuka warung. Ada yang menjadi sopir. Ada yang membuka jasa cuci pakaian. Ada pula yang menjadi pemasok kebutuhan harian pekerja.

Wajah kedua adalah tekanan. Karena pertumbuhan datang terlalu cepat, infrastruktur sering tidak siap. Jalan cepat rusak. Misalnya jalan utama Bahodopi hari ini penuh lubang. Sampah bertambah. Air bersih makin dicari. Permukiman padat. Harga-harga naik. Ruang hidup masyarakat lokal berubah.


Bahodopi dan sekitarnya dengan IMIP hari ini bukan hanya cerita industri. Tapi juga cerita tentang kampung yang sedang belajar menjadi kota. Masalahnya, kota yang baik tidak cukup hanya ramai. Tapi juga harus tertata dan manusiawi. Kota juga harus memberi tempat bagi warga lama dan pendatang baru.

Sebab kalau tidak, kawasan sekitar IMIP itu hanya akan menjadi Unplanned City. Kota yang hidup, sibuk, penuh uang, tetapi rapuh di dalam karena tidak direncanakan secara sistematis.

Bersambung…

Editor: Ruslan Sangadji